Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Pelajaran Seni Perang dari Prabowo Subianto dalam Menyikapi Konflik Indonesia-Cina di Natuna

Ahmad Risani oleh Ahmad Risani
6 Januari 2020
A A
Pelajaran Seni Perang dari Prabowo Subianto dalam Menyikapi Konflik Indonesia-Cina di Natuna
Share on FacebookShare on Twitter

“Soal Natuna kita cool saja, Cina itu negara sahabat.”

Itu bukan media yang bilang, tapi pemerintah. Melalui Menhan, Prabowo Subianto. Lebih kurang begitu pesannya.

Apa yang diucapkan oleh seorang menteri, saya kira sudah terkoordinasi dengan presiden. Tak mudah bagi Prabowo untuk mengambil sikap sendiri, tanpa persetujuan presiden. Apalagi doi terbilang orang baru di kabinet ini. Meskipun kedekatan Prabowo dengan PDI-P dan Ibu Mega bukan hal baru. Akan tetapi dalam konteks kerjasama di kabinet, Prabowo baru. Lagipula ini koordinasi antar anggota kabinet, bukan antar ketua partai.

Dan… ucapan adalah bagian dari sikap politik. Ucapan menteri bisa juga ditafsirkan sebagai sikap politik pemerintah.

Gaya cool Prabowo memang harus dimunculkan. Pertama, agar irama permainan pemerintah RI sesuai dengan cara Pak Jokowi yang tenang dan tak mudah terprovokasi. Sangat kontras dan tidak elok dilihat kalau (misalnya) Prabowo lebih agresif-provoktif dalam masalah ini. Sementara Pak Jokowi kalem-kalem saja. Yang ada malah aneh, kan?

Kedua, gaya cool ini bukti bahwa Prabowo sudah berpengalaman mengatasi konflik yang berpotensi perang. Dari pengalamannya di dunia militer, saya kira Prabowo memang harus menunjukkan sikap berbeda dibanding para politisi lainnya. Kalau sama saja, meledak-ledak, condong amarah, justru itu bukan sikap seorang mantan Danjen Kopassus. Apa bedanya dengan netizen kardus yang berkeliaran di mana-mana itu? Dan tak usah jugalah dibanding-bandingkan dengan sikap Mahfud MD atau Susi Pudjiastuti. Mereka jelas beda kalkulasi.

Sikap ini tampaknya pengamalan filosofi perang Cina, the Art of War-nya Sun Tzu: Seni tertinggi perang adalah menaklukkan musuh tanpa pertempuran.

Sehingga, wajar kalau Prabowo cenderung defensif. Ngobrol baik-baik dengan musuh, tanpa harus perang itulah yang ingin dilakukan Prabowo. Negosiasi akan mengantarkan RI-RRC pada titik temu yang menguntungkan keduanya. Apalagi Cina adalah salah satu mitra strategis pemerintah RI saat ini. Kalau bisa diselesaikan dengan ngobrol kenapa mesti ribut-ribut? Berunding dengan Cina juga membuat sumber daya militer tidak terkuras.

Baca Juga:

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Minyak Gosok sampai Obat Kuat, Ini 5 Obat Cina yang Wajib Ada di Rumah Saya

Tidak ada contoh dari negara-negara yang memperoleh manfaat dari perang berkepanjangan—begitulah dalam the Art of War.

Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul the 3rd Alternative, memberikan pandangan serupa soal ini. Menurutnya, konflik yang terjadi antar individu hingga persoalan negara, haruslah dimulai dari keinginan antar pihak untuk saling mendengarkan. Lebih lanjut, sikap ini akan menjelma saling bekerja-sama agar sama-sama mendapatkan keuntungan. Kata Covey, bekerjasama untuk saling mendapatkan untung adalah level tertinggi dari dialog.

Selama ini, dalam penyelesaian konflik kita terjebak dalam dua level resolusi. Pertama, win-lose solution. Di mana salah satu pihak menang, pihak lain kalah. Kedua, win-win solution. Di mana setiap pihak “merasa” mendapatkan hasil terbaik dari hasil perundingan. Tapi sayangnya, bantah Covey dalam tafsiran pribadi saya, win-win solution hanyalah kamuflase dari lose-lose solution, sebab kedua belah pihak terpaksa mengalah satu sama lain agar tidak terjadi konflik berkepanjangan.

Itulah kenapa? alternatif ketiga harus dimunculkan. Yaitu ketika kedua belah pihak tak hanya merasa menang atau mengalah demi perdamaian. Tapi dapat mengambil “keuntungan lebih” dari penyelesaian konflik antar keduanya. Toh, bukankah RI dan Cina sudah lama bekerjasama demi keuntungan satu sama lain? Kenapa tidak diterapkan juga untuk masalah Natuna? Perkara keuntungannya apa saja, yah coba tanya mereka, kan mereka yang sudah berpengalaman kerjasama dengan Negeri Tirai Bambu itu?

Ketiga, publik memang harus dididik oleh pemimpinnya. Salah satunya dengan bijak dalam merespons konflik dengan negara lain. Mantan Capres 2014 dan 2019 ini sepertinya ingin menakar public mood agar riak-riak tak menjadi gelombang yang kontraproduktif. Berisik-berisik di medsos memang tak bisa dihindarkan, tapi setidaknya ia ingin memberi contoh, “Begini lho cara merespon konflik.”

Di era masyarakat digital ini, salah satu keterampilan yang harus diperhatikan oleh netizen ialah contingency management skills, salah satunya cara merespons suatu peristiwa. Di tengah-tengah provokasi dan konflik yang kerap terjadi selama ini, harusnya skill ini diajarkannya di sekolah-sekolah dan pendidikan informal.

Bukankah konflik horizontal yang kerap terjadi selama ini lebih banyak digiring oleh kesalahan kita dalam merespons? Renungkan lagi! Itu semua karena kita gampang diprovokasi! Drama, drama, drama!

Nah, di sinilah saya lihat pentingnya para pemimpin negara menunjukkan sikap yang bijak dan logis dalam merespons konflik. Agar masyarakat bisa mencontoh. Bukan malah memprovokasi publik macam buzzer politik bayaran itu.

Keempat, sikap “melembut” ala Prabowo ini bisa saja hanyalah sebuah ilusi di tengah kabut. Sebagaimana Sun Tzu mengatakan, biarkan rencana Anda menjadi gelap dan tak tertembus seperti malam. Dan ketika Anda bergerak, jatuh seperti petir.

Mem-blur-kan strategi adalah bagian dari seni tempur yang lazim diterapkan. Dengan bersikap “nggak jelas” begini, musuh akan kesulitan menakar “mental imagery” dari pemerintah RI dan segenap masyarakat Indonesia yang ia wakili. Beragam noise yang terjadi di pinggiran tak bisa dijadikan patokan untuk melihat bagaimana Indonesia bersikap. Ini membuat Cina akhirnya lebih berhati-hati kalau mau cari gara-gara.

Jadi, begini, Netizen. Kita tak perlulah mencak-mencak dalam merespons konflik Natuna ini. Marah boleh. Tapi kelola dengan bijak kemarahan itu. Tetap logis. Santuy. Bukankah kita dikenal sebagai warganegara yang santuy? Biarkan para buzzer kecapekan ngomporin kita.

Kritik boleh. Tapi lihatlah dari worldview yang lebih luas. Sebab, politik yang yang kita lihat ini, kadangkala lebih banyak terlihat di satu sudut, lalu melupakan sudut lain dan kedalaman permukaannya.

Terakhir, secanggih apa pun strategi perang Prabowo, tak lebih hebat dari strategi-nya Jokowi. Toh, Jokowi sudah menang dua kali melawan Prabowo, kok.

BACA JUGA Sengketa Natuna dan Alasan Prabowo dan Luhut Bersikap Lunak atau tulisan Ahmad Risani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2020 oleh

Tags: cinaluhutNatunaPrabowo
Ahmad Risani

Ahmad Risani

Ingin disebut sebagai Intelektual Pinggiran saja.

ArtikelTerkait

Menyoal Kritik Sujiwo Tejo Terhadap para Menteri Laki-Laki

Menyoal Kritik Sujiwo Tejo terhadap Para Menteri Laki-Laki

6 Januari 2020
Suka Duka Jadi Istri Pria Keturunan Tionghoa, Pernah Dikira Baby Sitter Anak Sendiri terminal mojok.co

5 Suku Tionghoa Terbesar di Indonesia: Sekilas Sejarah dan Budaya

13 Mei 2020
jon snow dan permainan tahta

Jon Snow dan Sosok Mendiang Gus Dur: Tak Perlu Mati-Matian Mempertahankan Tahta

16 Mei 2019
Mas Gibran, Please Ngomong dong, biar Nggak Dikira Kosong!

Mas Gibran, Please Ngomong dong, biar Nggak Dikira Kosong!

27 November 2023
pak prabowo

Pak Prabowo, Katakan pada Pak Jokowi Bahwa Saya Sudah Siap Bersama Rakyat untuk Mendukung dan Mengontrol Kepemimpinan Bapak

30 Juni 2019
jokowi dan prabowo

Pesan Tersirat Pertemuan Jokowi dan Prabowo dan Nasib Para Pendukungnya

15 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.