Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan

Patah Hati Bersama Makoto Shinkai dan Haruki Murakami

Akhyat Sulkhan oleh Akhyat Sulkhan
1 Mei 2020
A A
makoto shinkai dan haruki murakami

Patah Hati Bersama Makoto Shinkai dan Haruki Murakami

Share on FacebookShare on Twitter

Patah hati gara-gara tidak bisa bersama orang yang kamu sayangi, barangkali adalah tema yang mainstream untuk kategori film atau novel. Bahkan menemukan kisah fiksi tentang kegagalan hubungan sepasang manusia, di toko buku dan jajaran film bioskop, sama mudahnya seperti menemukan warung makan burjo serta angkringan di Yogyakarta. Saking banyaknya, film atau novel bertema semacam itu rasanya cuma punya satu tujuan saja: yakni membikin basah kita dengan banjir air mata.

Nah, tapi di antara sekian banyak cerita fiksi yang mengulik soal kegalauan patah hati, rasanya kita perlu menaruh hormat kepada Makoto Shinkai dan Haruki Murakami. Yang pertama untuk kategori film dan yang terakhir untuk kategori novel.

Mungkin banyak dari kalian yang sudah menonton 5 Centimeters Per Second, Your Name, Weathering with You, atau membaca Norwegian Wood dan Tsukuru Tazaki Tanpa Warna. Kalau belum, saya sarankan Anda—terutama yang pernah mengalami sakitnya patah hati—untuk mulai menonton film-film Makoto Shinkai itu dan membaca beberapa novelnya Haruki Murakami. Yah, minimal, seumur hidup sekali. 

Saya mulai bersinggungan dengan karyanya Makoto Shinkai saat masih SMK. Waktu itu, karyanya yang pertama saya tonton adalah 5 Centimeters Per Second. Direkomendasikan oleh salah seorang senior. Kebetulan saat itu saya memang lagi patah hati dan ia bilang kalau nonton film ini patah hati saya bakalan sembuh. Okelah, saya pun manut saja. Tapi setelah menontonnya, bukan malah sembuh, saya justru semakin merasa kehidupan ini hampa belaka.

5 Centimeters bercerita mengenai hubungan LDR antara Takaki Tono dan Akari Shinohara. Menonton film ini saat patah hati betul-betul indah sekaligus getir. Dengan visual yang setara film-film Studio Ghibli, scoring yang makin memperkuat kesan dramatiknya, dan dialog-dialog yang meruahkan semacam keputusasaan tanpa terdengar berlebihan, film ini sukses membuat saya menangis. Apa lagi bila mendengar lagu one more time, one more chance, yang memungkasi part ketiganya. Duh, sakit…

Setelahnya, saya pun menonton film-fim Makoto Shinkai yang lain. The Place Promised In Our Early Days, Children Who Chase Lost Voices, Your Name. Dari semua film itu, Makoto Shinkai terbukti mampu menghadirkan nuansa getir atas rasa kehilangan orang tersayang atau cinta yang tak sempat tersampaikan ke dalam film-filmnya. Dan, di saat bersamaan, ia pun membuat kaum patah hati dapat menikmati kesedihan-kesedihan yang mereka alami.

Formula yang nyaris serupa saya temukan dalam novel-novelnya Murakami, yang belakangan baru saya baca ketika sudah kuliah. Norwegian Wood menghadirkan seorang cowok bernama Toru Watanabe dan kisah cintanya yang rumit dengan Naoko Ishida, pacar mendiang temannya. Dalam novel ini, Murakami menghadirkan Naoko sebagai tokoh yang enggak bisa lepas dari masa lalu. Istilah waktu dapat menyembuhkan setiap luka nyatanya enggak berlaku buat dia.

Setelah kematian pacarnya, Naoko betul-betul terpuruk—tentu saja, sebagaimana karya sastra pada umumnya, Murakami menggambarkan keterpurukan Naoko dengan penuh metafora dan kalau kalian bukan pembaca novel militan pasti bakal cepat bosan. Kehadiran Watanabe sang tokoh utama bahkan belum mampu mengisi gerowong dalam hati perempuan itu. Alhasil, sepanjang cerita kita akan disuguhi upaya Watanabe untuk mendukung Naoko agar lekas pulih, sementara Naoko justru menyerahkan dirinya bulat-bulat pada keputusasaan.

Baca Juga:

Mendengarkan Lirik Narsistik Sheila on 7 Adalah Cara Terbaik Menghibur Diri Setelah Berkali-kali Ditolak Cinta

3 Ruas Jalan Jogja yang Sebaiknya Dihindari Warga yang Dilanda Patah Hati

Menurut saya, baik Makoto Shinkai maupun Murakami, pada titik ini bukan hanya mampu membuat kita menikmati derita patah hati. Mereka juga membantu kita memaknainya, melihatnya secara lebih dalam, ibarat mengupas kulit buah.

Bagaimanapun, saat kita patah hati, kita merasa dunia seakan-akan tak berpihak pada kita, bahkan mungkin mengkhianati kita dengan membiarkan orang yang kita sayangi jatuh ke pelukan orang lain atau malah ke pangkuan malaikat maut. Sebagian dari kita mungkin sulit untuk sembuh dari luka patah hati dan itu wajar. Apa lagi kalau memang sudah tak lagi memiliki harapan. Aduh, betapa berharganya waktu-waktu bersama dia yang sudah tidak mungkin kembali dan kini hanya tinggal kenangan.

Tapi waktu terus berjalan dan kita dituntut agar bergegas bangkit, lalu menyongsong pilihan yang ada.

Makoto Shinkai, lewat film Your Name dan Weathering With You, mengajarkan pada kita agar jangan melulu terpuruk lalu meratapi hilangnya orang yang kita cintai tanpa berbuat sesuatu yang lebih, sekalipun konsekuensinya berat. Murakami, lewat tokoh Tsukuru Tazaki, ingin menyampaikan semenyedihkan apa pun masalah yang menimpa kita di masa lalu, kita harus menyelesaikannya.

Patah hati memang berat dan mungkin akan selalu membuat kita tidak utuh lagi setelah mengalaminya. Namun kita masih bisa memilih untuk tetap menjalani hidup sembari berusaha sembuh, meskipun tertatih dan barangkali akan selalu merasa kesepian.

Sumber Gambar: Makoto Shinkai Wiki

BACA JUGA Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja atau tulisan Akhyat Sulkhan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2021 oleh

Tags: Haruki Murakamimakoto shinkaiPatah Hati
Akhyat Sulkhan

Akhyat Sulkhan

ArtikelTerkait

Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja

Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja

7 Januari 2020
Lirik Lagu Narsis Sheila on 7 Perisai Terbaik dari Patah Hati (sheilaon7.com)

Mendengarkan Lirik Narsistik Sheila on 7 Adalah Cara Terbaik Menghibur Diri Setelah Berkali-kali Ditolak Cinta

22 Maret 2026
sendu

Globalisasi dan Millenials Penyebab Kebangkitan Kedua Bait-Bait Sendu Didi Kempot

22 Agustus 2019
patah hati

Pentingnya Patah Hati dalam Hidup Ini

4 Mei 2019
Rekomendasi Lagu Sedih yang Bikin Nangis biar Patah Hati Kamu Makin Khusyu terminal mojok.co

Rekomendasi Lagu Sedih yang Bikin Nangis biar Patah Hati Kamu Makin Khusyu

14 Maret 2020
Buku 'Semesta Murakami' Adalah Kitab Penting untuk Penulis terminal mojok.co

Buku ‘Semesta Murakami’ Adalah Kitab Penting untuk Penulis

23 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Pernah Menyetir Mobil Adalah Red Flag Sesungguhnya di Jalan Raya Mojok.co

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Paham Logika Nyetir Mobil Lebih Red Flag di Jalan Raya

14 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.