Paradoks Ajang Pop Academy, Indosiar kok Nggak Ada Kemajuan, sih! – Terminal Mojok

Paradoks Ajang Pop Academy, Indosiar kok Nggak Ada Kemajuan, sih!

Artikel

Dian Rijal Asyrof

Mari sejenak kita lupakan Indonesian Idol yang sudah sering dibahas dan fenomenal itu. Sekarang kita beralih ke acara tetangga yang sama-sama ajang pencarian bakat di bidang tarik suara, Pop Academy.

Pop Academy adalah ajang pencarian bakat di Indosiar yang tayang sejak 5 Oktober 2020 dengan tagline keren yaitu, “Be Pop Academy and Be A Super Stars”. Di acara ini ada 40 peserta yang akan beradu untuk menjadi juara.

Menurut saya, acara tersebut adalah sebuah progres Indosiar. Saya yakin kamu juga tahu stasiun televisi yang satu ini identik dengan serial azab dan dangdutnya. Sejak 2014, Indosiar menayangkan program dangdut yang membuat namanya melejit, D’Academy Indonesia dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Lebih lanjut, selain menambah warna di Indosiar, Pop Academy juga menjadi wadah baru bagi orang-orang yang berbakat di bidang musik genre pop. Saya menonton dari tahap audisi sampai sekarang, pesertanya dari berbagai daerah di Indonesia dan semuanya bagus karena mempunyai karakternya masing-masing.

Namun, sangat disayangkan, di satu sisi saya melihat suatu paradoks. Alih-alih menjadi progres, kemasan Pop Academy sama seperti acara-acara pendahulunya. Hal itu yang membuatnya stagnan sekaligus membosankan. Hal apa saja itu? Saya akan coba membahasnya di bawah ini.

#1 Rundown acara

Di atas sudah saya katakan kemasan acara ini sama dengan pendahulunya. Sekali tayang, Pop Academy membutuhkan waktu selama 3 jam. Mulai jam sembilan malam sampai tengah malam, jam dua belas. Memang tidak ada yang salah dengan durasinya, acara lain pun sama.

Namun yang membuat saya kesal adalah dalam satu episodenya peserta yang tampil cuma lima! Iya lima, karena dibagi menjadi beberapa grup. Sebenarnya pembagian itu juga tidak salah.

Lantas apa yang salah? Selama tiga jam itu, saya menonton lima peserta yang membawakan lagu kurang lebih 3-5 menit lalu dilanjut komentar para juri. Selebihnya saya menonton lawakan, sesi basa-basi dan tak ketinggalan pula sesi tangis-menangis.

Bagi orang-orang seperti saya yang cepat bosan, ketika peserta selesai menunjukkan suara merdunya, pasti akan memilih ganti channel atau pergi sebentar ke warung beli kopi.

Akan lebih efisien jika sekali tayang, Pop Academy menampilkan lebih dari lima peserta. Jujur saja, saya penasaran dengan suara peserta yang lainnya.

#2 Pembawa acara

Pembawa acara Pop Academy keroyokan! Ini sama kayak jual-beli HP dengan sistem pembayaran COD. Ditambah orangnya ya itu-itu saja. Siapa lagi kalau bukan Irfan Hakim dan Gilang Dirga? Bukan cuman mereka, ada tambahan yaitu Rizky Billar, Raffi Ahmad, dan dua orang lain yang sering disebut Duo Bujang.

Saya jadi penasaran apa yang ada di dalam kepala pembuat acara ini dengan menghadirkan banyak pembawa acara? Apakah supaya terlihat meriah? Kalau iya, memang berhasil. Namun, berlebihan.

Bukannya apa-apa, saya takut pesertanya jadi merasa tertekan. Pembawa acara ini sering bercanda dan memanas-manasi atau kata lainnya “julid”.

Selain itu, mereka juga suka mengorek-ngorek kehidupan. Biasanya masa lalu dan perjuangan peserta untuk mengikuti acara ini yang pada akhirnya mengundang air mata keluar dari sarangnya.

Tolonglah, saya sudah khatam betul dengan pertunjukan macam itu. Lagi pula, saya menonton Pop Academy agar terhibur menikmati suara pesertanya, bukan untuk menangis sesenggukan!

Kalau tujuan saya menangis, lebih baik saya menonton serial azab. Saya meneteskan air mata bukan karena merenungi kehidupan, tetapi karena jalan ceritanya yang tidak masuk akal. Selain itu bisa juga saya buka history chat WhatsApp dengan Mbak Mantan dan memandang fotonya di galeri.

 #3 Penentuan juara

Saya pikir Pop Academy akan pakai sistem berbeda dalam menentukan juaranya. Saya berpikir seperti itu karena melihat jurinya yang tidak kalah kompetan dari acara tetangga. Namun, saya salah. Pop Academy juga menggunakan sistem vote dari penonton lewat SMS.

Masalah yang satu ini sudah pernah dibahas oleh penulis lain di Mojok dan saya setuju. Para juri hanya memberikan komentar, selebihnya penonton yang menentukan. Jadi bagi peserta yang sebelumnya sudah dikenal banyak orang, mempunyai kesempatan untuk bertahan lebih lama di ajang pencarian bakat ini.

Lantas bagaimana dengan peserta yang belum dikenal atau ternyata seorang introvert? Mereka juga akan mendapat dukungan dari orang-orang kok. Sebab, mereka mewakili daerah asalnya. Semua pasti ada jalannya masing-masing, tenang saja.

Saya kira cukup sampai di sini saja. Itulah beberapa paradoksnya. Terakhir saya mau bilang, memang benar saya menonton Pop Academy, tapi saya lebih cinta Indonesian Idol. Hiya hiya hiya~

BACA JUGA Squidward Adalah Perwujudan Diri Kita dalam Perspektif Absurdism dan tulisan Dian Rijal Asyrof lainnya.

Baca Juga:  'Anak Band' Adalah Sinetron dengan Judul Paling Aneh yang Pernah Ada
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
52


Komentar

Comments are closed.