Merindukan Dangdut Academy Indosiar yang Sudah Ganti Nama Jadi Liga Dangdut Indonesia

Artikel

Aminah Sri Prabasari

Selain tayangan pagi dari Mamah Dedeh yang kemudian pindah ke stasiun TV lain, sinetron satu episode ala FTV khusus bercerita tentang mereka yang teraniaya, dan sinetron azab, Indosiar pernah punya Dangdut Academy yang fenomenal yang tayang tahun 2014-2017.

Mulai 2018 konsep acara diubah, berganti nama menjadi Liga Dangdut Indonesia yang bahkan pengisi acaranya diundang ke Istana buat ketemu Pak Jokowi dan Bu Iriana.

Bu Iriana mengaku ngefans dengan Nassar dan Soimah dan berusaha menyempatkan diri menonton setiap hari sejak acara masih bernama Dangdut Academy. Saya juga ngefans Soimah dan Nassar, tapi khusus di acara itu saja, mulai bisa memahami kenapa orang bisa sangat menikmati lagu dangdut dari kedua penyanyi yang cetar ini.

Tayang dari pukul 6 sore sampai 12 malam, capeknya kerja seharian luntur setelah bisa tertawa sambil terkantuk-kantuk saat menonton. Paket lengkap pertunjukan pencarian bakat dan reality show yang berisi drama, komedi, sekaligus gosip.

Dangdut Academy ini adalah acara lebay yang menuntut kesabaran penonton di rumah. Disarankan menonton sambil disambi makan, seterika baju, dan sebagainya supaya tak mubazir duduk di depan TV berjam-jam.

Sebelumnya sudah ada acara sejenis, mulai era AFI di Indosiar sampai acara serupa di TPI, yaitu KDI (Kontes Dangdut TPI) yang berubah nama menjadi Kontes Dangdut Indonesia yang diproduksi oleh MNC TV. Tapi Dangdut Academy-lah yang teristimewa.

Saya mencatat beberapa konten Dangdut Academy Indonesia yang sulit ditandingi acara pencarian bakat yang lain:

#1 Memberi kesempatan anak muda yang berbakat dari pelosok

Audisi Dangdut Academy benar-benar menjangkau sampai ke pelosok. Ada banyak peserta dengan bakat luar biasa yang nama daerahnya mungkin masih asing didengar.

Fildan dari Baubau menjadi juara satu di DA4, favorit saya, penyanyi panggung sekaligus pengamen yang bisa beberapa alat musik, berasal dari keluarga tak mampu dan mulai belajar dengan suling buatan sendiri dari pipa paralon. Weni Wahyuni atau lebih dikenal dengan nama Weni DA3 asal Pontianak, sebelum mencoba ikut audisi ia pernah bekerja sebagai buruh di kebun sawit. Evi DA2 yang berasal dari Masamba, Sulawesi Selatan. Sehari-hari berladang di kampung, saat diterima audisi ia bahkan harus latihan memakai sepatu hak tinggi dan berkali-kali jatuh. Lesti DA1 asal Cianjur, masih berusia 14 tahun saat menjadi juara dan memulai karier sejak umur 8 tahun menjadi penyanyi panggung untuk membantu perekonomian keluarga.

Baca Juga:  Perjalanan Saya Memecahkan Bumbu Rahasia Indomie ala Aa Burjo

Belakangan ini netizen ramai membahas privilese, bahwa kerja keras saja tak cukup.

Para pemenang Dangdut Academy ini contoh anak muda berbakat tapi tak punya akses, mereka kebetulan mendapat keberuntungan yang difasilitasi Indosiar, dan bekerja keras supaya layak diorbitkan Indosiar.

#2 Meredakan tensi politik saat Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2015

Tahun 2014 mungkin menjadi tahun terpanas di sepanjang sejarah pemilu sesudah Reformasi. Mungkin juga karena ponsel pintar dan kuota internet terjangkau, mudah mengakses medsos untuk berbagi informasi apa pun. Ada banyak istilah baru bermunculan seperti hoaks, buzzer, dan sebagainya.

Keramaian di medsos, dengan segala macam hoaks dan provokasi buzzer, Pilpres 2014 seakan menjadi pertarungan untuk masa depan. Salah satu hoaks yang dipercaya masyarakat di daerah adalah Ibu Kota menjadi genting dan mungkin akan ada kerusuhan. Saat itu hoaks terbantahkan dengan tayangan live Dangdut Academy yang ada setiap hari di Indosiar.

Peserta, juri, band pengiring, host, dan ratusan penonton di studio yang ada di Jakarta terlihat baik-baik saja bahkan masih berjoget dengan riang dari pukul 6 sore sampai tengah malam. Ingin tahu kondisi psikis masyarakat Jakarta terkini? Tonton saja live Dangdut Academy!

Saat Pilgub DKI 2015, semua cagub dan cawagub datang ke acara ini dan mendapat kesempatan beramah-tamah dengan dipandu host. Tidak membawa materi kampanye, para cagub hanya bernyanyi bahkan memainkan games.

Lagi-lagi, pertarungan sengit di medsos yang membuat emosi jiwa luntur dengan tayangan live para cagub dan cawagub yang santai. Pesta demokrasi benar-benar dimaknai sebagai pesta yang membawa kegembiraan.

#3 Mengubah stereotip musik dangdut

Saya bukan penikmat musik dangdut. Apalagi yang mendayu-dayu sambil meratap berkepanjangan, duh. Tapi setelah nonton Dangdut Academy saya jadi paham bahwa meratap saat bernyanyi itu butuh teknik tingkat tinggi. Bahkan untuk bisa meratap juga ada beragam jenis gaya.

Baca Juga:  4 Alasan Kenapa Mahasiswa Sastra Mudah Punya Pacar

Di Dangdut Academy peserta juga dituntut eksplorasi lagu. Hanya lirik saja yang tak boleh dicolek, musik bisa diaduk dengan genre apa pun. Karena itu di panggung Dangdut Academy bisa ditemukan dangdut bercampur rock, jazz, pop, bahkan musik ala jazirah Arab dan India.

Peserta benar-benar dididik dengan serius selama berbulan-bulan. Seluruh peserta yang telah lolos terseleksi di babak audisi dikarantina dan diberi pelatihan koreografi, olah vokal, perfomance, training kepribadian, dan tata busana oleh ahlinya seperti Hamdan ATT, Uncle Jo, Adibal Sahrul, Dedi Puja, dan Mislam.

Di tiap episode, peserta dengan nilai perolehan SMS terendah akan tersenggol (istilah yang eliminasi).

Karena dididik dengan keras itulah lulusan Dangdut Academy kualitasnya tak main-main, bukan mengandalkan goyangan seronok dan baju seksi seperti stereotip yang melekat pada musik dangdut selama ini.

Sayang sekali saat ini konsep acara Dangdut Academy sudah berubah. Tidak seseru sebelumnya. Liga Dangdut dengan tagline “Seni Menyatukan” memang lebih bagus di atas kertas, tapi seakan dipaksakan.

Konsep acara Liga Dangdut Indonesia lebih ruwet dan berbelit, capek menyimak tahapan penjuriannya. Apalagi juri juga diganti kemudian hijrah ke TV sebelah, juri penggantinya lebih sering garing. Tapi ya sudahlah.

Terima kasih untuk tontonan yang lebay tapi menyenangkan ini, Indosiar!

BACA JUGA Alasan Serial Animasi Nussa Nggak Cocok untuk Tayangan Anak-anak di Televisi dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.