Panduan Berpikir Pakai Otak Biar Kamu Nggak Pekok – Terminal Mojok

Panduan Berpikir Pakai Otak Biar Kamu Nggak Pekok

Featured

“When you are dead, you don’t know you are dead. It’s pain only for others. It’s the same thing when you are stupid.” Richard Feynman

Seorang teman yang beragama Buddha pernah bercerita kepada saya bahwa dosa paling besar di agamanya bukan pembunuhan atau perzinahan, tapi kebodohan. Dia bilang, ketika seseorang bodoh, dia bukan hanya menyulitkan dirinya sendiri, tapi juga menyulitkan orang lain. Apalagi misal, ketika dia sendiri tidak menyadari bahwa dia sedang menjadi bodoh.

Cerita teman saya ini saya pikir sangat relevan untuk menjelaskan keadaan kita (hah, kita?) sekarang. Sadar nggak sih gara-gara ke-pekok-an orang penting yang ngambil kebijakan di Indonesia, kita sebagai rakyat harus menanggung beban-beban tambahan seperti memikirkan masa depan negara ketika beban hidup kita pribadi saja sudah sangat memberatkan.

Bu Sitty Hikmawatty, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang bilang kalau perempuan bisa hamil ketika berenang bersama laki-laki itu hanya satu contoh kecil saja karena kenyataannya, ini bukan pertama kali orang penting ngomong pekok di Indonesia.

Makanya bodoh yang saya maksudkan di sini, bukan masalah IQ yang rendah atau tingkat Pendidikan yang tidak tinggi. Karena kebodohan nggak punya korelasi dengan itu semua. Buktinya, banyak orang pintar, bahkan sekelas doktor yang juga sering pekok.

Bodoh yang saya maksud di sini adalah kegagalan dalam melakukan proses berpikir. Mulai dari terkena bias, menyimpan prasangka, sampai yang paling ekstrem yaitu dengan sengaja melewati tahapan-tahapan berpikir yang kompleks alias nggak pakai mikir sama sekali, langsung percaya begitu saja.

Baca Juga:  Apa Benar Wibu Itu Bau Bawang?

Karena berpikir itu sulit, saya percaya kalau nggak semua sudut pandang diciptakan setara karena ada yang berangkat dari pemikiran kompleks, dan ada yang asalnya hanya dari “apa kata orang” saja.

Sayangnya, nggak semua orang suka berpikir dengan kompleks, inilah yang jadi akar permasalahan orang-orang penting yang pekok itu. Mereka antara melakukan oversimplifikasi atau merumitkan sesuatu.

Karena kita setiap hari bisa jadi berhadapan dengan ke-pekok-an orang lain, penting untuk kita mempunyai kemampuan berpikir yang baik biar kita punya penilaian yang jelas terhadap suatu masalah dan nggak ikut pekok kayak mereka.

Cara berpikir yang baik dan benar:

Proses berpikir adalah proses mencari tahu. Dari yang awalnya tidak tahu, menjadi tahu. Yang kita inginkan adalah, hal yang kita ketahui ini, sedekat mungkin dengan realita.

Nah, dalam perjalanan untuk mencari fakta ini, kita harus siap jika berhadapan dengan kenyataan yang berkebalikan dengan apa yang kita percayai sebagai kenyataan.

Misal, kita mungkin berpikir kalau bu Sitty itu pekok karena mikir berenang bisa bikin hamil, eh pas kita (((menggali))) untuk mencari tahu realita, ternyata dalam sejarah umat manusia banyak contoh orang hamil karena berenang, itu artinya, perkataannya bu Sitty ternyata sesuai dengan realita, kita yang salah. Waduh.

Nah, untuk menghindari tamparan keras seperti itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjadi humble dan jangan sotoy. Kecuali kamu expert di dalam ilmu biologi, seksologi, dst dst kita harus mengakui kita sebenarnya nggak tahu apa-apa tentang hal itu.

Baca Juga:  Jawaban dari Driver Ojol Tentang Alasan Kenapa Mereka Suka Nanya Posisi Customer

Hal kedua yang harus kita lakukan adalah bikin hipotesis. Gimana cara bikin hipotesis? Ya dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi, mengevaluasi dengan cermat dan seksama informasi-informasi itu apakah sesuai dengan fakta, lalu menyatukannya menjadi sebuah pra-pengetahuan (disebut pra-pengetahuan karena dia belum bisa jadi pengetahuan ketika belum diuji dengan menjalani verifikasi dan falsifikasi).

Oke, kita pelan-pelan saja, saya bahas satu per satu lagi.

Ketika kita memutuskan untuk mencari tahu tentang sesuatu, dan kita sejak awal memosisikan diri kita hanya tahu sedikit hal tentang hal itu, maka kita harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi yang bisa membantu kita.

Ketika saya bilang sebanyak-banyaknya, artinya banyak secara literal. Bahkan informasi yang kita yakin kita nggak sepakat kayak perkataan Bu Sitty tentang ada sperma super yang bisa bertahan lama di kolam yang penuh kaporit dan bisa masuk ke vagina tanpa harus melakukan penetrasi. Informasi aneh kayak gitu juga bentuk informasi karena dia juga bisa mengajarkan kita sesuatu (untuk jangan berpikir seperti itu).

Setelah mengumpulkan informasi, selanjutnya mengevaluasi informasi tersebut.

Untuk mayoritas orang yang tidak expert, cara kita mengetahui informasi itu valid atau tidak valid adalah dengan percaya pada orang yang sudah expert di bidangnya. Expert yang memang berbicara fakta, dan kita percaya dengan dia karena dia mendalami ilmu itu. Dalam kasus ini, seorang dokter kandungan, seksolog, atau atau saintis.

Setelah memisahkan mana yang valid dan yang tidak, kita harus menerapkan filter terakhir yaitu skeptisme. Skeptisme menjaga kita dari kecurangan berpikir seperti cherry picking (cuma percaya sama yang mendukung realitas apa yang ingin kita dengar dan menolak informasi yang berkontradiksi).

Baca Juga:  Meningkatnya Pamor Nasi Goreng Tanpa Kecap di Tangan Selebtwit

Kalau kita nggak skeptis dan langsung percaya-percaya aja, nanti kita bakal dibikin bingung sendiri saat menemukan pendapat yang berkontradiski. Baca pendapat A percaya. Terus pas baca pendapat B yang bilang pendapat A salah juga langsung percaya. Tapi jangan terlalu skeptis sampai paranoid juga. Soalnya kalau paranoid dan mencurigai semua informasi yang kita terima, nanti kita nggak akan belajar apa-apa.

Nah, setelah dapat informasi dan mengevaluasi mana yang bisa dipercaya tadi, saatnya menggabungkan pecahan informasi itu untuk bisa dapat hipotesis deh.

FYI, hipotesis ini belum bisa disebut fakta. Untuk membuktikan keabsahan hipotesis yang kita buat ini, kita harus mengujinya dengan menyampaikannya atau malah memperdebatkannya kepada orang lain agar mereka (((mempreteli))) apa saja yang salah dari hipotesis kita. Masukan atau sanggahan dari orang lain akan jadi masukan yang berharga untuk kita merevisi apa yang tidak kita tahu sebelumnya.

Setelah direvisi, baru deh kita bisa punya satu pengetahuan baru dari proses berpikir yang baik. Hadeh, panjang ya prosesnya? Bikin capek aja berpikir itu tuh.

Ya gitulah kenyataannya. Makanya nggak heran kalau banyak orang yang lebih milih jadi pekok daripada susah-susah mikir.

BACA JUGA Google yang Serba Tahu dan Kemalasan Manusia Untuk Berpikir atau tulisan Nia Lavinia lainnya. Follow Twitter Nia Lavinia.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




Komentar

Comments are closed.