Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
19 Maret 2026
A A
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Lebaran tahun lalu saya habiskan di Turki, begitu pula dengan Lebaran Idulfitri 1447 H kali ini. Karena tengah menempuh studi S2 di Turki, saya tidak bisa bermaaf-maafan secara langsung dengan keluarga di Indonesia. Jangan ditanya bagaimana rasanya, tentu homesick dan sedih. 

Akan tetapi, perasaan kalut selama puasa dan Lebaran sedikit terobati oleh kehadiran orang-orang baik. Teman hingga warga lokal Turki yang hangat membuat bulan Ramadan kali ini terasa lebih mudah dibanding dengan tahun sebelumnya. 

Iftar dan orang-orang baik

Ramadan kali ini saya habiskan dengan berbagai rencana, pengalaman, dan orang-orang baru. Bisa dibilang Ramadan tahun ini jauh lebih dinamis dan berbeda bagi saya. Dimulai dari membiasakan diri sahur dengan menu Turki (tahun lalu saya tetap sahur dengan nasi atau mi, tapi tahun ini saya mulai sahur dengan roti atau oat sebagai sumber karbohidrat) hingga sering menghadiri iftar di luar.

Berbuka puasa dengan banyak orang, yang tentunya didominasi oleh warga lokal, membuat saya merasakan beragam pengalaman baru. Memang budaya iftar di sini sangat berbeda dengan Indonesia. Setelah berbuka dengan menu utama dilanjut dengan salat Maghrib, kami akan lanjut ngeteh sambil mengobrol.

Dari berbagai iftar yang saya hadiri, saya selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Izinkan saya bercerita tentang salah dua pengalaman tak terlupakan dengan orang-orang baik ini.

Pertama, saya diundang oleh dosen saya untuk berbuka puasa di rumahnya sebanyak dua kali. Pada iftar pertama, dia sengaja membuatkan karnıyarık, makanan khas Turki yang terbuat dari terong yang di atasnya terdapat cincangan daging. Blio tahu saya suka karniyarik dan kebetulan di kantin asrama sudah nggak ada menu itu lagi. Jadi beliau membuatkan menu tersebut khusus untuk saya. 

Di iftar kedua, dosen saya ini sengaja membeli nanas supaya saya teringat pada rumah. Dia tahu bahwa nanas itu buah tropis yang umum di Indonesia. Dapat pengalaman seperti ini gimana saya nggak menangis coba? 

Selama Ramadan kali ini saya nggak bisa makan makanan khas Indonesia, padahal saya kangen masakan yang dibuat oleh ibu saya. Saya tidak bisa membuatnya di asrama karena aturan melarang keberadaan alat masak. Untuk mengobati kerinduan, paling saya cuma bisa mencampur nasi dengan bumbu nasi uduk atau nasi kuning instan dari Indonesia. Berkat orang-orang baik, salah satunya dosen saya, saya tetap bisa makan enak walau bukan makanan Indonesia. 

Baca Juga:

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Lebaran dapat THR karena saya mahasiswa internasional

Di Indonesia, saya mungkin sudah nggak bisa dapat THR atau uang saku sebanyak ketika saya masih kecil. Katanya sih karena saya sudah besar.

Akan tetapi, di Turki, selama Ramadan ini saya malah dapat THR dari warga lokal. Mereka nggak melihat saya sudah besar atau uangnya mending dikasihkan ke anak kecil. Tapi, mereka melihat status saya.

Bagi warga lokal di kota tempat saya tinggal, Elazığ, mahasiswa internasional seperti saya itu mereka anggap sebagai tamu. Warga sini memang sangat memuliakan tamu. Kalau kita berkunjung ke rumahnya, minimal kita nggak dibiarkan kelaparan. Mereka pun tahu struggle-nya menjadi mahasiswa internasional yang harus berhadapan dengan masalah ekonomi hingga budaya.

Selain itu, status saya yang mahasiswa juga mendorong mereka untuk memberikan uang saku. Bagi mereka, mahasiswa atau pelajar itu termasuk golongan fisabilillah, atau yang berjuang di jalan Allah.

Setelah memberikan uang saku kepada saya, mereka nggak menuntut apapun yang bersifat materi sebagai balasannya. Mereka cuma minta didoakan. Lagi-lagi yang kayak gini nih yang bikin saya terharu dan pengin nangis.

Budaya puasa dan Lebaran di Turki yang bikin kaget

Dua tahun memang bukan waktu yang singkat, tapi kalau ditanya apakah saya sudah terbiasa dengan budaya puasa dan Lebaran di Turki, saya akan jawab belum. Setiap hari saya selalu beradaptasi dengan hal-hal baru. Tak terkecuali pula hal-hal yang mengejutkan.

Menjelang Lebaran, biasanya masjid-masjid di Indonesia akan penuh oleh jamaah yang melakukan i’tikaf. Mereka menyemarakkan 10 hari terakhir Ramadan dengan mendirikan salat, berdoa, membaca Al-Quran, dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Namun, di Turki, di 10 hari terakhir ini, masjid penuh sesak hanya pada malam ke-27. Orang-orang di sini meyakini Lailatul Qadr turun pada malam itu.

Kemudian, Lebaran di Turki pun sama mengejutkannya. Saya sudah terbiasa dengan takbiran keliling kampung jelang lebaran dan menghadiri salat id di lapangan saat Idulfitri. Berbeda dengan Indonesia, di Turki nggak ada takbiran keliling kampung. Takbir hanya dikumandangkan di dalam masjid, itu pun tanpa pengeras suara.

Perempuan tidak salat id

Soal salat id tidak kalah mengejutkan. Di Turki, salat id dilakukan di masjid. Dan, tahukah kamu apa yang paling mengejutkan bagi saya? Hanya laki-laki yang salat id!

Saya bercerita kepada salah satu teman Turki saya bahwa kemungkinan besar saya dan salah satu teman dari Indonesia akan pergi ke masjid besar di kota saya untuk menghadiri salat id. Dia mengatakan bahwa seumur-umur ia baru melihat seorang perempuan pengin salat id. Katanya, saat Idulfitri, perempuan akan tinggal di rumah dan mempersiapkan makanan untuk menjamu tamu.

Pantas saja tahun lalu ketika saya ke masjid besar untuk salat id, hanya ada belasan perempuan yang ikut mendirikan salat id. Itu pun kami harus menghindari tatapan jamaah laki-laki yang melihat kami dengan aneh. Selain itu, kebanyakan masjid di kawasan pemukiman penduduk nggak memberi izin bagi jamaah perempuan yang pengin salat id. Ini berdasarkan pengalaman teman sekamar saya yang berencana salat di masjid dekat asrama kami.

Sudah dua kali saya menghabiskan bulan puasa dan Lebaran di Turki, tapi saya tidak kunjung terbiasa dengan suasananya. Kadang, itu bikin homesick dan kangen keluarga di Indonesia. Untung saja semua terobati dengan kehadiran orang-orang baik dan hangat. Di mana pun kita menjalani puasa dan merayakan hari raya, semoga rahmat dan berkah dari Allah tetap tercurah untuk kita semua. 

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2026 oleh

Tags: homesickIndonesiaLebaranMahasiswaperantauS2turki
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

11 Maret 2026
Sisi Gelap Kuliah di Unesa, Kampus Elite tapi Fasilitas Sulit

Sisi Gelap Kuliah di Unesa, Kampus Elite tapi Fasilitas Sulit

20 Oktober 2025
Gonoharjo Kendal, Tempat Sempurna buat Mahasiswa Semarang Raya yang Sengsara Hidup di Kota

Gonoharjo Kendal, Tempat Sempurna buat Mahasiswa Semarang Raya yang Sengsara Hidup di Kota

2 April 2025
Angkot Malang yang Bikin Perantau Bingung Mojok.co

Angkot Malang yang Bikin Perantau Newbie Bingung

14 Januari 2024
5 Sisi Negatif Mengikuti Banyak Organisasi Kampus terminal mojok

5 Sisi Negatif Mengikuti Banyak Organisasi Kampus

30 Juni 2021
lebaran Khong Guan

Cerita Hari Raya, Dari Khong Guan Hingga Pelaminan

3 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.