Lingkar pertemanan saya sedikit, tapi karena ikut semacam komunitas, saya biasa bertemu beberapa orang random. Belakangan yang datang ke komunitas saya ini banyak orang Pekalongan yang kebetulan pulang dari perantauan. Dan kamu tahu, orang Pekalongan yang pulang merantau itu sering kali nyebelin.
Bukan karena tingkahnya, tapi kebanyakan perantauan yang pulang ke Pekalongan selalu mengeluarkan komentar, pernyataan, atau apalah itu namanya yang menurut saya, itu-itu saja alias sama. Saya sampai hafal komentar-komentar itu yang justru sering kali, terdengar nyebelin di telinga.
Nggak ada teman
Komentar ini cukup sering saya dengar. Bahkan saya bisa menjamin, meski tidak 100%, setiap kali ada orang baru yang datang ke suatu komunitas, dan dia orang Pekalongan tapi tidak hidup di sini, orang itu akan bilang “pengin dapet teman dari sini.” Lalu orang itu akan bercerita bahwa dia sudah lama nggak tinggal di Pekalongan jadi nggak punya teman.
Menurut saya, ini agak sukar dipercaya. Orang ini kan dulunya tinggal di Pekalongan ya, masa sih nggak punya teman di tempat kelahirannya sendiri? Apakah dulu waktu lahir, dia terisolasi oleh dunia luar? Teralienasi gitu di sebuah ruangan yang digembok lalu kuncinya dibuang ke Kali Loji?
Perantau yang sering bilang kayak gini tuh lucunya pernah hidup cukup lama sebetulnya di Pekalongan. Paling tidak selama sekolah. Masa nggak ada teman SD yang bisa dihubungi gitu? Tetangga deh, masa nggak punya tetangga? Kalau bilang sulit menjalin pertemanan, lah, dia kan perantau yak?!
Seorang perantau biasanya, nih biasanya ya, sependek pengetahuan saya, bisa menjalin pertemanan dengan mudah. Beberapa teman saya yang merantau, sekalipun kelihatan introvert bisa menjalin banyak pertemanan.
Mestinya dia bisa mendapat teman dari perantauan, dan mestinya mudah untuk menghubungi teman lama yang masih tinggal di Pekalongan. Kalau bilangnya nggak punya teman, mungkin malas saja buat menghubungi teman lamanya di sini. Atau ya, mungkin punya kisah buruk, pacarnya direbut temannya kali?
Bingung mau ke mana-mana
Bayangkan, seseorang yang baru pulang merantau terus tiba-tiba bilang, “Aku tuh udah lama nggak di Pekalongan, jadi bingung mau ke mana-mana.”
Yaelah, Bro, ente kan orang asli Pekalongan, masa sih bingung mau ke mana-mana? Kan gini ya, ketika seorang perantau pulang pasti bertemu keluarga. Nggak mungkin dong ketika pulang, membuka pintu rumah, yang nyambut Messi?
Mestinya kan bisa nanya ke keluarga. Bapak kek, ibu kek, kakak kek, atau siapa lah yang menyambut ente di rumah. Lagian Pekalongan nggak seluas itu. Luas Kota Pekalongan hanya 45,25 kilometer persegi. Kecil banget kan? Peluang seseorang nyasar di kota ini tuh tipis. Paling cuma nyasar-nyasar dikit, nggak yang sampai seharian.
Lagi pula nih, situ kan punya hape. Kenapa nggak situ pakai buat nyari tempat-tempat yang pengin situ datengin? Misalnya pengin Museum Batik, ya tinggal searching saja di mesin pencari. Beres. Tempat wisata, tempat nongkrong, kafe, sampai lokalisasi semuanya bisa dicari di Google. Gimana, mau ke Bending Sari?
Pekalongan terlalu agamis
Berikutnya ini juga sering keluar dari mulut perantau yang sok-sokan nggak kenal Pekalongan. Katanya, Pekalongan itu terlalu agamis. Ealah, nda.. ndaa… Lha emang sejak dulu to kalau kota ini agamis? Pekalongan itu walau dikenal Kota Batik sejatinya ya layak juga disebut Kota Kyai. Di sini kyai berceceran. Saking banyaknya setiap gang itu ada kyainya. Lebih dari satu malah.
Makanya masjid yang rada melarat nggak perlu tuh memanggil gus-gusan dari Jawa Timur untuk mengisi pengajian. Tinggal rawuh saja ke rumah kyai di gang masjid itu. Atau kalau mau sedikit keren ya cari yang sudah kondang di Pekalongan. Masjid di kampung saya itu sering ngundang namanya Kyai Yaskur Mastur. Cukup beken beliau. Ini intermezzo aja. Hehehe.
Oke, balik lagi ke soal komentar “Pekalongan terlalu agamis” yang keluar dari mulut perantau. Ini mereka seolah-olah baru ngenyuk tanah Pekalongan. Padahal kan mereka lahir di Pekalongan dan setidaknya, mengalami tradisi-tradisi yang bernuansa Islami.
Wong belum lahir aja, ada mitoni atau orang sini nyebutnya tingkeban. Ketika sudah lahir ada udik-udikan. Setelah jalan tujuh bulan dan mulai belajar menapak tanah, ada yang namanya dundunan atau mungkin lebih familiar dengan sebutan “tedak siten”. Masa informasi kayak gini lupa sih?
Pekalongan kok nggak ada gebrakan?
Tapi ya dari sekian komentar tadi, menurut saya ini yang paling ngeselin. Ngeselin kuadrat. Lha gimana, seseorang yang semula berasal dari Pekalongan, merantau, terus pulang, dan di sebuah forum, entah obrolan kecil atau diskusi dengan dus-dusan roti, sering bilang, “Pekalongan kok nggak ada gebrakan?” Walah, Buosss!
Yang paling menjengkelkan, pernyataan kayak gitu sering muncul dari orang-orang yang punya label budayawan, aktivis, pengacara, dosen, rektor, sampai pembesar. Lihat! Sebagian dari mereka kaum intelektuil yang bahkan lebih memilih melarikan diri dari kota yang menurut mereka, nggak ada gebrakan itu.
Maksud saya, kalian saja milih keluar dari Pekalongan yang jelas-jelas kota ini sulit bagi siapa pun untuk berkembang, kecuali anak juragan batik, eh kok seenak jidat bilang “Pekalongan nggak ada gebrakan.” Bagaimana bisa ada gebrakan kalau orang-orang pintar, mereka yang punya pengaruh dan akses justru merantau?
Kalau pengin Pekalongan ada gebrakan, ya pulanglah ke sini. Manfaatkan ilmu yang sudah didapat dari luar untuk membangun Kota Pekalongan. Tidak usah yang besar-besar, dari akar rumput aja dulu. Pelan tapi pasti. Gimana?
Hah? Ogah karena gaji di Pekalongan dikit? Sudah tahu gaji orang Pekalongan dikit, kok situ yang merantau tiba-tiba nuntut macam-macam. Hambok mikir! Lagian gimana mau ada gebrakan kalau yang jadi Wali Kota komplotan itu-itu lagi, hadeh!
Penulis: Muhammad Arsyad
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















