Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
9 Januari 2026
A A
Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku (Nararya Danuwijaya via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Lingkar pertemanan saya sedikit, tapi karena ikut semacam komunitas, saya biasa bertemu beberapa orang random. Belakangan yang datang ke komunitas saya ini banyak orang Pekalongan yang kebetulan pulang dari perantauan. Dan kamu tahu, orang Pekalongan yang pulang merantau itu sering kali nyebelin.

Bukan karena tingkahnya, tapi kebanyakan perantauan yang pulang ke Pekalongan selalu mengeluarkan komentar, pernyataan, atau apalah itu namanya yang menurut saya, itu-itu saja alias sama. Saya sampai hafal komentar-komentar itu yang justru sering kali, terdengar nyebelin di telinga.

Nggak ada teman

Komentar ini cukup sering saya dengar. Bahkan saya bisa menjamin, meski tidak 100%, setiap kali ada orang baru yang datang ke suatu komunitas, dan dia orang Pekalongan tapi tidak hidup di sini, orang itu akan bilang “pengin dapet teman dari sini.” Lalu orang itu akan bercerita bahwa dia sudah lama nggak tinggal di Pekalongan jadi nggak punya teman.

Menurut saya, ini agak sukar dipercaya. Orang ini kan dulunya tinggal di Pekalongan ya, masa sih nggak punya teman di tempat kelahirannya sendiri? Apakah dulu waktu lahir, dia terisolasi oleh dunia luar? Teralienasi gitu di sebuah ruangan yang digembok lalu kuncinya dibuang ke Kali Loji?

Perantau yang sering bilang kayak gini tuh lucunya pernah hidup cukup lama sebetulnya di Pekalongan. Paling tidak selama sekolah. Masa nggak ada teman SD yang bisa dihubungi gitu? Tetangga deh, masa nggak punya tetangga? Kalau bilang sulit menjalin pertemanan, lah, dia kan perantau yak?!

Seorang perantau biasanya, nih biasanya ya, sependek pengetahuan saya, bisa menjalin pertemanan dengan mudah. Beberapa teman saya yang merantau, sekalipun kelihatan introvert bisa menjalin banyak pertemanan.

Mestinya dia bisa mendapat teman dari perantauan, dan mestinya mudah untuk menghubungi teman lama yang masih tinggal di Pekalongan. Kalau bilangnya nggak punya teman, mungkin malas saja buat menghubungi teman lamanya di sini. Atau ya, mungkin punya kisah buruk, pacarnya direbut temannya kali?

Bingung mau ke mana-mana

Bayangkan, seseorang yang baru pulang merantau terus tiba-tiba bilang, “Aku tuh udah lama nggak di Pekalongan, jadi bingung mau ke mana-mana.”

Baca Juga:

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Pindang Tetel: Makanan Khas Pekalongan yang Nggak Masuk Akal tapi Wajib Dijajal

Yaelah, Bro, ente kan orang asli Pekalongan, masa sih bingung mau ke mana-mana? Kan gini ya, ketika seorang perantau pulang pasti bertemu keluarga. Nggak mungkin dong ketika pulang, membuka pintu rumah, yang nyambut Messi?

Mestinya kan bisa nanya ke keluarga. Bapak kek, ibu kek, kakak kek, atau siapa lah yang menyambut ente di rumah. Lagian Pekalongan nggak seluas itu. Luas Kota Pekalongan hanya 45,25 kilometer persegi. Kecil banget kan? Peluang seseorang nyasar di kota ini tuh tipis. Paling cuma nyasar-nyasar dikit, nggak yang sampai seharian.

Lagi pula nih, situ kan punya hape. Kenapa nggak situ pakai buat nyari tempat-tempat yang pengin situ datengin? Misalnya pengin Museum Batik, ya tinggal searching saja di mesin pencari. Beres. Tempat wisata, tempat nongkrong, kafe, sampai lokalisasi semuanya bisa dicari di Google. Gimana, mau ke Bending Sari?

Pekalongan terlalu agamis

Berikutnya ini juga sering keluar dari mulut perantau yang sok-sokan nggak kenal Pekalongan. Katanya, Pekalongan itu terlalu agamis. Ealah, nda.. ndaa… Lha emang sejak dulu to kalau kota ini agamis? Pekalongan itu walau dikenal Kota Batik sejatinya ya layak juga disebut Kota Kyai. Di sini kyai berceceran. Saking banyaknya setiap gang itu ada kyainya. Lebih dari satu malah.

Makanya masjid yang rada melarat nggak perlu tuh memanggil gus-gusan dari Jawa Timur untuk mengisi pengajian. Tinggal rawuh saja ke rumah kyai di gang masjid itu. Atau kalau mau sedikit keren ya cari yang sudah kondang di Pekalongan. Masjid di kampung saya itu sering ngundang namanya Kyai Yaskur Mastur. Cukup beken beliau. Ini intermezzo aja. Hehehe. 

Oke, balik lagi ke soal komentar “Pekalongan terlalu agamis” yang keluar dari mulut perantau. Ini mereka seolah-olah baru ngenyuk tanah Pekalongan. Padahal kan mereka lahir di Pekalongan dan setidaknya, mengalami tradisi-tradisi yang bernuansa Islami.

Wong belum lahir aja, ada mitoni atau orang sini nyebutnya tingkeban. Ketika sudah lahir ada udik-udikan. Setelah jalan tujuh bulan dan mulai belajar menapak tanah, ada yang namanya dundunan atau mungkin lebih familiar dengan sebutan “tedak siten”. Masa informasi kayak gini lupa sih?

Pekalongan kok nggak ada gebrakan?

Tapi ya dari sekian komentar tadi, menurut saya ini yang paling ngeselin. Ngeselin kuadrat. Lha gimana, seseorang yang semula berasal dari Pekalongan, merantau, terus pulang, dan di sebuah forum, entah obrolan kecil atau diskusi dengan dus-dusan roti, sering bilang, “Pekalongan kok nggak ada gebrakan?” Walah, Buosss!

Yang paling menjengkelkan, pernyataan kayak gitu sering muncul dari orang-orang yang punya label budayawan, aktivis, pengacara, dosen, rektor, sampai pembesar. Lihat! Sebagian dari mereka kaum intelektuil yang bahkan lebih memilih melarikan diri dari kota yang menurut mereka, nggak ada gebrakan itu.

Maksud saya, kalian saja milih keluar dari Pekalongan yang jelas-jelas kota ini sulit bagi siapa pun untuk berkembang, kecuali anak juragan batik, eh kok seenak jidat bilang “Pekalongan nggak ada gebrakan.” Bagaimana bisa ada gebrakan kalau orang-orang pintar, mereka yang punya pengaruh dan akses justru merantau?

Kalau pengin Pekalongan ada gebrakan, ya pulanglah ke sini. Manfaatkan ilmu yang sudah didapat dari luar untuk membangun Kota Pekalongan. Tidak usah yang besar-besar, dari akar rumput aja dulu. Pelan tapi pasti. Gimana?

Hah? Ogah karena gaji di Pekalongan dikit? Sudah tahu gaji orang Pekalongan dikit, kok situ yang merantau tiba-tiba nuntut macam-macam. Hambok mikir! Lagian gimana mau ada gebrakan kalau yang jadi Wali Kota komplotan itu-itu lagi, hadeh!

Penulis: Muhammad Arsyad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2026 oleh

Tags: gaji di pekalonganjumlah perantau dari pekalonganpekalonganumr pekalongan
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

5 Prestasi Bupati Kendal yang Patut Dikenang Warga batang

Kendal dan Batang, 2 Kabupaten yang Terjebak dalam Bayang-bayang Semarang dan Pekalongan

17 Maret 2025
Ironi Batik Pekalongan: Produk Asli yang Dibenci Masyarakat Pekalongan Sendiri

Ironi Batik Pekalongan: Produk Asli yang Dibenci Masyarakat Pekalongan Sendiri

12 Desember 2019
venesia water seven pekalongan

Water Seven dan Pekalongan Itu Sama, Sama-sama Hampir Tenggelam

14 Desember 2021
Pekalongan Berdosa ketika Gaji UMR Sudah Dianggap Tinggi! (Unsplash)

Dosa Kota Pekalongan: Membiarkan Warganya Percaya kalau Gaji UMR Termasuk Sudah Tinggi, Padahal Itu Upah Minimum!

3 Agustus 2023
Stasiun Pekalongan, Fasilitas Publik yang Seharusnya Wajib Disyukuri dan Dibanggakan Warga Pekalongan

Stasiun Pekalongan, Fasilitas Publik yang Wajib Disyukuri dan Dibanggakan Warga Pekalongan

2 November 2024
Aib Kota Pekalongan yang Sampai Sekarang Masih Menghantui (Unsplash)

Aib Kota Pekalongan yang Sampai Sekarang Masih Menghantui

13 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Air Terjun Tretes Wonosalam, Bukti Jombang Nggak Miskin Wisata Alam Mojok.co

Jombang Lantai 2: Sebutan Baru Wonosalam buat Menantang Pacet di Wisata Pegunungan

27 Januari 2026
Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Enak, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal Mojok.co

Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Nyaman, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal

29 Januari 2026
Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto” Mojok.co

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

25 Januari 2026
Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Ironi Remaja Kota Jogja: Fasih Misuh dengan Bahasa Jawa, tapi Sulit Bicara Pakai Bahasa Jawa Krama

25 Januari 2026
TVS Callisto 125 Itu Enak, tapi Tidak Semua Orang Siap Memilikinya

TVS Callisto 125 Itu Enak, tapi Tidak Semua Orang Siap Memilikinya

28 Januari 2026
Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

25 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe
  • Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup
  • Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa
  • Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.