Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg (wikipedia.org)

Kalian lebih pilih bakmi Jawa atau gudeg?

Ada banyak alasan orang berwisata ke Jogja. Ada yang mengincar wisata alamnya, wisata edukasi, hingga sejarah. Tidak sedikit juga yang mampir ke daerah ini untuk kulineran. 

Sulit dimungkiri, Jogja punya khazanah gastronomi yang luas dan melimpah. Kuliner di Jogja ini terbentang dari yang manis hingga yang pedas, yang kering hingga yang berkuah. Dari segala macam baceman hingga mangut lele, dan dari Gudeg hingga sate klatak. Semuanya ada, semuanya punya penggemarnya sendiri, dan tentunya semuanya punya posisi tawar.

Dari sekian banyak kuliner yang ada di Jogja, gudeg ternyata masih jadi top of mind orang-orang kalau bicara soal kuliner Jogja. Maklum, otentik khas Jogja, Gudeg juga punya sejarah panjang yang sulit terlepas dari Jogja. Itu mengapa, tidak berlebihan rasanya kalau menyebut Gudeg sebagai duta kuliner Jogja.

Akan tetapi, nggak semua orang suka dan cocok dengan Gudeg. Terutama buat orang-orang luar Jogja, Gudeg mungkin bukan sesuatu yang selalu dicari ketika pergi ke Jogja. Bahkan, bagi sebagian orang luar Jogja, Gudeg cukup dicoba sekali saja. Setelah itu nggak perlu. 

Itu mengapa, sebagai orang luar Jogja, saya punya alternatif lain tentang tujuan kulineran ketika pergi ke Jogja. Iya, seperti di judul, kalau di jogja mending kulineran Bakmi Jawa ketimbang Gudeg. Sini tak jelasin mengapa.

Baca juga 5 Bakmi Jawa khas Gunungkidul yang Autentik dan Mantap.

Karakter rasa bakmi Jawa lebih bisa diterima oleh lidah orang-orang luar Jogja

Hal yang paling kentara tentunya soal rasa. Gudeg punya karakter rasa manis yang dominan, sedangkan Bakmi Jawa punya paduan manis gurih yang pas. Inilah yang jadi alasan mengapa banyak orang, terutama orang luar Jogja, yang sudah males makan Gudeg. Rasanya gitu-gitu aja, ya dominan manis aja seperti nggak terlalu ditopang rasa yang lain. Gurihnya nggak kelihatan, menjadikan Gudeg serasa cukup untuk dimakan sekali saja, tanpa perlu “dibaleni” kalau kata orang Jawa.

Sedangkan bakmi Jawa, mereka punya kekhasan rasa yang menarik. Karakter dasarnya memang masih manis, tapi bukan manis yang dominan seperti gudeg. Manis makanan ini masih ditopang dengan rasa asin-gurih, yang menjadikannya sebagai makanan yang ciamik. Bagi orang luar Jawa, orang Jawa Timur seperti saya misalnya, kalau disuruh memilih antara gudeg atau bakmi Jawa, tentu saja akan memilih bakmi Jawa. Secara rasa lebih bisa diterima oleh lidah.

Nggak semua orang suka nangka muda, tapi semua orang pasti suka bakmi

Selain karena rasa manisnya, salah satu alasan banyak orang yang nggak suka gudeg adalah karena mereka nggak suka nangka muda. Orang yang nggak suka nangka muda tentunya punya alasan masing-masing. Ada yang alergi, ada yang nggak suka teksturnya, bahkan ada yang nggak suka karena nggak terbiasa. Orang Jogja mungkin sudah terbiasa dengan nangka muda, entah dalam bentuk gudeg atau yang lain. Tapi orang luar Jawa, belum tentu terbiasa, dan belum tentu suka.

Nah, berbeda dengan nangka muda, kayaknya sebagian besar orang itu suka bakmi, atau segala hal yang berbau mie. Mau itu bentuknya mie ayam, cwie mie, bakmi, mau yang goreng atau berkuah, apapun itu, pasti banyak yang suka. Bakmi terkesan lebih universal, lebih bisa diterima di lidah banyak orang, nggak peduli dari mana mereka berasal. Orang Jogja suka, orang luar Jogja juga suka.

Itu mengapa, orang-orang luar Jogja kalau mau kulineran yang “aman” memang sebaiknya kulineran Bakmi Jawa saja. Bukan berarti Gudeg “nggak aman”, hanya saja makanan berbahan dasar bakmi ini lebih bisa diterima oleh lidah kalian. Ya kali kalian menolak bakmi.

Baca juga Kenapa Bakmi Jawa dan Soto Bening Susah Banget Ditemukan di Jakarta?

Sama-sama mudah dijumpai, secara harga pun juga mirip

Kalau kalian pergi ke Jogja, kalian nggak akan kesusahan untuk mencari warung Bakmi Jawa. Di sepanjang jalan, mulai dari utara sampai selatan, dari timur sampai ke barat, kalian akan menemukan banyak warung bakmi Jawa, mulai dari yang tendaan kaki lima, warung permanen, hingga yang legendaris seperti Bakmi Jowo Mbah Gito pun ada.

Keberadaan bakmi Jawa ini sudah nggak kalah dengan gudeg kok. Sama banyaknya, sama-sama mudah dijumpai. Mungkin bedanya hanya bakmi Jawa nggak punya sentra, nggak seperti gudeg yang punya sentra gudeg Wijilan, meskipun itu gudegnya overrated semua. Tapi ya buat apa juga bakmi Jawa punya begituan? Nggak perlulah.

Selain mudah dijumpai, harga sepiring makanan ini juga mirip-mirip dengan gudeg. Dengan harga rata-rata Rp 20 ribu, kalian sudah bisa menyantap bakmi Jawa yang enak. Harganya bisa berbeda tergantung tempat dan jenis bakmi yang kalian pesan. Mirip sama gudeg. Kalau nambah ayam atau tambah lauk lain, harganya jadi lebih mahal. Sama saja.

Akan tetapi, bagi pecinta kuliner, apalagi yang suka kuliner malam, bakmi Jawa jelas masih jadi andalan. Memang ada gudeg di Jogja yang jualannya malam, tapi sensasinya nggak asyik. Malam-malam itu paling cocok ya makan bakmi Jawa, apalagi yang bakmi godog. Udah terbaik itu, nggak ada lawan sudah.

Saya sangat menyarankan orang-orang dari luar Jogja untuk mencicipi bakmi Jawa. Rasa makanan satu ini lebih mudah diterima lidah banyak orang ketimbang gudeg Selain itu, gudeg itu sudah too much, sudah overrated, dan gitu-gitu aja. Sudah saatnya wisatawan eksplore kuliner-kuliner lain. 

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version