Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang Kota Kok Nggak Pada Takut Sama Kuburan Sih?

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
19 September 2019
A A
kuburan

kuburan

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sebagai orang yang lahir dan besar di pedesaan yang masih sangat memegang teguh tradisi dan kebudayaan tentu saja menganggap bahwa kuburan atau makam merupakan tempat yang sakral. Sejak kecil, anak-anak di desa saya itu sudah diajarkan bagaimana bersikap jika berkunjung atau melewati sebuah kuburan. Secara garis besar, kami itu merasa takut bila menyangkut tentang kuburan.

Takut yang saya maksud di sini itu bukan takut dalam artian kita takluk dengan yang namanya hantu atau dedemit gitu yah. Namun takut yang saya maksud itu semacam takutnya anak sekolah dengan guru BP gitulah. Antara segan, hormat, dan juga nyeremin sih. Eh, tapi guru BP zaman sekarang itu nggak sehoror zaman dulu sih ya.

Dulu kami itu jika tak sengaja menunjuk arah kuburan memakai jari telunjuk saja, kami buru-buru menggigit jari telunjuk kami. Kata para orang tua itu, nggak baik menunjuk-nunjuk kuburan dengan jari telunjuk. Sampai sekarang pun, saya belum paham kenapa ada larangan semacam itu. Saat kami berkunjung ke kuburan kami pun diajarkan adab-adab yang baik. Seperti saat masuk gerbang kuburan kami harus memberi salam dan mengucapkan kata permisi. Kami dilarang berkata kasar, jorok, dan tidak senonoh. Selain itu kami juga harus menjaga sikap kami, tidak boleh melangkahi makam, tidak boleh lari-lari, kami juga diharuskan melepas alas kaki saat masuk area kuburan, dan tentunya kami juga tidak diizinkan untuk  teriak-teriak.

Kami para orang desa ini sangat percaya bahwa menghormati orang tua itu tak hanya di dunia. Bahkan setelah mereka terbaring di dalam tanah pun, kami masih harus menghormatinya. Meski sekarang-sekarang ini banyak orang yang bilang, bahwa yang terpenting itu doa, tapi bagi saya merawat makam leluhur itu juga merupakan sebuah tanda bakti seorang anak pada tetua.

Pernah nonton film tentang tema hantu-hantu gitu nggak sih? Sering adakan film tentang seseorang yang telah mati, lalu arwahnya gentayangan gitu jadi hantu. Dalam film tersebut menggambarkan bagaimana suasana si hantu yang tengah bersedih sekali saat mendapati makamnya yang tidak dirawat dan tak pernah dikunjungi oleh sanak saudara. Meski itu hanya sekadar film, tapi saya ikut bersimpati pada hantu tersebut. Duh, sudah jadi hantu saja masih juga kesepian dan merana kayak gitu sih.

Setelah dewasa dan pergi merantau saya dibuat terkaget-kaget dengan kelakuan orang-orang kota menyangkut tentang kuburan ini. Semua hal-hal mistis yang selalu membayangi imajinasi saya sejak kecil seolah dipukul mundur oleh hal-hal yang tidak lazim tentang kuburan orang kota. Nggak semua sih, tapi ada beberapa yang sering saya lihat seperti itu dan nggak semua juga orang kota berperilaku semacam ini terhadap kuburan, ingat ya, ini hanya oknum saja sih. Tapi oknumnya banyak! Hehe

Pertama, saya bergidik ngeri saat mendapati beberapa makam itu ada tepat di samping atau depan rumah warga. Kebayang nggak sih, buka pintu atau jendela rumah gitu terus pemandanganya bukannya taman atau kolma ikan, eh tapi malah makam yang berjejer-jejer. Saya aja dulu kalau habis dari makam gitu, malamnya suka sampai kebawa mimpi dan paginya sudah ngos-ngosan serta keringat dingin. Lah ini?

Kedua, kuburan di sini itu sering ada di pinggir jalan dan tanpa ada pembatas gitu. Jadi dari jalan kita bisa langsung melihat kuburan secara gamblang. Kalau di desa itu biasanya makam ada di ujung desa yang agak jauh dari pemukiman warga. Letaknya menyepi dan ada ruang tersendiri, jadi tidak terjamah oleh manusia setiap harinya. Mungkin karena di kota sudah padat penduduk kali ya. Jadi nggak ada lahan lagi untuk membuat kuburan yang agak jauh dari pemukiman warga, mau gak mau yah jadi satu gitu.

Baca Juga:

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

Ketiga, anak-anak di sini itu nggak ada takutnya sama kuburan. Di kota itu entah kekurangan lahan bermain atau memang nyali anak-anaknya itu begitu besar. Masak anak-anak itu berlarian, duduk –duduk di nisan, dan bermain layangan di kuburan coba. Coba kalau itu di desa, behhh, sudah kena sawan itu bocah berani bermain di area kuburan.

Keempat, kuburan di sini itu sebagian ada yang tak terawatt sehingga banyak rumput liar yang tumbuh di area kuburan. Lalu tahu apa yang terjadi? Kuburan yang tadinya menyeramkan dan sakral malah jadi tempat menggembala kambing. Hmm~ Kambing mah nggak tahu apa-apa, ia tahunya makan, makan, makan, lalu dijual atau disembelih gitu aja sih.

Kelima, bila rumah yang bersampingan dengan area kuburan tengah mengadakan hajatan. Maka tak sungkan-sungkan para tamu tersebut disambut di area kuburan untuk duduk di kursi dan makan. Duh, kasian sekali mereka yang sudah terbaring di alam kubur. Sudah gelap gulita, masih diberisiki dengan suara dangdutan coba. Terlalu~

Orang mati di kota itu kok ya nggak ada harganya yah. Miris aja lihat nisan diinjak-injak dan diduduki. Meski benar manusianya sudah mati dan mungkin sudah menjadi tulang ataupun sudah menyatu dengan tanah, tapi saya rasa kurang etis saja perilaku semacam itu.

Secara sederhananya, yang tadinya hidup nanti juga akan mati lalu dikuburkan. Ingat hukum semesta, saat kita menghormati orang lain nanti kita juga akan dihormati. Saat kita berbuat baik, maka kebaikan akan kembali lagi pada kita di kemudian hari. Jika kelak kuburan itu pada akhirnya akan menjadi tempat peristirahatan kita nantinya, maka bersikaplah layaknya itu kelak akan menjadi rumah pribadi kita sendiri. Tentu kita tak mau rumah yang bising, kotor, dan orang luar yang bersikap seenaknya sendiri tanpa sopan santun dan permisi. Sampai sini sudah jelaskan ya? (*)

BACA JUGA Lagu Lingsir Wengi dan Kaitannya Terhadap Kemunculan Kuntilanak di Penginapan atau tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 September 2019 oleh

Tags: cerita misteriHororkuburanmisteriorang kotatata krama
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

Sidoarjo Mengajarkan Saya untuk Melambat dan Lebih Menikmati Hidup Mojok.co

Sidoarjo Mengajarkan Saya untuk Melambat dan Lebih Menikmati Hidup

28 Januari 2026
ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Sulitnya Mencari Makam di Jogja

6 Oktober 2020
reuni malapetaka

Reuni yang Berujung Malapetaka

23 Juni 2019
Menelusuri Paket Nasi Dada Ayam Paling Enak di Jogja olive chicken popye chicken crush Jogchick terminal mojok.co

Lampu Etalase Penjual Fried Chicken Kenapa Selalu Oren ya? ?

1 Mei 2020
Misteri Siti Zainab, Sosok Gaib Penunggu Stasiun Kaliwedi

Misteri Siti Zainab, Sosok Gaib Penunggu Stasiun Kaliwedi

1 November 2022
the wailing horor korea santet mojok

The Wailing: Film Horor yang Menggambarkan Adu Santet ala Korea

15 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warteg, Gambaran Soal Tegal Paling Ideal yang Ada di Kota-Kota Besar Mojok.co

Warteg, Representasi Tegal Paling Ideal yang Ada di Kota-Kota Besar

9 Juni 2026
5 Realitas Hidup Semarang yang Tidak Muncul di Brosur Wisata maupun Konten Perjalanan Mojok.co

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

13 Juni 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026
Blora Bukan Tempat Tinggal yang Tepat untuk 4 Orang Ini

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

10 Juni 2026
Pengendara Motor yang Menyalakan Lampu Hazard dan Kebut-kebutan di Jalan Raya Itu Punya Masalah Apa sih? Mojok.co

Menggugat para Pengendara yang Hobi Menyalakan Lampu Hazard Pas Hujan Deras: Anda Mau Aman atau Mau Bikin Pengendara Lain Masuk Jurang?

13 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Bisnis Pertashop Jelas Karam: Hidup Segan, Mati Tinggal Menunggu Hari

14 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.