Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Orang Jepang dan Kegemarannya Baca Buku

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
16 Januari 2022
A A
Orang Jepang dan Kegemarannya Baca Buku Terminal Mojok

Orang Jepang dan Kegemarannya Baca Buku (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pernahkah kalian mendengar cerita kalau orang Jepang itu suka sekali membaca? Meski e-book merajalela, buku dan koran fisik masih saja digandrungi oleh hampir semua kalangan di sana. Eh, ini bukan mitos.

Nyatanya, sewaktu di Jepang, saya sering sekali melihat orang Jepang membaca buku di dalam kereta dan bus, atau saat berdiri menunggu kereta dan bus datang. Di dalam kereta yang empet-empetan saja, mereka masih bisa-bisanya baca buku, lho. Perpustakaan di Jepang, mulai dari perpustakaan sekolah sampai perpustakaan daerah, punya koleksi yang banyak dan kebanyakan tempatnya sangat menarik.

Lantas, benarkah orang Jepang doyan baca buku? Bagaimana kebiasaan itu bisa terbentuk? Bagaimana juga dengan dunia perbukuan di Jepang?

Dibiasakan sejak kecil

Sewaktu anak saya kelas 1 di SD Jepang, saat itulah untuk pertama kalinya dia diajari berhitung dan baca tulis huruf Jepang (hiragana, katakana, dan kanji). Setelah materi tulisan selesai, hampir setiap hari ada PR membaca, namanya kokugo-ondoku. Kokugo-ondoku adalah membaca buku pelajaran bahasa Jepang (kokugo) dengan suara keras, diperdengarkan ke keluarga, lalu keluarga wajib tanda tangan dan mengoreksinya. PR ini terus berlanjut sampai kelas berikutnya. Di kelas tingkat atas, ada juga PR membaca buku di rumah dan melaporkannya. Kalau melihat dorama Jepang, pasti kalian pernah melihat adegan anak SMA yang disuruh berdiri dan membaca buku Jepang dengan suara lantang, kan?

Sewaktu TK, anak saya juga sering meminjam 2-3 buku perpustakaan di TK-nya setiap dua minggu sekali. Meskipun saat itu anak saya belum bisa membaca, dia sangat menikmati cerita gambarnya. Kata anak saya, setiap hari wali kelasnya juga membacakan buku cerita ke murid-murid. Di bulan budaya, bahkan ada pementasan berdasar salah satu cerita buku tersebut. Anak-anak TK ini berlatih untuk menyiapkan adegan dan dialog cerita tersebut agar bisa tampil bagus di depan orang tua yang menontonnya. Jadi, selain membaca, anak juga diajak untuk memahami dan mengambil hikmah dari setiap cerita yang dibacakan.

Buku di mana-mana

Saya sangat menyukai perpustakaan kampus sewaktu studi di Jepang dulu. Tempatnya sangat nyaman, bukunya juga banyak. Ada ruang baca umum, corner untuk majalah dan surat kabar, ruang komputer, ruang multimedia, dll., mirip dengan fasilitas perpustakaan kampus di Indonesia. Fasilitas internet, nge-print gratis, dan AC membuat ruangan sejuk dan nyaman untuk membaca buku. Jurnal juga bisa diakses secara fisik maupun online, meski agak ribet untuk mengurus prosedurnya.

Selama di Jepang, selain perpustakaan kampus, saya pernah mendatangi perpustakaan provinsi dan perpustakaan kota tempat saya tinggal. Kebetulan perpustakaan provinsi terletak di kota saya. Saya juga sempat membuat kartu anggota dan meminjam buku di sana. Syaratnya sangat mudah, cukup bawa kartu identitas, pengunjung boleh meminjam buku sekitar 10 jilid per 2 minggu sampai sebulan, tergantung jenis referensinya.

Pengunjung perpustakaan juga bisa fotokopi di perpustakaan tersebut dengan biaya 10 yen (Rp1.300) per lembar. Yang paling menarik dan saya ingat, untuk mengembalikan buku yang dipinjam dari perpustakaan kota, saya tak perlu repot-repot datang ke perpustakaannya. Saya bisa mengembalikannya dengan memasukkan buku-buku itu ke kotak pos buku di dekat stasiun. Praktis dan sangat membantu.

Baca Juga:

Guru dan Siswa Nggak Sempat Baca Buku: Guru Diburu Berkas, Siswa Diburu Tugas, Literasi Kandas

Harus Ada Aturan Wajib Baca Buku untuk Guru. Segera! Kalau Nggak, Pendidikan Kita Jalan di Tempat

Selain perpustakaan, di klinik dokter (dokter umum, dokter gigi, dokter THT) yang anak saya kunjungi, dan juga kantor walikota, pasti ada book corner yang menyediakan buku anak bergambar. Buku-buku itu pun terawat dengan baik dan bukan sekadar pajangan, lho. Selain buku, ada juga mainan anak. Selagi menunggu giliran diperiksa dokter atau mengurus urusan kependudukan, anak-anak bisa menggunakan corner itu. Cukup membantu sih biar anak tidak rewel atau merengek minta pulang sebelum keperluan selesai. Adanya corner ini juga membantu agar anak-anak tidak hanya bermain gadget orang tuanya.

Toko dan kafe buku

Sebagai tsundoku, saya suka sekali membeli buku, terutama buku lawas. Di Jepang, toko buku ada di mana-mana. Kalau di Jogja ada toko yang menjual buku lawas dengan harga yang bisa ditawar, di Jepang juga ada toko yang harganya bisa dinego. Di book-off misalnya, kita bisa mencari buku atau komik bekas dengan harga super terjangkau. Saya juga mencari buku kuliah bekas di e-commerce Amazon Japan, lho. Lumayan, bisa menghemat ratusan yen.

Yang jelas, kalau ngomongin buku fisik Jepang, tidak ada satu pun buku bajakan di sana. Kalau soal ini Jepang memang patut diacungi jempol. Bandingkan dengan regulasi di negara kita yang nyatanya masih belum bisa menghalau pembajakan buku sampai hari ini.

Kalau membicarakan koleksi buku baru di Jepang, biasanya penerbit dan penulis akan mengeluarkan buku baru dengan menunggu momen pergantian musim. Saat musim panas misalnya, akan banyak muncul buku atau novel baru bertemakan petualangan, pertemanan, termasuk kisah horor musim panas. Majalah juga akan mengeluarkan review beberapa tempat wisata yang sangat direkomendasikan saat musim panas.

Mungkin yang agak berbeda dengan buku di Indonesia, ukuran buku di Jepang cenderung lebih kecil dan ringan sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Saat melihat isi buku tanpa membeli, orang Jepang biasanya membaca dengan berdiri, atau disebut tachiyomi. Selain itu, buku, majalah, dan komik dewasa Jepang sangat beragam dan diletakkan di tempat yang “khusus” agar anak di bawah umur tak bisa mengaksesnya.

Majalah di Jepang pun dibuat semenarik mungkin. Bahkan sering ada bonus merchandise special edition agar orang tertarik untuk membeli majalah. Banyak lho orang Jepang yang tertarik dengan merch dibanding isi majalahnya.

Buku-buku berbahasa asing di sana biasanya cepat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang sehingga orang Jepang tidak akan ketinggalan buku populer di dunia. Efek negatifnya, orang Jepang jadi manja lantaran sedikit-sedikit diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, tetapi sebenarnya penerjemahan ini memiliki sejarah panjang sejak kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Selain toko buku, ada juga kafe yang menyediakan buku untuk dibaca secara gratis. Pengunjung yang datang bisa membeli buku di kafe tersebut. Banyak lho kafe yang merangkap perpustakaan estetik di Jepang yang sangat instagramable buat foto-foto. Semoga saja di Indonesia juga makin banyak kafe semacam ini nantinya, ya.

Penulis: Primasari N Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2022 oleh

Tags: Baca Bukuorang jepang
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

29 Januari 2024
Gramedia, Toko Buku yang Sudah Nggak Menarik Lagi untuk Dikunjungi

Gramedia, Toko Buku yang Sudah Nggak Menarik Lagi untuk Dikunjungi

8 Februari 2024
Program Pojok Baca Kelas di Sekolah Cuma Basa-Basi, Ujung-ujungnya Jadi Pojok Tidur Siswa

Program Pojok Baca Kelas di Sekolah Cuma Basa-Basi, Ujung-ujungnya Jadi Pojok Tidur Siswa

4 April 2024
Minyak Goreng dan Kebiasaan Orang Jepang yang Nggak Suka Menggoreng Terminal Mojok

Minyak Goreng dan Kebiasaan Orang Jepang yang Nggak Suka Menggoreng

6 April 2022
6 Hal yang Sebaiknya Nggak Ditanyakan ke Orang Jepang Saat Pertama Kali Kenalan Terminal Mojok

6 Hal yang Sebaiknya Nggak Ditanyakan ke Orang Jepang Saat Pertama Kali Kenalan

19 Februari 2022
Fix, Eksistensi Media Sosial Adalah Salah Satu Sumber Penghancur Kemesraan Kita dengan Buku Terminal Mojok

Eksistensi Media Sosial Adalah Sumber Penghancur Kemesraan Umat Manusia dengan Buku

6 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.