Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

Krisdian Tata Syamwalid oleh Krisdian Tata Syamwalid
22 Februari 2026
A A
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya curiga, di Indonesia ini rapat bukan alat mengambil keputusan, tapi ritual pengganti doa bersama. Bayangkan kita berkumpul, duduk melingkar, bicara panjang lebar, berharap sesuatu berubah,tanpa benar-benar memutuskan apa pun. Kalau doa itu urusan langit, rapat ini urusan dunia, tapi hasilnya sama-sama misterius, serius, mari kita bedah.

Saya sudah ikut rapat sejak masih mahasiswa. Dari rapat kelas, organisasi, kepanitiaan, sampai yang judulnya “rapat persiapan rapat”. Dan dari semua itu, Saya belajar satu hal penting bahwa yang paling konsisten adalah tidak adanya keputusan.

Biasanya rapat dimulai dengan kalimat sakral, “kita mulai ya, biar nggak lama.” Kalimat ini selalu diucapkan oleh orang yang nanti justru paling banyak bicara. Setelah itu, masuk ke sesi laporan, sambutan, dan sedikit nostalgia tentang rapat sebelumnya yang juga tidak menghasilkan apa-apa. Tapi tidak apa-apa, yang penting suasana kekeluargaan.

Di tengah rapat, semua orang terlihat sangat bijak. Semua setuju bahwa masalah ini kompleks, perlu dikaji, dan tidak bisa diputuskan secara terburu-buru. Kalimat favoritnya: “Ini perlu dipikirkan matang-matang.” Entah sampai matang level apa? medium rare, medium well, atau well done? karena biasanya setelah itu ditutup dengan kesepakatan untuk… rapat lagi, hahaha.

Dalam rapat, tidak ada yang benar-benar mau bertanggung jawab

Satu hal yang paling menarik dari rapat adalah ketiadaan orang yang mau benar-benar bertanggung jawab. Meskipun kadang kala terdapat ketua dalam forum rapat, semua punya pendapat. Tapi begitu masuk ke tahap keputusan, suasana langsung hening. Orang-orang mulai saling lempar pandang, berharap ada yang rela jadi tersangka utama. Ini momen yang sangat menyebalkan menurutku.

Kalau ada yang nekat mengusulkan keputusan, biasanya langsung ditembak dengan kalimat pamungkas: “Takutnya nanti ke depannya gimana.” Kalimat ini sangat ampuh. Tidak spesifik, tapi cukup untuk membunuh keberanian. Karena di Indonesia, masa depan memang sering dipakai sebagai alasan untuk tidak melakukan apa-apa di masa kini, benar kan?

Saya pernah ikut rapat yang membahas satu masalah selama dua jam. Semua sudut pandang sudah dibahas. Semua risiko sudah disebutkan. Segala kemungkinan sudah diprediksi. Tapi ketika selesai, kesimpulannya cuma satu: “Belum ada keputusan.” Yang ada hanya notulen rapi dan foto bersama sambil berpose jempol atau tangan mengepal. Seolah-olah dokumentasi lebih penting daripada hasil

Di mana pun, sama saja!

Lucunya, budaya ini tidak mengenal kelas. Dari kampus sampai kantor, dari RT, karang taruna sampai lembaga resmi, polanya sama. Kita gemar berdiskusi, tapi alergi pada keputusan. Kita suka proses, tapi takut pada konsekuensi. Padahal keputusan itu memang tidak pernah netral pasti selalu ada yang senang, selalu ada yang kecewa. Tapi mungkin itu yang kita hindari.

Baca Juga:

Kalau Kamu Kepikiran Masuk Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus, Pertimbangkan Lagi, Jangan Buat Hidupmu Banyak Drama ala Negara

Singapura Negara Kaya, tapi Rapat Pejabatnya Terlalu Pelit dan Sederhana

Di rapat, semua orang ingin aman. Tidak ingin disalahkan, tidak ingin terlihat sok kuasa, tidak ingin namanya disebut kalau nanti ada masalah. Maka keputusan pun diperlakukan seperti barang panas dipindah-pindahkan,dilempar kesana kemari, tapi tidak pernah benar-benar berani ada yang memegang.

Jangan-jangan rapat ini semacam terapi psikologis

Saya lama-lama merasa rapat di Indonesia itu semacam terapi kolektif ala-ala psikologis, serius. Kita datang membawa keresahan, meluapkannya dengan bicara, lalu pulang dengan perasaan lebih lega meski masalahnya tetap ada, yang penting sudah ngomong. Sudah didengar. Soal beres atau tidak, itu urusan pertemuan berikutnya.

Hal yang bikin tambah galau lagi, hal ini sering dijadikan alasan untuk menunda kerja nyata. Kalau ditanya kenapa belum jalan, jawabannya simpel “Masih dibahas di rapat.” Padahal yang dibahas itu-itu lagi, dengan orang yang sama, dan ketakutan yang sama.

Saya jadi berpikir, mungkin kita memang tidak diajarkan mengambil keputusan. Kita diajarkan musyawarah, tapi lupa bahwa musyawarah itu seharusnya berujung pada mufakat bukan pada jadwal pertemuan selanjutnya. Kita terlalu menghormati keharmonisan sampai lupa bahwa konflik kecil kadang perlu agar sesuatu bisa bergerak.

Bukan berarti tidak penting. Hal ini masih perlu. Diskusi perlu. Mendengar banyak suara itu penting. Tapi kalau hanya jadi tempat menunda keberanian, ya buat apa, ini semacam untuk tidak melakukan apa-apa sambil terlihat sibuk.

BACA JUGA: Mempertanyakan Aturan Jam Malam Kalau Lagi Rapat Proker Organisasi

Pasang ekspektasi rendah

Sekarang, setiap kali saya diundang rapat, saya selalu menyiapkan dua hal catatan kecil dan ekspektasi rendah. Bukan karena pesimis, tapi karena pengalaman. Saya datang bukan berharap keputusan besar, tapi berharap selesai tepat waktu, itu saja menurutku cukup.

Sebab kenyatannya memang begini dan ya kalau ada suatu keputusan final pun, menurutku itu adalah keputusan yang tergesa-gesa. Sebab rapat yang serius menurutku cuma di awal untuk menentukan pembentukan kepanitiaan atau struktur dan rapat di akhir yang mbulet dan akhirnya berakhir antiklimaks.

Jadi untuk mengakhiri ini, mungkin di masyarakat yang suka banget rapat tapi nggak suka keputusan ini, yang benar-benar langka bukan ide, melainkan keberanian untuk menanggung akibatnya. Serius, ide-ide banyak tapi nggak ada atau jarang sekali yang mau bertanggung jawab penuh. Dan mungkin, sebelum kita menambah satu rapat lagi, ada baiknya kita belajar satu hal sederhana yakni berani memilih, lalu siap disalahkan.

Kalau tidak, ya kita rapat lagi saja. Minggu depan, jam sepuluh, dengan agenda yang sama.

Penulis: Krisdian Tata Syamwalid
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Rapat Organisasi yang Lama, apalagi sampai Tengah Malam Jelas Bukan Rapat yang Bermutu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2026 oleh

Tags: apa itu rapatnotulensi rapatrapatrapat organisasi mahasiswa
Krisdian Tata Syamwalid

Krisdian Tata Syamwalid

Sarjana yang sedang menggeluti rutinitas mencari kesibukan pura-pura produktif di depan laptop dan sangat mengagumi mie instan di pukul tiga pagi.

ArtikelTerkait

4 Hal yang Bisa Dilakukan agar PKK Lebih Bermanfaat dan Nggak Jadi Ajang Ngerumpi doang

4 Hal yang Bisa Dilakukan agar PKK Lebih Bermanfaat dan Nggak Jadi Ajang Ngerumpi doang

16 Februari 2023
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Kalau Kamu Kepikiran Masuk Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus, Pertimbangkan Lagi, Jangan Buat Hidupmu Banyak Drama ala Negara

31 Agustus 2025
ketua pemuda dusun mojok

Menjadi Ketua Pemuda Dusun itu Kutukan, Begini Alasannya

28 Agustus 2020
Singapura Negara Kaya, tapi Rapat Pejabatnya Terlalu Pelit dan Sederhana

Singapura Negara Kaya, tapi Rapat Pejabatnya Terlalu Pelit dan Sederhana

18 Mei 2024
Rapat Organisasi yang Lama, apalagi sampai Tengah Malam Jelas Bukan Rapat yang Bermutu

Rapat Organisasi yang Lama, apalagi sampai Tengah Malam Jelas Bukan Rapat yang Bermutu

4 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kasta Sirup Indomaret Paling Segar yang Cocok Disuguhkan Saat Lebaran Mojok.co rekomendasi sirup

Urutan Sirup dengan Gula Tertinggi hingga Terendah, Pahami agar Jangan Sampai Puasamu Banjir Gula!

15 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026
Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong di Banyumas (Wikimedia Commons)

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

15 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.