Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Orang Brebes Pasti Bisa Bahasa Ngapak? Tentu Tidak!

Wafiyah Wahyuningsih Wilma oleh Wafiyah Wahyuningsih Wilma
12 Januari 2021
A A
brebes bahasa ngapak mojok

brebes bahasa ngapak mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Masalah dengan stereotip orang Brebes pasti bisa bahasa ngapak ini bermula ketika suatu kali saya mengikuti seleksi staf sebuah komunitas. Dalam rangkaian seleksinya, ada dua tahap seleksi yang harus dihadapi, yaitu seleksi berkas dan wawancara. Pada tahap seleksi berkas, tidak ada masalah yang dihadapi. Hanya CV yang perlu diunggah dalam formulir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Setelah selesai mengisi, kirim!

Tahap berikutnya adalah wawancara. Mendebarkan dan perlu persiapan. Sebelum jadwal wawancara, saya mempersiapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang biasa diajukan dalam wawancara, seperti deskripsi diri, analisis SWOT, alasan mendaftar, dan alasan kelayakan untuk dipilih menjadi staf.

ADVERTISEMENT

Pada mulanya, pewawancara meminta saya memperkenalkan diri. Tentu saja saya menjawab identitas singkat saya, termasuk tempat tinggal saat ini. Oleh karena dalam masa pandemi, semua dilakukan dari rumah, termasuk wawancara ini menggunakan media WhatsApp video call. Saya menjelaskan bahwa saat ini tinggal di Brebes, Jawa Tengah bersama orang tua.

Saya mengerti bahwa orang-orang terbagi menjadi dua kubu dalam mendefinisikan Brebes. Kubu pertama adalah kubu orang-orang yang tidak tahu, dan kubu kedua inilah yang menjadi ancaman bagi saya. Kubu kedua mengenal betul bahwa Brebes adalah sentra produksi telur asin dan bawang merah. Namun, bukan itu yang saya khawatirkan, melainkan logat dan bahasa lokalnya yang terkenal seantero negeri, NGAPAK!

Pewawancara saya ini masuk ke kubu kedua. Kemudian ia bertanya-tanya tentang aksen bahasa ngapak yang tidak saya punyai. “Lho, kok nggak pakai bahasa ngapak?”Alih-alih mendapat pertanyaan yang membuat saya berpikir, malah mendapat pertanyaan retoris, hmmm.

Yaaa bagaimana, ya? Meskipun sudah lama tinggal di sini, saya tetaplah pendatang. Apalagi dalam komunikasi sehari-hari tidak menerapkan bahasa ngapak tersebut. Kalaupun menggunakan bahasa Jawa, saya diajarkan untuk menggunakan bahasa yang halus yang tidak ada unsur-unsur ngapaknya sama sekali.

Dari yang saya tangkap selama ini, orang-orang selalu berekspektasi tinggi terhadap orang-orang daerah ngapak. Mereka ingin ditunjukan aksen khas ngapak hingga kosakatanya yang unik. Sebagai informasi, meskipun sama-sama berlabel “ngapak”, masih tetap ada perbedaan penggunaan kosakata di tiap-tiap daerahnya.

Misalnya untuk mendefinisikan lapar, daerah Tegal-Brebes menamainya “ngelih” sama seperti bahasa Jawa ngoko pada umumnya, sedangkan daerah Purwokerto menyebutnya “kencot”. Nah, itu yang sering dipukul rata. Sebagai pendatang, saya juga heran ketika pertama kali mendengar istilah “kencot”. Bahkan saya mengetahui artinya justru dari orang Jawa bagian timur.

Baca Juga:

Pengakuan dari Saya, Warga Asli Kebumen yang Menyadari Bahwa Daerah Saya Memang Sulit Dipahami Khususnya Para Pendatang yang Sedang Beradaptasi

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

Sebagai mahasiswa perantau yang banyak berkenalan dengan orang-orang baru, seolah saya dijejali oleh harapan-harapan mereka yang merengek ingin dipenuhi. Coba bayangkan, setiap menyebutkan kata Brebes, lagi-lagi yang diminta adalah contoh bahasanya.

“Coba dong ngomong ngapak.”

ADVERTISEMENT

“Bahasa ngapaknya blablabla itu apa, ya?”

“Bahasa ngapaknya ‘aku lapar’ itu ‘enyong kencot’ bukan?”

Dan rentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hadeeeh~

Begini ya, Mas, Mbak, nggak semua orang yang dari daerah ngapak mesti ngapak tulen. Waktu SD pernah belajar perpindahan penduduk, kan? Ada transmigrasi, urbanisasi, dan sebagainya, kan? Nah, saya salah satunya yang terlibat di perpindahan penduduk tersebut. Jadi, saya bukan warga asli.

Untuk itu, perlu tabayyun lagi, ya! Pastikan bahwa yang ditanya adalah benar-benar tulen, sebab kasihan bagi yang pendatang. Mereka memikul beban yang sama beratnya dengan orang-orang asli ngapak, padahal tidak seharusnya demikian. Bahkan daerah Brebes yang kalian pikir full ngapak pun, punya daerah yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya. Pusing nggak tuh?

Orang yang tinggal di suatu daerah, bukan berarti dia asli dari daerah tersebut. Alih-alih ditanya tinggal di mana, saya lebih suka ditanya asli mana. Dengan itu, saya bisa menjelaskan sedikit di mana saya lahir, hingga akhirnya menceritakan kepindahannya. Hal ini lebih menyenangkan daripada lebih awal dicap sebagai warga ngapak.

Saya sih tidak masalah kalau dicap warga ngapak, tapi saya nggak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Daripada kena harapan palsu, mending tau duluan ya, kan? Ibaratnya putus duluan lebih baik dibanding tau kejelekannya di akhir. Ehhh nggak nyambung~

Intinya, nggak semua orang yang dari Brebes punya aksen dan bisa bahasa ngapak. Ada yang pendatang, juga ada yang justru pakai bahasa Sunda. Jadi, jangan langsung tembak, “Kamu ngapak, ya?” gitu dong. Kalian harus tau asal usulnya dulu sebelum ngasih label. Ibarat belanja, ya pakailah prinsip periksa sebelum membeli.

ADVERTISEMENT

Kalau kamu, asalnya dari mana? Kenalan dong, hehehe~

BACA JUGA Yogyakarta yang Istimewa Tengah Putus Asa Ditelanjangi Covid-19 dan tulisan Wafiyah Wahyuningsih Wilma lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: bahasa ngapakbrebes
Wafiyah Wahyuningsih Wilma

Wafiyah Wahyuningsih Wilma

Hanya manusia biasa.

ArtikelTerkait

Purwokerto Bakal Menghadapi Petaka 100 Ribu Mahasiswa (Unsplash)

100 Ribu Mahasiswa Bakal Menjadi Petaka Bagi Purwokerto di Masa Depan, Jika….

15 Oktober 2023
Jembatan Layang Kretek Paguyangan: Flyover yang Sudah Tidak Layak, namun Tetap Dipaksa Beroperasi

Jembatan Layang Kretek Paguyangan: Flyover yang Sudah Tidak Layak, namun Tetap Dipaksa Beroperasi

7 Juli 2024
3 Daerah yang Sering Disalahpahami sebagai Tempat Wisata Bumiayu (Mojok.co)

3 Daerah yang Sering Disalahpahami sebagai Tempat Wisata Bumiayu

12 Desember 2023
Bumiayu, Daerah Terbaik untuk Ditinggali di Brebes Jawa Tengah Mojok.co

Bumiayu, Daerah Terbaik untuk Ditinggali di Brebes Jawa Tengah

12 Desember 2023
Panduan Penggunaan Bahasa Tegal biar Ngapak Makin Kepenak

Panduan Penggunaan Bahasa Tegal biar Ngapak Makin Kepenak

20 Agustus 2023
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

26 Agustus 2026
Kuliah di kampus nggak terkenal Universitas Siliwangi Tasikmalaya ternyata nggak buruk-buruk amat Mojok.co

Kuliah di kampus nggak terkenal Universitas Siliwangi Tasikmalaya ternyata nggak buruk-buruk amat

27 Agustus 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan (Wikimedia Commons)

Selain mie dan bakso, ini 4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan

24 Agustus 2026
Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

22 Agustus 2026
Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co lamongan

Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.