Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Novel ‘Rich People Problem’ Menyentil Indonesia dan Kebakaran Hutan Sumatera

Fadlir Nyarmi Rahman oleh Fadlir Nyarmi Rahman
24 Oktober 2020
A A
Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Masa Itu

Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Masa Itu

Share on FacebookShare on Twitter

Proses membaca novel terjemahan bahasa Indonesia Rich People Problem (2018) harus terhenti sejenak di halaman 33, untuk kemudian saya lanjutkan dengan sangat antusias. Sebab, di halaman ini terdapat bagian menakjubkan yang berisi artikel panjang hasil wawancara dengan Colette Bing, salah satu tokoh fiktif di dalamnya yang sangat kaya dan sedang memperjuangkan nasib orangutan di Sumatera Utara.

Para ultranasionalis, Jokowers garis keras, dan sejenisnya, jangan berbangga dulu saat Indonesia dijadikan salah satu subjek di novel keren ini. Kebanggaan semu seperti biasanya, cukup kalian berikan pada jalan di UEA yang menggunakan nama junjungan kalian. Sebab, Kevin Kwan melalui salah satu bagian yang saya maksud, akan mengkritik bisnis jahat kelapa sawit yang oleh oligarki begitu dipuja.

Meski bagian itu bukanlah inti dari novel, hanya sebuah potongan, tapi menurut saya hal itu merupakan sindiran yang cerdik. Sebab, disajikan dengan tidak kentara, mlipir, dan hanya sebagian kecil dari satu wujud besar seperti novel. Walaupun demikian, ia mampu memberikan damage yang nggak ngotak.

Artikel yang menyindir itu berjudul “Putri Pejuang Lingkungan: Wawancara Eksklusif dengan Colette, Countees of Palliser” yang diawali dengan empat paragraf berisi pandangan penulisnya pada Colette yang super kaya, tapi ramah. Namun, saat penulis artikel itu ingin lebih jauh menggali kekayaan dan kehidupan pribadinya, Colette justru mengalihkan pembicaraan, “Hidupku tidak begitu menarik. Kita bicara Indonesia saja.”

Dari pernyataan Colette itu, bisa kita asumsikan bahwa membahas Indonesia beserta masalah-masalahnya memang lebih seksi daripada pamer kekayaannya di majalah yang sebenarnya memuat gaya hidup konglomerat. Namun, alih-alih pamer untuk mendapat sorotan lebih, ia lebih memilih membahas negara kita yang bermasalah.

Awalnya, di Indonesia, tepatnya di Bali, ia hanya liburan. Namun, ia tak sengaja bertemu Lucien (aktivis lingkungan yang kelak jadi suaminya) yang sedang mengurus masalah lingkungan di Sumatera Utara. Ia pun memutuskan untuk ikut “misi penyelamatan” bersama Lucien.

Tidak asing ya dengan keputusan yang Colette ambil? Jelas lah, ia mewakili kita semua yang khawatir pada Indonesia. Seperti saat kita lebih memilih turun aksi, menyuarakan protes, dan mengerahkan seluruh upaya untuk melawan pemerintah ngawur dan UU Ciptakernya yang merupakan masalah besar negara di tengah pandemi.

Lalu, di artikel itu dituliskan bahwa Colette dengan muka yang memerah karena marah menambahkan ceritanya, “Lucien membawaku ke pusat penyelamatan orangutan, dan itu adalah paparan pertamaku atas tragedi lingkungan mengerikan yang terjadi di sana.”

Baca Juga:

Menemukan Alasan untuk Tetap Hidup dalam Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna

Cara Terampuh Membasmi Nyamuk: Menjadi Dewasa Itu Sulit, Bahkan bagi Seekor Nyamuk Sekalipun

Ia pun di sana mendapat fakta menyedihkan bahwa berkurangnya spesies orangutan oleh karena pembakaran hutan dan perburuan liar.

Tak berhenti sampai di situ, ia juga ingin menyebarkan kesadaran terhadap tragedi lingkungan ini dan menyuarakan perubahan. Colette pun menodong perusahaan sawit dan berpendapat bahwa, “Semua orang seharusnya berhenti menggunakan produk yang mengandung kelapa sawit! Dalam pembukaan lahan untuk memperluas perkebunannya, hutan-hutan tua dibakar, dihancurkan sepenuhnya, dan kita kehilangan banyak spesies….”

Kemarahannya dan ajakan memboikot produk dari sawit tentu sangat berdasar. Colette mungkin hanyalah tokoh fiksi dalam Rich People Problem, namun suaranya begitu nyata di kehidupan kita sehari-hari. Lihat bagaimana kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, tepat di depan mata kita, hampir setiap tahun melanda. Kita semua juga sudah tahu penyebabnya, persis seperti yang dikabarkan Colette pada dunia.

Ia juga marah karena kebakaran hutan di Sumatera menyebabkan kualitas udara Singapura—tempat ia tinggal sementara—menjadi buruk. Sungguh tidak terbayang apa yang dialami penduduk sekitar, pasti lebih mengerikan.

Celakanya, menurut salah satu tulisan di Mongabay, terdapat pengubahan UU Kehutanan di UU Ciptaker yang menguntungkan pengusaha namun menginjak-injak lingkungan hidup. Salah satunya adalah pasal 49 UU Kehutanan yang menyatakan pemegang hak dan izin bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan.

Tapi, di dalam UU Ciptaker, pasal itu diletakkan sebagai ayat 2. Sementara perubahannya, yaitu dari “bertanggung jawab” menjadi hanya “wajib melakukan pencegahan dan pengendalian” kebakaran hutan malah diletakkan di ayat 1.

Selain itu, pengubahan juga terjadi di pasal 88 yang menyatakan bahwa perusak lingkungan “bertanggung jawab tanpa perlu pembuktian atas kerugian lingkungan”. Dan di UU Ciptaker, frasa bergaris bawah itu dihilangkan.

Dari kedua pengubahan itu saja, bisa kita bayangkan kerusakan lingkungan yang akan semakin tak terkendali. Sebab, siapa yang akan bertanggung jawab atas sesaknya napas warga sekitar, habisnya hutan, dan hancurnya ekosistem di dalamnya akibat pembukaan lahan dengan pembakaran “berkearifan lokal” itu? Pemerintah bisa saja bersembunyi di balik produk hukum brengsek itu. Indonesia kan so called negara hukum gitu, loh~

Dan, di akhir artikel di novel Rich People Problem, diberitakan bahwa Colette dan Lucien mengadakan pesta penggalangan dana besar di Singapura yang digadang-gadang menjadi pesta amal terbesar sepanjang musim semi di seluruh dunia.

Waaah, sudah kaya, peduli lingkungan, dan dermawan pula. Kombinasi pribadi yang memang mustahil walau di khayalan saja—sampai Kevin Kwan menciptakannya melalui tokoh di novel itu.

Sosok konglomerat atau kelas menengah ke atas di Indonesia sebenarnya ada juga, sih, yang sangat peduli lingkungan bahkan sampai menangisinya. Iya, itu, mereka yang menangisi pembakaran halte bus.

Harusnya, dengan memikirkan halte yang terbakar, muncul pemikiran ini, “Halte saja ditangisi, apalagi hutan.” Sayang, hidup nggak sepolos itu. Tak ada narasi dan pemikiran semacam itu pada mereka. Prioritas mereka barangkali bermasalah. Atau, bagi mereka hutan bukan bagian dari lingkungan mungkin, ya? Entahlah, saya bukan bagian dari orang-orang kaya Indonesia.

BACA JUGA Nostalgia Album ‘Hybrid Theory’, Musik Metal di Segala Mental dan tulisan Fadlir Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2022 oleh

Tags: novelUU Cipta Kerja
Fadlir Nyarmi Rahman

Fadlir Nyarmi Rahman

Seorang radiografer yang sedikit menulis, lebih banyak menggulir lini masa medsosnya. Bisa ditemui di IG dan Twitter @fadlirnyarmir.

ArtikelTerkait

Belajar Nilai Kepemimpinan dari Zorbes, Tokoh dalam 'Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang' oleh Luis Sepúlveda terminal mojok

Belajar Nilai Kepemimpinan dari Zorbes, Tokoh dalam ‘Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang’ oleh Luis Sepúlveda

26 Mei 2021
Suka Duka Saya Ketika Menjadi Fans DPR RI, Biasmu Siapa, Hyung? terminal mojok.co satir omnibus law UU ciptaker puan maharani Azis Syamsuddin

Surat Terbuka untuk Pak Azis Syamsuddin: Terima Kasih, Pak!

15 Oktober 2020
wattpad selera bobot novel mojok

Balasan untuk Tulisan Mas Aziz: Memang Kenapa Jika Selera Pembaca Wattpad bagi Anda Begitu Menyedihkan?

7 Desember 2020
UU Cipta Kerja lawan buzzer pemerintah mojok

Menertawakan Buzzer Pendukung UU Cipta Kerja Adalah Kemewahan Terakhir Kita Bersama

6 Oktober 2020
gadjah mada sifat jokowi mojok

Alasan Jokowi Layak Disebut Mewarisi Sifat dan Kebijaksanaan Patih Gadjah Mada

20 November 2020
moeldoko heran mojok

Keheranan Moeldoko Kenapa UU Cipta Kerja Terus Didemo yang Bikin Saya Ikutan Heran

25 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.