Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nokia N-Gage, Ponsel Gaming yang Berjaya di Masanya

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
1 Mei 2021
A A
Nokia N-Gage, Ponsel Gaming Nokia yang Berjaya di Masanya
Share on FacebookShare on Twitter

Di tahun 2021 ini, sudah banyak smartphone yang dirancang khusus untuk bermain game oleh sejumlah brand terkemuka seperti Samsung dan Asus dengan spesifikasi yang tinggi, seperti prosesor yang cepat, RAM yang tinggi, serta kualitas layar dan suara yang mumpuni. Sekitar 19 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2002, Nokia sebagai brand ponsel nomor satu di dunia saat itu pun melakukan hal serupa dengan merilis ponsel gaming bernama Nokia N-Gage. Saat itu saya masih kelas 4 SD.

Lantaran saya bersekolah di salah satu sekolah dasar swasta favorit di Kota Bandung, tidak heran jika saat itu sudah banyak anak kelas 4 yang memiliki Nokia N-Gage dan memamerkannya di sekolah. Di kelas saya sendiri, barangkali ada 5 siswa yang kedapatan membawa ponsel tersebut ke sekolah. Tentu saja tujuan utamanya bukan untuk kebutuhan komunikasi, melainkan untuk main game dan pamer. Saat itu banyak siswa yang antre untuk bisa meminjam dan merasakan main game di ponsel ini, termasuk saya.

Beberapa tahun setelahnya, saya telah lulus SD dan memasuki kelas 1 SMP. Saat itu, orang tua saya membelikan saya ponsel Nokia N-Gage seharga Rp1,8 juta. Tentu saja saya langsung senang dan membawa ponsel tersebut ke mana-mana untuk bermain game, selain untuk kebutuhan komunikasi dengan orang tua dan juga kecengan saya, eh, maksud saya untuk komunikasi dengan teman-teman saya untuk menanyakan PR atau janjian main game di warnet.

Nokia N-Gage bisa dibilang adalah salah satu ponsel tercanggih pada masanya. Dilengkapi dengan sistem operasi Symbian, layar berwarna berukuran 2 inchi, port USB, bluetooth, FM radio, perekam suara, dan tentu saja kemampuannya untuk bermain game karena bentuknya yang ergonomis, menyerupai stick console PlayStation yang nyaman digunakan. Saat itu bahkan dua pengguna Nokia N-Gage bisa menggunakan fitur multiplayer dalam bermain game dengan menggunakan bluetooth pada game-game seperti Splinter Cell dan FIFA 2005.

Saya sering kali bermain game di tengah-tengah pelajaran sekolah, terutama pelajaran yang saya anggap membosankan seperti matematika. Saat itu saya dan sejumlah teman yang memiliki Nokia N-Gage sering bermain The Sims Bustin Out karena menamatkannya game tersebut membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, saya akui tindakan tersebut tidaklah untuk ditiru. Mungkin kalau saat itu saya tidak bermain game saat pelajaran matematika dan lebih memperhatikan pelajaran, saya bisa sukses masuk Institut Teknologi Bandung di tahun 2010, saat saya lulus SMA.

Selain untuk main game, saya juga sering menggunakan Nokia N-Gage untuk mengisi waktu luang ketika berada di angkot, bus kota, maupun kereta untuk mendengarkan musik. Saat itu ponsel tersebut bisa memainkan file MP3 yang sudah dimasukkan ke dalam memory card-nya. Kalau bosan, kita juga bisa mendengarkan FM Radio yang sudah ada sejak awal.

Kekurangan Nokia N-Gage saat itu adalah ukuran layar yang bisa dibilang terlalu kecil, baterai yang cepat habis, dan tidak memiliki kamera. Jika memainkan game dari kondisi baterai penuh, seingat saya ponsel ini paling tidak hanya bertahan selama 2 jam. Selain itu, ketika menelepon, jadi terlihat aneh karena earpiece dan mikrofon terletak di sisi atas ponsel, sehingga kalau menelepon, posisinya menyamping. Saat itu kalau mau berfoto ria, saya menggunakan Nokia 6600 milik seorang teman dulu, baru mengirim foto-foto tersebut via bluetooth ke handphone saya. Ribet.

Pada tahun 2004, Nokia merilis versi terbaru dari N-Gage, yakni Nokia N-Gage QD dengan baterai yang lebih tahan lama, posisi menelepon yang normal, dan fitur melepas memory card layaknya mencabut flashdisk di laptop. Jadi, tidak perlu mematikan ponsel kalau mau ganti memory card. Sayangnya, baik Nokia N-Gage maupun Nokia N-Gage QD bisa dibilang sebagai ponsel yang gagal karena hanya terjual sebanyak 2 juta unit, jauh dibandingkan Nokia 6600 yang terjual sebanyak 150 juta unit. Selain itu, banyak developer game yang rugi telah merilis gamenya pada Nokia N-Gage karena alih-alih membeli game originalnya, banyak game yang dibajak. Saat itu, game bajakannya bisa dibeli sebesar Rp10 ribu saja di konter ponsel pinggir jalan sekalipun. Bahkan, kalau ngulik internet, banyak link-link ilegal yang bisa mengunduh semua game yang khusus dimainkan pada Nokia N-Gage.

Baca Juga:

Bentuk iPhone 17 Jelek dan Kehilangan Kesan Mewah seperti Beli Android Kelas Menengah

4 Mitos HP Vivo yang Terlanjur Dipercaya Ibu-ibu Gaptek

Nokia berusaha berbenah dengan menambahkan fitur N-Gage Arena pada Nokia N-Gage QD agar bisa memainkan game secara online. Sayangnya, saat itu fitur GPRS pada ponsel belum secanggih sekarang dan tarifnya yang sangat mahal, jadi tidak banyak yang menggunakan fitur tersebut sehingga Nokia menghentikan produksi N-Gage di tahun 2007. Pada tahun 2007 pun saya mengganti Nokia N-Gage saya dengan Nokia N-Gage QD karena baterainya lebih tahan lama. Sayangnya, hanya bertahan selama beberapa bulan saja karena ponsel tersebut hilang di sekolah.

Saya betul-betul merindukan masa kejayaan di mana Nokia dan Sony Ericsson bersaing dengan ketat sebagai puncak produsen ponsel di tahun 2000-an, jauh sebelum kejayaan iPhone, bahkan jauh sebelum kejayaan BlackBerry. Saat itu, desain ponsel sungguh beragam dibandingkan desain ponsel saat ini yang seragam. Saat itu casing ponsel tersedia dengan berbagai macam warna dan aksesori yang bisa digunakan sesuka hati. Saat ini paling mentok kita hanya bisa mengganti backcase-nya saja dan aksesori yang digunakan pun sangat terbatas. Selain itu, pada zaman itu, kalau servis handphone, harganya terjangkau, berkisar beberapa ratus ribu saja. Sekarang kalau service handphone, apalagi kalau LCD-nya rusak, harga servisnya bisa memakan setengah dari harga handphone tersebut. Hadeh, mending beli yang baru sekalian, deh.

Sumber Gambar: YouTube Putra ID

BACA JUGA Nokia 5130 XpressMusic, Handphone Terbaik yang Pernah Saya Miliki dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Mei 2021 oleh

Tags: handphoneHPnokianostalgia
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Jogja Berhati Mantan

Benarkah Jogja Berhati Mantan?

16 Oktober 2019
Ngapain Nikah Muda kalau Hanya untuk Menghindari Zina terminal mojok.co

Nostalgia Pacaran di Koridor, Taman, dan Kantin Sekolah: Mana yang Lebih Nyaman?

3 Desember 2020
generasi 90-an

Buat Generasi 90-an: Biarkan Anak-Anak Bermain Sesuai Dengan Jamannya

26 Juli 2019
merawat kenangan

Merawat Kenangan Melalui Helm Ala Generasi 90-an

3 September 2019
Berbagai Cara yang Saya terminal mojok.co Lakukan Biar Punya Mata Minus dan Bisa Pakai Kacamata

Berbagai Cara yang Saya Lakukan Biar Punya Mata Minus dan Bisa Pakai Kacamata

15 Desember 2020
higienis

Beruntungnya Menjadi Anak yang Tak Terlalu Higienis

21 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Wikimedia Commons)

4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Kecewa dan Nggak Nafsu Makan

11 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.