Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Roh Widiono oleh Roh Widiono
13 Januari 2026
A A
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mahasiswa kelas reguler yang ngeluh soal beratnya dunia kuliah perlu belajar dari mahasiswa kelas karyawan…

Saya sering tertawa geli (campur miris) melihat cuitan mahasiswa reguler di Twitter/X yang mengeluh soal beratnya dunia perkuliahan.

“Aduh, tugas numpuk banget nih, healing dulu ke Bali, yuk,” kata seorang maba yang uang jajannya masih ditransfer papa setiap tanggal satu. “Gila, dosennya killer banget, masa telat 15 menit nggak boleh masuk,” keluh mahasiswa semester 5 yang telat karena begadang maraton drakor.

Wahai adik-adik mahasiswa reguler yang lucu dan menggemaskan, simpan keluhan kalian. Kalian belum tahu apa itu neraka pendidikan yang sesungguhnya sampai kalian merasakan menjadi mahasiswa kelas karyawan.

Ya, kelas karyawan. Sebuah ekosistem pendidikan di mana mahasiswanya tidak punya privilege untuk mengeluh capek, tidak punya waktu untuk fashion show OOTD di koridor kampus, dan tidak punya energi untuk ikut drama BEM yang penuh intrik politik kampus yang nggak penting-penting amat itu.

Sebagai alumni jalur “Sabtu-Minggu” (atau kadang kelas malam), izinkan saya menceritakan betapa brutal sekaligus heroiknya kehidupan di jalur ini. Jalur yang sering dianggap “kampus ruko” atau “beli ijazah”, padahal perjuangannya berdarah-darah.

Baca juga: Pengalaman Kuliah Sambil Kerja Part Time Selama 5 Tahun, Memungkinkan Dilakukan Asal Tahu Siasatnya.

Aroma kelas karyawan yang harum… bau minyak angin

Jika kalian masuk ke kelas reguler di UI, UGM, atau Unpad, mungkin aromanya adalah campuran parfum Baccarat kw super, aroma kopi Starbucks, dan bau keringat hormon anak muda yang meledak-ledak.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Tapi cobalah masuk ke kelas karyawan di kampus swasta daerah Jakarta Timur atau Bekasi pada Sabtu pagi. Aromanya sangat khas dan spiritual. Bau Freshcare, minyak kayu putih, dan koyo Salonpas.

Ini bukan kelas, ini bangsal geriatri berkedok pendidikan.

Mahasiswa kelas karyawan itu rentang usianya acak adut. Ada fresh graduate SMK usia 19 tahun yang terpaksa kerja karena ortu nggak mampu biayain kuliah. Ada staf admin usia 30-an yang mengejar gelar demi naik golongan. Bahkan ada juga bapak-bapak manajer operasional usia 50 tahun yang rambutnya sudah memutih semua, yang kuliah cuma biar di undangan nikah anaknya ada gelar S.E. di belakang namanya.

Duduk berdampingan dengan mereka mengajarkan saya satu hal. Pendidikan itu bukan soal usia, tapi soal seberapa kuat punggungmu menahan beban hidup.

Minggu bukan hari libur, tetapi hari penghakiman

Bagi manusia normal, hari Minggu adalah hari untuk rebahan, car free day, atau sunmori. Bagi mahasiswa kelas karyawan, Minggu adalah hari penyiksaan.

Bayangkan siklus hidup kami. Senin sampai Jumat (kadang sampai Sabtu setengah hari) kami bekerja 8-9 jam. Dimaki atasan, dikejar target penjualan, ngurusin klien yang rewelnya ngalahin bayi, dan bertarung dengan kemacetan jalanan yang biadab.

Badan sudah remuk redam. Otak sudah overheat. Tapi Sabtu sore atau Minggu pagi, saat orang lain masih selimutan, kami harus mandi, pakai kemeja rapi, dan berangkat ke kampus.

Di saat kalian nongkrong di coffee shop estetik, kami sedang duduk di kursi kayu yang keras, mendengarkan dosen menjelaskan “Teori Manajemen Strategis” atau “Hukum Perdata”. Mata kami menatap papan tulis, tapi pikiran kami melayang ke: “Besok Senin meeting bulanan, laporan belum kelar, cicilan motor jatuh tempo lusa.”

Jangan tanya soal fokus. Bisa duduk tegak tanpa ketiduran dan ngeces di meja saja sudah prestasi luar biasa. Dosen-dosen kelas karyawan pun biasanya maklum. Mereka tahu, mahasiswa di depannya ini bukan anak kemarin sore yang takut nilai E. Ini adalah para pejuang nafkah yang datang ke kampus membawa sisa-sisa kewarasan.

Anti-ribet club: kuliah pragmatis, lulus realistis

Satu hal yang saya suka dari kultur kelas karyawan adalah pragmatismenya. Di kelas reguler, sering ada mahasiswa ambis yang bertanya hal-hal njelimet cuma buat pamer kepintaran. Misalnya, angkat tangan lalu bilang, “Izin bertanya, Prof, bagaimana korelasinya dengan post-strukturalisme bla bla bla…”. Teman-teman sekelasnya akan memutar bola mata.

Di kelas karyawan, kalau ada teman yang nanya kepanjang-panjangan saat jam kuliah sudah mau habis, dia bisa dimusuhi satu angkatan.

“Woy, diem napa! Udah jam 5 sore nih, gue mau jemput anak ngaji!” teriak bapak-bapak di pojok belakang.

Kami tidak butuh teori yang muluk-muluk. Kami butuh ilmu yang bisa dipakai besok Senin di kantor. Atau minimal, kami butuh absen aman dan tugas kelar.

Mahasiswa kelas karyawan tidak punya waktu untuk ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Boro-boro ikut paduan suara atau mapala (mahasiswa pecinta alam), hobi kami cuma satu: tidur berkualitas.

Kami juga tidak peduli dengan politik kampus. BEM mau demo menurunkan Rektor? Silakan. Kami sibuk menurunkan tensi darah dan kolesterol. Bagi mahasiswa kelas karyawan, demo paling nyata adalah demo menuntut kenaikan gaji UMR ke HRD masing-masing.

Baca juga: 4 Opsi Pekerjaan biar Dapat Pemasukan sambil Kuliah.

Tugas kelompok adalah bencana bagi mahasiswa kelas karyawan

Ini bagian paling tricky. Tugas kelompok di kelas reguler mungkin dramanya cuma soal siapa yang free rider (numpang nama). Di kelas karyawan, dramanya adalah sinkronisasi jadwal yang mustahil.

“Yuk kerjain tugas malam ini,” ajak si A. “Nggak bisa, gue lembur audit akhir tahun,” jawab si B. “Gue juga nggak bisa, anak gue lagi demam,” sahut si C (Bapak-bapak). “Gue shift malam di pabrik, Bro,” timpal si D.

Akhirnya tugas dikerjakan via WhatsApp Group dengan sistem “Sangkuriang” (dikebut semalam sebelum dikumpul) atau menggunakan jasa joki tugas (maaf, ini rahasia umum). Bukan karena malas, tapi karena waktu 24 jam sehari itu rasanya kurang bagi kami yang memikul beban ganda sebagai pekerja dan pelajar.

Gelar sarjana bukan sekadar kertas

Banyak orang meremehkan lulusan kelas karyawan. “Ah, kuliahnya cuma Sabtu-Minggu, ilmunya dapet apa?”

Hei, jangan salah. Justru mentalitas kami sudah teruji baja.

Mahasiswa reguler lulus sarjana masih bingung cara bikin CV, bingung cara interview kerja, dan kaget pas pertama kali dibentak bos. Mahasiswa kelas karyawan? Kami sudah khatam. Kami kuliah sambil mempraktikkan ilmunya di dunia nyata.

Ketika kami akhirnya wisuda, memakai toga di usia yang mungkin tak lagi muda, rasanya beda. Ijazah itu bukan cuma tanda lulus akademis. Itu adalah trofi kemenangan karena kami berhasil tidak gila membagi waktu antara kerja, kuliah, dan keluarga selama 4 tahun.

Ijazah adalah bukti bahwa kami rela kehilangan waktu nongkrong, rela kehilangan waktu istirahat, dan rela menyisihkan gaji UMR yang pas-pasan demi membayar uang semesteran (tanpa subsidi orang tua).

Hormatilah mas-mas kemeja kotak-kotak di Sabtu pagi

Jadi, tulisan ini saya persembahkan untuk kalian: mas-mas cleaning service yang kuliah Hukum demi jadi pengacara, mbak-mbak kasir minimarket yang ambil jurusan Akuntansi demi kerja di bank, dan bapak-bapak security yang ambil jurusan Manajemen demi jadi kepala regu.

Kalian adalah MVP (Most Valuable Player) yang sesungguhnya di dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Dan buat adik-adik mahasiswa reguler yang masih suka ngeluh tugas kebanyakan: Malu dong sama bapak sebelah saya ini. Dia ngerjain makalah sambil nyusuin anaknya yang bayi, dan besoknya presentasi di depan direktur.

Kelas karyawan mengajarkan kami bahwa hidup itu keras, Bung. Dan satu-satunya cara melunakkannya adalah dengan terus belajar, meski mata sudah 5 watt dan punggung sudah ditempeli tiga lembar Koyo Cabe.

Salam hormat, dari kami yang kuliahnya disambi mencari cuan.

Penulis: Roh Widiono
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2026 oleh

Tags: kelas karyawanKuliahkuliah kelas karyawanMahasiswamahasiswa kelas karyawan
Roh Widiono

Roh Widiono

Seorang buruh ketik yang bercita-cita punya pabrik sendiri biar nggak perlu nyogok orang lain. Bisa disapa di Instagram: @teraskreator.

ArtikelTerkait

UNESA Jangan Buru-buru Mengejar World Class University, deh. Itu Kampus Ketintang Surabaya Masih Banjir, lho! unesa surabaya

UNESA Jangan Buru-buru Mengejar World Class University, deh. Itu Kampus Ketintang Surabaya Masih Banjir, lho!

1 Desember 2023
Kisah-kisah Horor dalam Ruang Bedah Mayat Fakultas Kedokteran terminal mojok.co

Kawanku, Tak Harus Kuliah Kedokteran untuk Jadi Mulia

11 Mei 2023
Risiko Kuliah di International Women University Bandung: Dibikin Minder sampai Dikira Transgender

Risiko Kuliah di International Women University Bandung: Dibikin Minder sampai Dikira Transgender

29 Februari 2024
update instastory

Surat Terbuka Teruntuk Mahasiswa yang Instastorynya Lancar Jaya Tapi Chat Grup Tugas Kuliah Tak Pernah Dibuka

14 Mei 2019
Seminar Proposal Itu Menguji Calon Skripsi Mahasiswa, Bukan Dosen Pembimbing. Jangan Terlalu Bergantung! (Mojok.co)

Seminar Proposal Itu Menguji Calon Skripsi Mahasiswa, Bukan Dosen Pembimbing. Jangan Terlalu Bergantung!

1 Desember 2023
Drakor 'Law School' dan Realita Mahasiswa Korea yang Ambis Pol terminal mojok

Drakor ‘Law School’ dan Realita Mahasiswa Korea yang Ambis Pol

5 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026
Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

23 Februari 2026
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Sidoarjo Nggak Perlu Capek-capek Saingan sama Surabaya, Cukup Perbaiki Jalan yang Lubangnya Bisa Buat Ternak Lele Saja Kami Sudah Bersyukur!

24 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah
  • Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah
  • 35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga
  • Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun
  • 7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga
  • Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.