Ancaman nyata kemunduran kota
Hilangnya jangkar ekonomi tadi membuat Peterongan Semarang kehilangan daya tariknya sebagai destinasi belanja. Pemilik modal yang masih punya napas panjang memutuskan angkat kaki. Mereka mencari lahan bisnis yang jauh lebih menjanjikan dan tertata.
Sementara, pelaku usaha yang tak punya pilihan, bertahan di toko dengan sisa-sisa dagangan yang ada. Sedihnya, barang dagangan mereka malah lebih sering dikerubungi debu tebal ketimbang calon pembeli.
Bahaya kemunduran kota di Peterongan jelas bukan isapan jempol. Secara psikologis, ketika sebuah kawasan yang pernah begitu lekat dengan transaksi ekonomi skala besar ditinggalkan, maka ada sinyal kuat penurunan kelas. Kalau tidak ada gebrakan dari pemerintah, daerah ini terancam terjerumus dalam nasib tragis.
Bukan tak mungkin, Peterongan akan terus terjebak dalam hiruk-pikuk pasar tradisional. Namun, mati pelan-pelan di sisi komersial modernnya. Tentunya, ini merupakan ironi bagi wilayah yang dulunya pernah jadi raja perdagangan di Semarang.
Mampukah pasar tradisional Peterongan Semarang bisa jadi penyelamat?
Memang, langkah revitalisasi Pasar Peterongan yang sudah berjalan patut diapresiasi. Kini, pasar tradisional tersebut menjadi aset paling berharga yang menjaga eksistensi Peterongan. Namun, seandainya pemerintah mampu menyelaraskan peremajaan pasar dengan pemanfaatan gedung tua bekas Pasaraya Sri Ratu, potensi berubahnya Peterongan menjadi area kumuh bisa ditekan.
Bagaimanapun, menatap gedung Sri Ratu yang kini mati suri memang menyisakan rasa sesak di dada. Bagi warga Semarang, bangunan lawas itu bukan sekadar tumpukan batu bata dan semen. Tapi, monumen keemasan yang pernah membuat Peterongan begitu disegani.
Kalau tidak ada lagi ide untuk menghidupkannya kembali, mungkin menyulapnya menjadi persinggahan para hantu bisa menjadi opsi yang layak. Selain memberi fungsi baru, ini bakal menambah daftar panjang mitos gedung angker di Kota Semarang yang justru sering kali sukses menarik rasa penasaran wisatawan. Toh, pada akhirnya juga bisa mendatangkan cuan.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













