Semahal dan semewah apa pun makanan yang pernah saya beli, tetap tidak bisa mengalahkan nikmatnya rasa nasi berkat tahlilan. Dari saking enaknya, saya tidak mau jika ditawarkan penyetan atau nasi goreng kalau di rumah lagi ada nasi berkat tahlilan. Padahal penyetan dan nasi goreng merupakan makanan favorit saya.
Ternyata setelah saya cerita ke pacar kalau nasi berkat tahlilan rasanya enak, dia juga sepakat. Pacar saya juga mengaku kalau suka makan nasi berkat tahlilan karena rasanya maknyus.
Persoalan nasi berkat yang nikmat menjadi tanda tanya besar. Kemarin malam, ketika saya sedang makan nasi berkat tahlilan, di kepala saya bertanya-tanya: kenapa sih nasi ini rasanya nikmat? Padahal lauknya sederhana. Biasanya dalam satu bungkus hanya berisi satu atau dua lauk pauk. Lauknya pun tidak mewah, biasanya ayam kecap/semur daging setengah potong. Mentok-mentok, paling istimewa ada urat kuah lodeh, itu pun jarang.
Baca juga: 5 Kelakuan Menyebalkan Saat Tahlilan, Saya Tulis Ini Supaya Orang-orang Bisa Refleksi.
Mitos soal nasi berkat tahlilan
Di sela-sela lamunan saya kemarin malam tentang kenapa nasi berkat tahlilan bisa nikmat, memori saya kembali mengingatkan momen pas masa kecil. Ternyata waktu kecil, saya pernah bilang ke mama dan mbah saya kalau nasi berkat tahlilan rasanya enak. Lalu, mama dan mbah saya punya jawaban yang mirip. Mereka bilang kalau nasi berkat tahlilan enak karena orang yang meninggal ikut masak.
Setelah teringat dengan jawaban itu, saya antara percaya dan tidak percaya. Percaya, karena saya dididik di tengah keluarga yang masih percaya nilai-nilai spiritual. Apalagi semakin dewasa, saya semakin sadar kalau tidak semua peristiwa bisa dijawab dengan akal. Seperti peristiwa empat tahun lalu, waktu saya melihat sandal terbang di dekat kamar.
Tetapi mendengar jawaban mama dan mbah, saya jadi memikirkan ulang. Saya melihat jawaban mereka seperti narasi mistis yang tersebar di masyarakat pada umumnya, misalnya larangan menebang pohon beringin karena kalau ditebang akan diganggu oleh penunggunya. Ternyata setelah dikaji ulang, mitos menebang pohon beringin adalah narasi orang dulu untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Sama dengan narasi larangan menebang pohon beringin, saya juga melihat narasi nasi berkat tahlilan terasa enak karena orang yang meninggal ikut memasak sebagai makna konotatif. Kan tidak mungkin orang yang meninggal ikut memasak karena secara rasional, dunia arwah dan dunia manusia adalah dua entitas yang sudah berbeda.
Saya melihat narasi orang yang meninggal ikut memasak bertujuan agar keluarga yang ditinggalkan punya motivasi menyediakan bahan makanan dengan baik, tidak asal jadi. Soalnya ketika mbah saya meninggal, saya pernah bertanya, “Kenapa beli bahan-bahan untuk bumbunya banyak banget?” Mama saya menjawab,”Untuk menghargai mbahmu. Kalau masakannya enak, mbah juga ikut bahagia di sana.”
Dari jawaban mama, saya mengerti kalau yang meninggal dunia tidak ikut memasak, tapi hadir sebagai motivasi keluarga untuk memberikan makanan layak kepada undangan agar bahagia. Dengan begitu, arwahnya senang melihatnya.
Baca halaman selanjutnya: Nasi Berkatan Adalah Bahan Baku Terbaik untuk Dijadikan Nasi Goreng.
Sederhana tapi terasa nikmat
Kalau diingat-ingat, memang saya tidak pernah melihat keluarga yang ditinggalkan, masak asal-asalan. Waktu mas ipar saya meninggal dunia, orang tuanya menyajikan bahan masakan berlimpah agar mendapatkan makanan yang lezat. Atau waktu tahlilan mbah saya dari ayah, keluarga juga menyediakan bahan masakan berlimpah.
Makanya tidak mengherankan, meski nasi tahlilan lauknya sederhana, tapi rasanya tetap terasa maknyus. Soalnya semewah apa pun lauknya kalau bumbunya ala kadarnya, masakannya akan terasa biasa saja.
Baca juga: Nasi Berkat Bungkus Daun Jati Terbaik, tapi Mulai Langka Tergerus Zaman.
Atau kalau mau dicari alasan yang lebih rasional, kenapa nasi berkat tahlilan rasanya nikmat? Soalnya dibungkus dalam waktu lama. Dari pengalaman saya, nasi berkat tahlilan dibungkus H-1 jam sebelum acara dimulai.
Ketika nasi dan lauk dibungkus dalam waktu yang lama, maka akan terjadi proses penyatuan antara nasi, lauk, dan bumbu. Proses itu terjadi secara alamiah karena uap nasi yang panas menjadi tertahan. Sehingga kelembaban yang terjadi di dalamnya membuat bumbu menyebar dan meresap. Alhasil, nasinya lebih beraroma karena tercampur dengan bumbu dan ikannya tambah gurih karena bumbunya makin meresap.
Persis seperti nasi Padang yang dibungkus. Kata Deddy Corbuzier, nasi padang yang dibungkus dan dibiarkan dulu, rasanya lebih nagih. Saya pernah mencobanya, membiarkan nasi Padang yang dibungkus beberapa jam. Alhasil, rasanya lebih nendang karena bumbunya sudah tercampur ke nasi dan meresap ke ikannya.
Ternyata segala yang nikmat, tidak selalu lahir dari hal-hal yang mahal dan istimewa. Ketulusan dan membiarkan yang lahir dari alam bekerja dengan alamiah, menjadikan yang sederhana akan terasa nikmat.
Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA 5 Lauk yang Secara Misterius Selalu Ada di Berkat Tahlilan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















