Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Nagih-Nagih Sampai Ngancam Denda 30 Juta, Negara dan BPJS Udah Kayak Debt Collector aja

Aliurridha oleh Aliurridha
31 Mei 2020
A A
bpjs kesehatan negara debt collector tenggelam Nagih-Nagih Sampai Ngancam Denda 30 Juta, Negara dan BPJS Udah Kayak Debt Collector aja

bpjs kesehatan negara debt collector tenggelam Nagih-Nagih Sampai Ngancam Denda 30 Juta, Negara dan BPJS Udah Kayak Debt Collector aja

Share on FacebookShare on Twitter

Saya punya seorang adik yang masih kuliah nyambi driver ojol. Dia mengkredit motor di salah satu finance. Kini di tengah situasi pandemi penghasilannya menurun drastis dan dia bersandar pada kebenaran dari ucal-ucal janji Jokowi yang ngumumin bakal ada keringanan kredit bagi yang terdampak pandemi.

Setelah mengurus leasing kredit dan berharap tidak dapat tagihan-–setidaknya sampai kondisi perekonomian menjadi lebih baik-–eh, ternyata suara cantik operator dengan dinginnya memperingatkan “cicilan bapak bulan ini sudah terlambat.” Artinya, janji keringanan tadi, realisasinya masih jauh panggang dari api.

Paman saya seorang pengusaha UMKM juga mengalami nasib yang tidak lebih baik. Usahanya bukan lagi terdampak, tapi ambyar karena corona. Kini ia hidup dari tabungan dan sangat berharap pada leasing kredit. Sayang sekali hanya potongan bunga yang jumlahnya sama sekali tidak membantu yang didapatnya.

Di tengah terpaan ambyarnya perekonomian yang membuat aset-aset (baca: barang dagangannya) mengendap begitu saja di toko, ditambah hutang kredit di bank jumlahnya tidak main-main, semuanya semakin ngenes saja ketika ucal-ucal Jokowi ternyata tidak lebih dari janji politisi – tidak meringankan sama sekali.

Kini, di tengah situasi yang mencekik ini, BPJS malah ikut-ikutan seperti para kreditur-–menagih para penggunanya seolah mereka memiliki hutang kredit. Belum lagi ditambah kelakuan negara yang sudah diputus MK untuk menurunkan BPJS, eh malah dinaikkan lagi. Tidak berhenti di situ kini negara getol-getolnya menagih para penunggak dengan ancaman denda hingga 30 juta. Rakyat saat ini bukannya tidak mau membayar tapi tidak mampu membayar. Saya tegaskan sekali lagi tidak mampu membayar. Buat makan saja susah, malah diancam denda 30 juta rupiah.

Sudah gitu situasi diperparah dengan perpanjangan tangan negara (baca: buzzer beserta para pemuja pemerintah) yang malah memojokkan saudaranya yang tidak mampu membayar dengan menyuruh stop berlangganan saja, “kalau mau butuh ya memang harus isi ulang” kata-kata yang sering keluar dari jempol halus mereka.

Siapa sih yang tidak butuh BPJS?

Secara konseptual, BPJS adalah jaminan kesehatan yang sangat sosialis, benar-benar mewakili spirit Pancasila. Ya meski masih ada pembagian kelas tapi bisa dimaklumi, kemampuan finansial setiap orang berbeda, yang penting tujuannya adalah memberikan jaminan kesehatan kepada warga negara dengan semangat gotong royong. Warga negara yang mungkin dulunya tidak pernah berpikir akan merasakan pelayanan kesehatan rumah sakit bisa merasakan. Kini tidak hanya orang kaya yang bisa berobat berkat BPJS.

Baca Juga:

Pengalaman Saya Melihat Langsung Pasien yang Malah Curiga dan Trauma ketika Berobat ke Puskesmas

Pengalaman Buruk Saya Dikejar Debt Collector di Jogja, Bikin Trauma dan Overthinking Saat Berkendara

Saya teringat bagaimana ketika mendaftarkan kakek saya untuk berobat ke rumah sakit setelah mengurus rujukan yang ribetnya minta ampun, tapi bagi kami tidak masalah toh kami memang butuh hal ini, maka prosedur administrasi yang njelimet pun akan kami amini.

Saat itu saya harus berangkat pukul 05.00 karena pukul 06.00 pendaftaran rumah sakit untuk pasien BPJS. Karena pasien BPJS hanya bisa mendaftar hari itu juga jadi paginya harus datang sendiri mengambil nomor antiran. Bagaimana jika ternyata dokter praktiknya tidak ada hari itu? Berarti kedatangan Anda pagi-pagi sekali menjadi sia-sia sekali. Sabar…. jadi penikmat fasilitas terjangkau memang harus terima konsekuensi seperti ini.

Rumah sakit menerapkan peraturan itu juga karena membludaknya pendaftar BPJS sehingga mereka membedakan antara pendaftar BPJS dan non-BPJS, pendaftar BPJS tidak bisa memesan dari jauh hari, apalagi memesan secara online, mereka harus mendaftar pukul 06.00 pagi untuk jadwal kontrol sore hari. Beda dengan mereka yang mampu membiayai sendiri kesehatannya tanpa gotong royong,mereka boleh daftar dengan cara apa pun tanpa perlu ngantri pagi-pagi, bahkan tanpa perlu datang ke rumah sakit dan mendaftar jauh-jauh hari. Zaman memang sudah online bapak-bapak ibuk-ibuk, tapi tidak untuk para fosil penikmat jasa BPJS.

Di rumah sakit saya dikagetkan dengan keramaian para pendaftar BPJS, padahal saat itu masih subuh, namun antrian sudah ramai seperti barisan penerima BLT. Dulu rumah sakit yang saya kunjungi ini nyaris seperti rumah hantu saking sepinya. Namun, begitu BPJS hadir, warga yang sebelumnya tidak pernah berobat ke rumah sakit, kini mulai merasakan bahwa negara itu ada dan memberanikan diri datang ke rumah sakit.

Warga negara rela mengantri sedini hari demi merasakan kasih sayang negara kepada mereka. Namun kini ceritanya berbeda, BPJS yang sebenarnya adalah marwah konstitusi balik mengancam, merongrongi, dan menakuti warga negara seolah-olah mereka adalah pengutang yang harus melunasi hutangnya bagaimanapun caranya.

Dengan ancaman penghentian pelayanan kesehatannya beserta ancaman denda 30 juta, sebagai warga, saya jadi merasa diteror oleh negara sendiri. Saya yakin semua orang tidak akan berkeberatan membayar BPJS. Saya melihat itu ketika mengantri pagi-pagi, warga negara yang dulunya pura-pura sehat karena tidak punya uang sekarang memberanikan diri ke rumah sakit berkat BPJS. Bagi kami, rakyat kecil ini, BPJS adalah sebuah simbol kepedulian negara kepada kami. Jika nanti perekonomian pulih kami pasti tidak keberatan untuk membayar BPJS.

Di saat situasi mencekik seperti ini, para kreditor masih getol-getolnya menagih cicilan kredit kami masih bisa maklum. Kami bisa menerimanya karena itu hutang yang harus dilunasi. Namun, jika BPJS yang mewarisi marwah konstitusi—yang seharusnya menjadi pelindung kami malah ikut-ikutan jadi debt collector, kepada siapa lagi kami bersandar?

BACA JUGA Solusi Defisit BPJS itu Bukan Cuma Naikin Iurannya! dan tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Mei 2020 oleh

Tags: bpjsdebt collectornegara
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

budaya indonesia receh sepele remeh integrasi bangsa persatuan kesatuan mojok

Budaya-budaya Indonesia Sepele yang Sebenarnya Memperkokoh Integrasi Bangsa

11 April 2020
Apa Salahnya Lulusan Sarjana Jadi Debt Collector? Pekerjaan Ini Legal dan Punya Etika kok Mojok.co

Apa Salahnya Lulusan Sarjana Jadi Debt Collector? Pekerjaan Ini Legal dan Menghasilkan kok

2 Januari 2024
iuran bpjs

Sambat Sejenak : Duh Iuran BPJS Kesehatan Naik Dua Kali Lipat

3 September 2019
PT KAI Adalah Contoh untuk Negara dan BUMN: Tidak Ada Kufur Nikmat dari Keluhan Rakyat

PT KAI Adalah Contoh untuk Negara dan BUMN: Tidak Ada Kufur Nikmat dari Keluhan Rakyat

27 Agustus 2022
Influencer Bukanlah Dewa, dan Kalian Nggak Perlu Membela Mereka

Pandemi, Kuda Poni, dan Negara yang Hobi Mengurusi Moral

21 September 2021
3 Alasan Pejabat Sebaiknya Nyoba Magang Jadi Debt Collector

3 Alasan Pejabat Sebaiknya Nyoba Magang Jadi Debt Collector

28 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.