Moshpit Selalu Dirindukan Meski Membuat Lebam – Terminal Mojok

Moshpit Selalu Dirindukan Meski Membuat Lebam

Artikel

Prabu Yudianto

Sepatu diikat kencang. Gawai disimpan baik-baik, atau dititipkan pada teman. Adrenalin menyembur akal. Dan badan terayun-ayun tanpa kendali. Kira-kira seperti ini gambaran seseorang saat berada di dalam moshpit. Kultur bawah tanah ini tidak pernah sepi peminat. Meskipun banyak pandangan miring terhadap budaya ini.

Moshpit sendiri lebih merujuk pada sebuah area saat konser atau gigs. Area khusus yang biasa di depan panggung ini adalah tempat bagi mereka untuk menari segila-gilanya. Tarian yang dilakukan adalah moshing. Moshing sendiri tidak punya aturan khusus. Pokoknya loss doll ra rewel. Benturkan badan Anda satu sama lain mengikuti irama musik yang dimainkan. Ayunkan tangan dan kaki kemana-mana.

Kegiatan ini selalu hadir dalam konser musik keras. Entah metal, hardcore, atau punk, Anda akan menemukan satu area “suci” di mana banyak manusia menari dengan saling membenturkan badan dengan beringas.

Maka, Anda tidak akan menemukan moshpit di klub malam yang memutar musik EDM. Apalagi di acara akustikan yang mellow. Jika Anda menemukannya saat konser Payung Teduh, Anda berhak mempertanyakan akal sehat mereka.

Oleh karena saling membenturkan diri, moshpit rawan membuat mosher cedera. Tidak jarang cedera ini cukup parah sampai perlu dievakuasi. Saya pribadi selalu membawa cenderamata berupa lebam atau sudut bibir sobek setelah keluar dari lingkaran mosh.

Tapi, tetap saja hal ini selalu dirindukan penikmatnya. Kadang, lebam dan nyeri akibat moshing malah dicari-cari. Oleh karena kecenderungan ini, banyak stigma negatif terhadap peminatnya.

Stigma paling umum adalah sebagai ajang rusuh. Ada juga yang memandang moshpit berisi orang-orang yang kecanduan rasa sakit. Berbagai stigma ini sebenarnya terbantahkan ketika Anda masuk ke dalam lingkaran. Tapi, izinkan saya menjawab alasan dan membantah stigma ini mewakili teman-teman.

Moshpit lahir dari kultur punk di Inggris. Menurut sejarah, kultur ini lahir dari kelas pekerja. Maka tidak heran jika moshpit hadir pada malam hari, saat para pekerja ini sudah pulang kerja. Sembari mereka mendengarkan musik berirama kasar dan keras, tubuh mereka mengikuti irama cadas ini.

Di sinilah ekspresi mereka meluap. Bisa dimaklumi, beban kerja yang berat perlu pelampiasan. Apalagi pekerjaan fisik yang monoton seperti pekerja pabrik. Setiap ayunan tubuh mereka adalah cara para punker melepas beban kerja ini. Setidaknya sampai esok hari ketika mereka harus bekerja kembali.

Di dalam pit, tidak ada kedok-kedok yang mereka pakai selama bekerja. Mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dipecat. Kesempatan yang baik ini diwujudkan dengan tarian amburadul penuh adrenalin ini. Tarian tanpa aturan ini juga melawan konsep tarian terstruktur ala ruang dansa karena memang tidak ada karakter yang harus dijaga.

Benturan tubuh ini juga punya efek positif, meskipun lebih seperti dipaksakan. Dengan saling membenturkan tubuh, para mosher seperti sedang dipijat. Tubuh yang dipaksa untuk bekerja monoton akhirnya bebas. Meskipun lebam, tapi tubuh lebih segar setelah bekerja keras. Tapi, tidak jarang pulang dari gigs malah membuat terkilir sehingga perlu dipijat juga.

Toh, masuk ke moshpit seperti menandatangani perjanjian. Semua luka yang muncul akan menjadi tanggung jawab personal. Jadi, tidak ada sakit hati.

Memang, moshpit terlihat liar dari luar. Tapi, ada aturan baku yang tidak pernah hilang meskipun moshpit sangat kacau. Pertama, semua yang berada di dalam pit adalah setara. Kedua, setiap mosher harus melindungi satu sama lain meskipun sedang saling tubruk.

Saya pernah merasakan budaya positif ini. Saat kuliah, saya masuk ke dalam moshpit sebuah konser hardcore. Entah karena lalai atau kecapaian, saya terpeleset di tengah-tengah. Seketika saya meringkut bertahan. Saya pikir saya akan habis diinjak-injak orang.

Yang saya temukan adalah uluran tangan. Orang asing ini membantu saya berdiri sambil mencegah saya ditubruk saat bangkit. Setelah memastikan saya tidak cedera parah, dia menepuk-nepuk pundak saya dan mengajak moshing lagi. Seketika saya seperti menemukan sahabat baru, meskipun setelah konser blio menghilang.

Hal seperti ini tidak akan terlihat dari tepi konser. Budaya egaliter yang saling melindungi ini hanya terasa ketika kita berada langsung di dalam. Stigma negatif hadir dari penilaian ampas tanpa memahami kultur moshing itu sendiri.

Tapi, saya tidak menutup fakta jika ada manusia yang berniat rese. Bermodal mabuk, beberapa orang memang ingin mencari masalah di dalam pit. Tapi, itu hanya segelintir saja. Toh orang seperti ini bisa hadir di berbagai konser. Dari dangdutan sampai campursarinan Almarhum Didi Kempot.

Tapi, janganlah karena nila setitik rusak susu sebelanga. Moshpit tetap dirindukan bukan sebagai ruang rusuh. Moshpit dirindukan sebagai ruang ekspresi bebas, egaliter, dan panti pijat berbasis musik keras.

BACA JUGA Upah Layak, Tanah Murah, atau Lapangan Pekerjaan: Mana yang Lebih Worth It bagi Pekerja Jogja? dan artikel Prabu Yudianto lainnya.

Baca Juga:  Kata Siapa Negara Bekas Jajahan Inggris Itu Lebih Maju?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
6


Komentar

Comments are closed.