Kenangan Saya akan Moro Mall, Pusat Perbelanjaan Kebanggaan Purwokerto yang Kini Gulung Tikar

Kenangan Saya akan Moro Mall, Pusat Perbelanjaan Kebanggaan Purwokerto yang Kini Gulung Tikar

Kenangan Saya akan Moro Mall, Pusat Perbelanjaan Kebanggaan Purwokerto yang Kini Gulung Tikar (Pixabay.com)

Tadi pagi, saya melihat sebuah postingan di feed instagram bahwa per 16 November 2023 Moro Mall Purwokerto resmi ditutup. Sebenarnya wacana ini sudah diumumkan sejak bulan Agustus 2023. Namun, manajemen menggunakan sisa waktu yang ada untuk menghabiskan stok barang yang ada di dalam Moro Mall.

Ketika mendengar berita tersebut, khayalan saya melayang ke masa lampau. Membawa saya kepada masa kejayaan mall yang terletak di Purwokerto tersebut. Mengingat masa kecil saya yang sedikit banyak dihabiskan untuk berbelanja sekaligus berekreasi di sana.

Kini, Moro telah sampai di akhir masa jayanya. Semua masyarakat yang pernah menjadikan tempat ini sebagai kiblat pusat perbelanjaan di Barlingmascakeb sudah rela dengan kepergiannya. Satu hal yang tidak bisa lekang oleh waktu adalah “kenangan”. Ia akan terus berpijar bagaikan sang surya yang mengelilingi bumi tanpa henti.

Lantas, apa yang membuat mall yang terletak di kota satria ini bersemayam dalam kenangan? Bukan saja kenangan saya, tapi semua warga Banyumas khususnya dan masyarakat Bralingmascakeb pada umumnya.

Wahana permainan “Fun World” terlengkap pertama di Purwokerto

Sebelum menginjak bangku sekolah, saya sering diajak orang tua untuk berkunjung ke Moro Mall. Sembari belanja kebutuhan toko kelontong, ibu menyempatkan diri untuk mengajak saya ke wahana permainan yang ada di Moro. Waktu itu, sependek ingatan saya, harga satu koin di wahana permainan Fun World hanya seharga seribu rupiah. Dengan uang sepuluh ribu rupiah, saya sudah bisa menjajal semua wahana yang ada di sana dengan kegembiraan yang membuncah.

Selain itu, pilihan wahana permainan yang melimpah membuat saya tak merasa bosan. Meski ada beberapa wahana permainan yang memerlukan dua koin untuk sekali main. Tak masalah, bagi anak yang waktu itu belum menginjak usia lima tahun, menumpaki wahana permainan kuda yang hanya mengangguk-ngangguk saja sudah menjadi sebuah kemewahan. Moro menjadi primadona anak kecil seperti saya, menghabiskan waktu luang bersama keluarga sembari bermain di “Fun World” terlengkap pertama di Kota Satria.

Baca halaman selanjutnya: Mall dengan harga ramah…

Mall dengan harga yang ramah

Ibu saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke Moro saat berada di Purwokerto. Mungkin, hampir sebulan sekali ibu saya menyempatkan diri untuk membeli keperluan toko di supermarket yang terletak di kota penghasil mendoan ini. Pusat perbelanjaan masyarakat Banyumas ini memang menjadi langganan para penjaja toko kelontong seperti ibu saya. Mengingat harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Bahkan ada harga khusus jika pembelian di atas jumlah yang ditentukan.

Selain itu, setiap pembeli yang berbelanja dengan kelipatan Rp50.000 akan mendapatkan kupon yang akan diundi di setiap tahunnya. Ini menjadi salah satu strategi marketing yang cukup berhasil pada masanya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Moro Mall mulai pudar oleh kehadiran supermarket dan pusat perbelanjaan lain di Purwokerto.

Food Court Moro Mall, tempat makan dengan view yang memukau

Saat masih mukim di pondok mahasiswa, saya sering kali bermain ke food court yang berada di lantai lima gedung Moro Mall. Meski hanya membeli segelas teh Tong Tji, saya begitu antusias dan merasakan kegembiraan yang melimpah. Kenapa? Karena pusat kuliner yang berada di lantai lima ini benar-benar bersih. Selain itu, jumlah bangku dan kursi yang disediakan pihak Moro Mall begitu banyak. Meski banyak pengunjung yang makan di sini, saya nggak pernah takut kehabisan bangku seperti makan di Mie Gacoan.

Mata para pengunjung pun disuguhkan dengan pemandangan indah Kota Satria. Dari Food Court, saya bisa melihat bangunan, gedung dan rumah-rumah yang mulai memenuhi sudut-sudut Kota Purwokerto. Saya rasa, tempat ini menjadi lokasi paling nyaman berburu senja sembari menikmati hidangan yang tersedia. Selain pilihan menu makanan yang beragam, harganya pun sangat terjangkau. Bahkan, bagi mahasiswa mendang-mending seperti saya, yang setiap akhir bulan selalu makan dengan sebungkus Indomie.

Moro Mall boleh tutup, tapi kenangan akan masa kecil saya akan selalu berputar layaknya piringan hitam yang masih mengalun di alam bawah sadar. Kalau kalian ada kenangan apa di Moro Mall, Sedulur? Cerita di kolom komentar, dong!

Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saatnya Purwokerto Memisahkan Diri dari Kabupaten Banyumas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version