Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
25 Februari 2026
A A
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya akhirnya bisa pulang ke kampung halaman di Kabupaten Lembata NTT setelah sekian lama merantau ke Jawa. Selain rasa rindu, ada semacam rasa kaget ketika pulang. Kampung halaman saya berubah ke versi lain. Masih bisa dikenali, hanya terasa berbeda saja. 

Agar kalian bisa ikut membayangkannya, pulang ke Lembata NTT setelah sekian lama merantau itu seperti mendengar lagu lawas yang diaransemen ulang. Lagunya sama, liriknya tak banyak berubah, tapi terasa berbeda karena diberi aransemen yang mengikuti zaman. Itu mengapa, pengalaman pulang kampung yang saya pikir akan biasa saja, justru banyak culture shock-nya.  

#1 Lembata NTT jadi punya jalan bagus dan banyak gedung baru 

Sejauh ingatan saya, perjalanan dari kota ke kampung itu memakan waktu sekitar 1 jam. Jalanan waktu itu memang sudah aspal, tapi banyak lubang. Bahkan, beberapa lubang sangatlah dalam. Apabila hujan datang, airnya akan menggenang di sana seperti kolam. 

Selain itu ada jalur yang kondisinya masih tanah. Jadi kalau panas akan sangat berdebu, sementara ketika hujan akan sangat licin dan berlumpur. Kondisi itu membuat jalur ini sangat menakutkan ketika dilalui malam hari.

Akan tetapi, setelah bertahun-tahun merantau dan kembali lagi ke sana, jalanan kini sudah mulus. Setidaknya bisa buat ngebut. Durasi tempuhnya pun jadi hanya 30 menit dari kota ke kampung saya.

Tentu hal seperti ini memudahkan aspek lain. Mulai dari logistik yang lebih lancar ketika ada keadaan darurat seperti ada yang sakit, ambulance pun jadi lebih cepat. Kampung saya terasa jadi lebih dekat dari dunia luar. 

Selain jalan, perubahan lain di Lembata NTT yang menyita perhatian adalah gedung baru. Sewaktu kecil, banyak lahan kosong. Dan, itu jadi ruang paling ideal dan demokratis karena siapapun boleh datang, tidak ada waktu baku, dan bisa digunakan untuk bermain apapun.

Saya ingat dahulu ada sebuah lahan kosong persis di sebelah sekolahan. Di situ saya dan kawan-kawan bermain bola. Kini di sana sudah berdiri gedung lumayan tinggi. 

Baca Juga:

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Melihat kenyataan ini sebenarnya ada rasa sedih. Bukan cuma kehilangan tempat, tapi juga kebiasaan-kebiasaan konyol yang saya dan kawan-kawan lakukan dulu. Tempat menunggu teman, tempat berdiskusi soal hal-hal aneh, atau berdebat soal siapa yang pantas menjadi striker saat bermain bola nanti.

#2 Bepergian terasa lebih dekat

Dahulu rasanya jarak satu lokasi dengan lokasi lain itu begitu jauh. Tapi, sekarang jadi lebih dekat. Entah kenapa, waktu kecil jalan kaki atau sepeda ke lokasi A yang jarak 5 km terasa jauh. Jauh di sini bukan maksudnya bikin capek, tapi lebih ke banyak hal yang dilalui dan merasa akan repot kalau orang tua tahu. Tapi saat dewasa dan melalui rute yang sama, ternyata jaraknya pendek, cepat, dan cuma segitu.

Kondisi itu bikin merasa kampung jadi terasa makin mengecil. Padahal ya memang dari dulu cuma segitu-gitu aja jaraknya. Versi diri yang dulu sepertinya terlalu meromantisasi dan hiperbolis ketika main di tetangga jauh, sudah dianggap seperti merantau.

Baca juga Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya.

#3 Di Lembata NTT mulai muncul toko-toko besar

Di Lembata NTT mulai bermunculan toko-toko besar. Tentu saya kaget ketika di daerah saya sudah berdiri toko serba guna Mr. DIY. Ini jadi kemajuan peradaban yang signifikan di daerah saya. 

Setidaknya, warga Lembata sudah bisa lebih update dengan barang keluaran terbaru dengan kualitas yang bagus. Contoh sederhana tumbler. Setidaknya nggak terbatas pada pilihan toko perabotan yang kualitasnya tentu tidak sebagus di MR.DIY. Hanya saja, hingga saat ini belum kelihatan tanda-tanda berdirinya Indomaret atau Alfamart di sana.

#4 Masuknya sinyal internet mengubah banyak hal 

Kemudahan akses internet juga dirasakan di Lembata NTT. Kemudahan ini mengubah banyak hal di sana. Kalau ingat jaman dulu, sekadar telpon saja ada lokasi khusus di kampung. Nggak sembarangan telponan di dalam atau halaman rumah. Soal internet tentu lebih parah.

Akan tetapi, ketika internet masuk seperti sekarang, budaya nongkrong pun bergeser. Dulu banyak bercerita, kini kita banyak menunduk, entah mabar game online, atau sibuk dengan media sosial masing-masing. Kondisi itu tentu bikin saya kaget tapi di sisi lain mewajarkan. Sebab di zaman sekarang, kehidupan manusia memang lebih banyak dihabiskan di layar gawai.

Baca juga 6 Fakta Tentang Nusa Tenggara Timur yang Harus Kalian Tahu.

#5 Teman-teman menjalani hidup masing-masing

Terakhir dan yang paling bikin syok adalah teman-teman yang sudah menikah dan punya anak. Di sini saya merasa pulang kampung itu bukan kembali ke waktu yang sama, tapi datang bertamu ke fase hidup orang lain. Sebab teman-teman saya yang sudah menikah tentu punya kehidupan yang jauh berbeda dari yang dulu.

Status membuat pembicaraan soal nostalgia masa kecil hanya sebagai pemanis, inti bicaranya sudah beralih soal pekerjaan, anak, pasangan, mertua, dan hal lain yang kadang bikin saya gagap untuk merespon. Lah mau merespon bagaimana kalau saya sendiri masih belum menikah.

Dari semua perasaan itu, pada akhirnya saya merasa culture shock saya ini bukan hanya soal Lembata yang berubah, tapi juga diri sendiri yang memang pulang dengan versi yang berbeda. Tapi, yang jelas, kampung halaman selalu bisa menjadi cermin yang memantulkan dua wajah sekaligus, yaitu wajah masa kecil yang masih ingin percaya semuanya tidak berbuah, dan wajah dewasa yang sadar bahwa waktu tidak pernah berhenti menata ulang apapun.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA  Nestapa Hidup di Kabupaten Lembata.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: Jawakampng halamanlembatalembata NTTmerantauNTTperantauPulang Kampung
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

obituari iman budhi santosa terminal mojok.co

Iman Budhi Santosa Wong Jawa Tenan

18 Desember 2020
Kalau Istilah 'Kampungan' Artinya Udik, Kenapa Nggak Ada Istilah 'Kotaan' yang Artinya Tamak? terminal mojok.co

Menyanyikan Maesaroh: Cara Jitu Untuk Menyuruh Anak Pulang Kampung

15 Mei 2019
kampung halaman

Apa Cuma Saya yang Lebih Suka di Perantauan Daripada di Kampung Halaman?

10 Juni 2019
Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu

Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu

24 April 2020
Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

15 Februari 2024
Bagi Orang Madura, Bahasa Madura Tak Kalah Njelimetnya dengan Bahasa Inggris madura united bahasa daerah

Orang Madura Tak Lagi Merantau untuk Mengais Rezeki, tapi Adu Gengsi!

18 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?
  • Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi
  • Gagal Kuliah Kedokteran karena Bodoh dan Miskin, Malah Dapat Telepon Misterius dari Unair di Detik Terakhir Pendaftaran
  • Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif
  • Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.