Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

Muhammad Reza Satria Dewangga oleh Muhammad Reza Satria Dewangga
2 April 2026
A A
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti halnya manusia yang sedang jatuh cinta, menggalau, dan kemudian menemukan titik akhir dari cintanya. Atau mungkin stagnan pada satu kondisi yang seringkali kita kenal dengan sebutan gagal move on (gamon). Kota, sebuah entitas wilayah dan kedaerahan juga dapat mengalaminya. Mojokerto contohnya.

Jika Anda berkunjung ke Mojokerto, saya harap jangan terkejut bila kota ini tampak dibangun dengan satu warna dominan: merah bata. Ya, tentu tidak semuanya berbahan bata merah, ada pula tembok semen, baja ringan, dan material modern lain. Namun entah mengapa, hampir selalu ada usaha untuk memberi sentuhan akhir agar bangunan tersebut Nampak terkesan kuno, layaknya berasal dari era Majapahit.

Bata merah menjadi semacam penanda cinta yang belum selesai. Ia ditempelkan di mana-mana, seolah tanpa itu Mojokerto kehilangan rasa percaya diri. Seakan-akan, tanpa estetika Majapahit, kota ini takut terlihat kurang gagah.

Jujur, selaku warga Mojokerto yang sedari kecil selalu diiringi hidupnya dengan kisah kejayaan Majapahit, candi-candi yang jadi tempat jujukan, hingga keagungan Gajah Mada yang konon telah menyatukan Nusantara. Penampakan batu bata merah sudah menjadi pemandangan umum sebagai bahan utama bangunan di kota yang berjarak sekitar 50 km dari Surabaya ini. Hampir setiap sudut kota, wacana pembangunan, poster acara kebudayaan, hingga omong-omong dari tiap pejabat yang ada, selalu kembali pada satu mantra sakral: Majapahit.

Setiap kali ada proyek baru, narasinya kurang lebih sama. Bata merah dimunculkan. Ornamen dibuat “bernuansa kerajaan”. Bahasa promosi dipenuhi kata-kata seperti kejayaan, pusat peradaban, dan warisan leluhur.

Saya kadang bertanya-tanya, “Ini pembangunan kota atau museum nostalgia?”

Sejarah yang dijadikan konten estetika di Mojokerto

Jika Mojokerto punya FYP sendiri layaknya TikTok, isinya mungkin nggak jauh-jauh dari Majapahit. Ada candi, ada relief, ada kostum kerajaan, atau hal-hal yang dibikin terkesan primitif tapi wah. Semuanya dinampakkan secara visual, bata merah diambil, tapi struktur sosialnya ditinggal. Simbol kerajaan dipajang, tapi dinamika masyarakatnya dilupakan.

Contohnya gini, apakah wajar ketika ada monumen yang sejak awal dibangun untuk memperingati perjuangan rakyat di masa revolusi, tentang ingatan perjuangan penuh darah dan nyawa yang disimbolkan dengan selongsong peluru, tiba-tiba dirombak tanpa sebab yang jelas, lalu disulap menjadi gapura bergaya candi, tapi tetap dicap sebagai monumen perjuangan?

Baca Juga:

Jalan Mojokerto Mulai Banyak yang Berlubang, Gus Barra, Njenengan di Mana?

Pengalaman Menginap di Bobocabin Pacet Mojokerto: Tenang dan Nyaman, tapi Nggak Cocok buat Penakut

Akibatnya apa? Narasi perjuangan rakyat menghilang. Ingatan tentang revolusi pelan-pelan tergeser. Yang tersisa adalah kenampakan estetika bata merah dan klaim “bernuansa Majapahit” secara visual. Seolah-olah semua fase sejarah Mojokerto harus tunduk dan menyesuaikan diri pada satu era yang dianggap paling prestisius.

Dalam kacamata sejarah, ini bukan sekadar soal selera desain. Ini soal penghapusan memori. Revolusi kemerdekaan adalah sejarah yang dekat, politis, dan tidak nyaman. Ia mengingatkan kita pada kekerasan, konflik, dan pengorbanan. Menggantinya dengan estetika candi terasa jauh lebih aman dan tentu saja, lebih instagramable.

Tapi, siapa juga yang berani menolak identitas Majapahit yang penuh kejayaan itu? Siapa pula yang tega mempertanyakan proyek berlabel sejarah, ketika sudah dibungkus jargon pelestarian budaya?

BACA JUGA: Kesalahpahaman tentang Mojokerto yang Perlu Saya Luruskan

Kapal karam sebelum berlayar

Ada lagi, sebuah proyek pujasera di Mojokerto berbentuk replika kapal bergaya Majapahitan. Proyek yang dijual sebagai ikon sejarah dan daya tarik wisata. Sekalipun, sejak awal publik pun bertanya-tanya tentang kapal ini sebenarnya untuk apa?

Apakah ia dirancang sebagai ruang edukasi sejarah maritim Majapahit? Apakah ada konsep kuratorial yang menjelaskan peran perkapalan dalam jaringan dagang Nusantara abad ke-14? Ataukah kapal ini sekadar properti raksasa, sebuah latar swafoto yang diharapkan cukup ampuh untuk menyulap ingatan sejarah menjadi komoditas wisata? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah benar-benar dijawab, dan mungkin memang tak pernah dimaksudkan untuk dijawab.

Yap, keinginan dan pengajuan pertanyaan itu rasanya harus kami pendam dulu. Nyatanya, proyek tersebut memang mangkrak karena korupsi. Kini ia berdiri hidup segan mati tak mau, lebih mirip monumen kebingungan daripada ikon wisata sejarah.

Setiap musim hujan datang, kawasan di sekitarnya kerap dianugerahi banjir yang menggenang. Air naik, fasilitas rusak, dan fungsi kapal semakin tidak jelas. Alih-alih menjadi ruang edukasi sejarah. Di titik ini, kasus korupsi yang menyeret proyek tersebut terasa bukan lagi sebagai kejutan, melainkan konsekuensi logis. Ketika sejarah dipakai sebagai kedok, fungsi diabaikan, dan kritik dianggap gangguan, yang tersisa hanyalah proyek mahal tanpa masa depan.

Kapal itu akhirnya benar-benar “karam”. Bukan di laut lepas layaknya armada Majapahit yang sering dibanggakan, melainkan di daratan Mojokerto sendiri, tenggelam dalam genangan air hujan, laporan audit, dan akal sehat yang sejak awal diabaikan.

Padahal, dalam praktiknya, yang dilestarikan sering kali bukan sejarah, melainkan anggaran. Bata merah dan ornamen candi berfungsi sebagai kamuflase yang efektif nan aman. Di baliknya, fungsi, urgensi, dan manfaat publik jadi urusan belakangan.

Tempel saja, semuanya aman

Absurdnya romantisasi Mojopahit di Mojokerto tidak berhenti di proyek mercusuar atau monumen. Ia bahkan merembes ke pengalaman personal saya sendiri. Suatu ketika, saya pernah terlibat dalam sebuah lomba mengolah hasil perikanan. Di sana hadir beragam menu yang, jujur saja, cukup kreatif baik dari segi teknik, tampilan, maupun cerita bahan lokal yang diangkat.

Namun jangan senang dulu, pemenangnya justru datang dari menu yang secara konsep paling sederhana. Bukan karena inovasi pengolahan, bukan pula karena rujukan sejarah kuliner yang kuat. Menu itu menang karena satu hal, yakni mencantumkan kata “Majapahit” dalam namanya.

Ironisnya, olahan tersebut adalah gurame crispy dengan saus tomat asam manis. Sebuah menu yang, sejauh pengetahuan saya sebagai lulusan Ilmu Sejarah, tidak pernah saya temui dalam prasasti, naskah kuna, ataupun relief candi mana pun.

Di titik itu saya sadar, Majapahit rupanya bukan lagi soal sejarah. Ia telah berubah menjadi jimat. Cukup tempelkan nama Majapahit, maka nilai tambah seolah otomatis muncul, tak peduli apakah relevan, kontekstual, atau sekadar cocok lidah juri. Inilah tahap paling komikal dari romantisasi sejarah: ketika Majapahit tidak lagi dirujuk untuk dipahami, melainkan dipakai untuk memenangkan lomba.

Dari sekian kompilasi cerita itu, ada satu hal yang rasanya kurang mengenakkan. Ketika semuanya berlindung di balik nama sejarah dan pelestarian budaya, rasanya akal sehat diminta menepi. Kritik berubah menjadi tindakan tidak sopan, pertanyaan dianggap gangguan, dan keraguan dicurigai sebagai sikap tidak nasionalis.

Sejarah pun diperlakukan layaknya payung sakti, yang cukup dibentangkan, maka segala kebijakan di bawahnya otomatis tampak sah-sah saja.

Penulis: Muhammad Reza Satria Dewangga
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Sepakat kalau Mojokerto Dianggap Kota Layak untuk Hidup Bahagia sampai Tua, asalkan…

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 April 2026 oleh

Tags: identitas mojokertomajapahitMojokertosejarah mojokertositus sejarah di mojokerto
Muhammad Reza Satria Dewangga

Muhammad Reza Satria Dewangga

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang dengan minat pada sejarah busana dan kajian kebudayaan. Kerap menulis dari persimpangan sejarah dengan identitas mengenakan sarung sebagai bagian dari keseharian.

ArtikelTerkait

Pengalaman Mengecewakan Berkunjung ke Pacet Mojokerto: Ketemu Pedagang yang Mematok Harga Nggak Wajar sampai Dikejar Calo Vila

Pengalaman Mengecewakan Berkunjung ke Pacet Mojokerto: Ketemu Pedagang yang Mematok Harga Nggak Wajar sampai Dikejar Calo Vila

25 Juli 2024
sendi 3 Alasan Utama Mojokerto Masih Asing di Telinga Orang terminal mojok

Sendi, Desa Hilang yang Berjuang Mendapatkan Pengakuan

25 Juli 2021
Pengalaman Menginap di Bobocabin Pacet Mojokerto: Tenang dan Nyaman, tapi Nggak Cocok buat Penakut

Pengalaman Menginap di Bobocabin Pacet Mojokerto: Tenang dan Nyaman, tapi Nggak Cocok buat Penakut

28 Januari 2026
Kasta Tertinggi Onde-Onde Mojokerto yang Pantas Dijadikan Oleh-oleh Mojok.co

Kasta Tertinggi Onde-Onde Mojokerto yang Pantas Dijadikan Oleh-oleh

8 Juli 2025
5 Lokasi yang Diyakini sebagai Sarang Tilang Polisi di Mojokerto

5 Lokasi yang Diyakini sebagai Sarang Tilang Polisi di Mojokerto, Pastikan Kendaraanmu Lengkap Saat Lewat Sini

9 Oktober 2024
Mojosari, Kecamatan Paling Ideal di Mojokerto untuk Jadi Tempat Pensiun Mojok.co

Mojosari, Kecamatan Paling Ideal di Mojokerto untuk Jadi Tempat Pensiun

13 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Purwokerto Murah? Murah untuk Siapa? Kenapa Warga Asli Tidak Merasakannya?

27 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.