Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
19 Juli 2026
A A
Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok (Gunawan Kartapranata via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kita bicara soal branding kuliner Lamongan, kita bisa sepakat kalau soto adalah panglima tertingginya. Kuah kuning kental penuh koya itu sudah sukses menjajah lidah masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Namun, Lamongan sebenarnya punya satu prajurit lagi di garis belakang yang namanya sering kedengaran sebagai julukan kabupaten ini, yakni tahu campur.

Bagi sebagian orang, terutama yang hidup di ceruk kebudayaan Jawa Arek seperti Surabaya dan Malang, menu satu ini adalah hidangan yang memicu air liur. Bentuknya meriah. Dalam satu piring ada potongan tahu, lontong, soun, taoge, selada, lentho (perkedel singkong), hingga potongan daging sandung lamur dan otot sapi yang kenyal-kenyal penuh lemak. 

ADVERTISEMENT

Semua itu berenang di dalam kuah kaldu sapi pekat yang di bawahnya sudah diolesi petis udang dan blenderan udang segar. Mendengarnya saja, isi piring ini tampak seperti sebuah festival protein yang mengenyangkan sekaligus padat gizi. Di atas kertas, tahu campur adalah sebuah kuliner pesisir yang terlihat sangat menjanjikan.

Namun, mari kita kesampingkan dulu teks-teks promosi wisata yang penuh puja-puji itu. Sebagai orang Lamongan asli yang sejak kecil dicekoki oleh berbagai aroma masakan rumahan, saya harus melontarkan sebuah pengakuan yang jujur. Mohon maaf, bagi saya tahu campur adalah jenis kuliner yang nggak semua orang bisa cocok. Bahkan untuk lidah lokal seperti saya. Iya, tahu campur itu sejujurnya tak seenak itu.

Perang rasa yang membuat lidah bingung

Alasan utama kenapa tahu campur Lamongan menjadi kuliner yang sangat segmental adalah karena ia menawarkan sensasi rasa yang terlalu mengejutkan, kalau tidak mau dibilang membingungkan, bagi sebagian orang.

Bayangkan saja, Anda menghadapi piring berisi kuah kaldu sapi yang gurih dan beraroma smokey karena dimasak lama. Tapi di saat yang sama, lidah Anda harus bertabrakan dengan rasa manis dari gula merah dan rasa pekat dari petis udang yang dioles di dasar piring. 

Bagi orang yang seleranya lurus-lurus saja, kombinasi gurih-manis-amis petis dalam tahu campur Lamongan ini rasanya seperti sebuah anomali. 

Belum lagi kalau kita bicara soal teksturnya. Isian dagingnya menggunakan sandung lamur dan otot yang kenyal dan penuh lemak. Bagi sebagian orang, tekstur kenyal berlemak yang berenang di dalam kuah manis-gurih berpetis itu justru memberikan sensasi enek (mual) setelah tiga kali suapan. 

Baca Juga:

Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau

Ditambah lagi ada perkedel singkong yang kalau kelamaan terendam kuah bakal hancur dan membuat kuahnya menjadi makin kental dan pekat. Maka jangan heran kalau banyak orang, termasuk saya, yang menganggap makan tahu campur itu butuh usaha ekstra untuk menghabiskannya. 

Ia tidak seperti soto yang sekali seruput langsung bikin segar. Tahu campur Lamongan adalah jenis makanan yang membuat lidah kita kebingungan mengidentifikasi macam-macam rasa yang ada. Dan perpaduannya pun menurut saya pribadi juga kurang pas.

Tapi, tolong tetap coba tahu campur Lamongan ini sekali seumur hidup

Meski saya pribadi kurang cocok dan menganggap rasanya tak seenak soto, saya tetap akan menyarankan Anda untuk mencoba tahu campur jika sedang berkunjung ke Lamongan atau menemukan gerainya di kota Anda. Jangan cuma beli soto saja terus-menerus.

Kenapa? Sebab tahu campur adalah bagian dari identitas kultural pesisir yang otentik. Mencobanya adalah sebuah pengalaman antropologi kuliner yang penting. Lagipula, selera makanan itu kan misterius. Siapa tahu, rasa mengejutkan itu malah menjadi kombinasi magis yang selama ini dicari oleh lidah Anda.

Yah, sekali lagi, tahu campur Lamongan memang kuliner yang bernasib sedikit sial karena kalah tenar dari soto, dan juga bernasib rumit karena punya rasa yang tidak ramah untuk semua orang. Tapi ia tetap sebuah mahakarya yang menuntut kelapangan dada untuk diapresiasi.

Jadi, silahkan cari kedai tahu campur terdekat. Pesan satu porsi, rasakan sensasi kenyalnya otot sapi dan pekatnya kuah petis udang itu di dalam mulut Anda. Kalau setelah mencobanya Anda mendadak jatuh cinta, berarti Anda beruntung. 

Tapi kalau setelah suapan kelima Anda mulai merasa enek dan pengin ganti pesan soto saja, tenang! Anda tidak sendirian. saya sebagai warga lokal Lamongan yang gagal mengagumi kulinernya sendiri. Yah, namanya juga selera orang. Pun setidaknya Anda sudah mendapat pengalaman visual untuk diceritakan. 

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Kuliner Lamongan Sedap tapi Kalah Pamor dari Pecel Lele Lamongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2026 oleh

Tags: kuliner khas lamonganlamonganmakanan khas lamongantahu campurtahu campur jawa timurtahu campur lamongan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

18 Januari 2026
Lamongan Megilan: Slogan Kabupaten Paling Jelek yang Pernah Saya Dengar, Mending Diubah Aja Mojok.co Semarang

Dari Wingko Babat hingga belikopi, Satu per Satu yang Jadi Milik Lamongan Pada Akhirnya Akan Pindah ke Tangan Semarang

30 November 2025
Lamongan Destinasi Liburan yang Logis ketimbang Jogja (Unsplash)

Ketimbang Jogja, Lamongan Adalah Destinasi Paling Logis untuk Liburan Tahun Baru

30 Desember 2024
Makam Sunan Drajat Lamongan, Wisata Religi yang Tergerus Sakralitasnya Gara-gara Banyak Pungutan dan Pengemis Nakal

Makam Sunan Drajat Lamongan, Wisata Religi yang Tergerus Sakralitasnya Gara-gara Banyak Pungutan dan Pengemis Nakal

29 September 2024
Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

14 Juni 2025
Ini yang akan Terjadi Seandainya Jalan di Lamongan Mulus Semua Mojok.co

Ini yang akan Terjadi Seandainya Jalan di Lamongan Mulus Semua

24 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Tanda Warung Bebek Madura yang Sudah Pasti Enak: Makin Sederhana, Makin Enak!

Pedoman Kuliner Warung Bebek Madura, Saya Tuliskan karena Banyak yang Tertipu Tampilan Luarnya

13 Juli 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026
Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.