Kalau kita bicara soal branding kuliner Lamongan, kita bisa sepakat kalau soto adalah panglima tertingginya. Kuah kuning kental penuh koya itu sudah sukses menjajah lidah masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Namun, Lamongan sebenarnya punya satu prajurit lagi di garis belakang yang namanya sering kedengaran sebagai julukan kabupaten ini, yakni tahu campur.
Bagi sebagian orang, terutama yang hidup di ceruk kebudayaan Jawa Arek seperti Surabaya dan Malang, menu satu ini adalah hidangan yang memicu air liur. Bentuknya meriah. Dalam satu piring ada potongan tahu, lontong, soun, taoge, selada, lentho (perkedel singkong), hingga potongan daging sandung lamur dan otot sapi yang kenyal-kenyal penuh lemak.
Semua itu berenang di dalam kuah kaldu sapi pekat yang di bawahnya sudah diolesi petis udang dan blenderan udang segar. Mendengarnya saja, isi piring ini tampak seperti sebuah festival protein yang mengenyangkan sekaligus padat gizi. Di atas kertas, tahu campur adalah sebuah kuliner pesisir yang terlihat sangat menjanjikan.
Namun, mari kita kesampingkan dulu teks-teks promosi wisata yang penuh puja-puji itu. Sebagai orang Lamongan asli yang sejak kecil dicekoki oleh berbagai aroma masakan rumahan, saya harus melontarkan sebuah pengakuan yang jujur. Mohon maaf, bagi saya tahu campur adalah jenis kuliner yang nggak semua orang bisa cocok. Bahkan untuk lidah lokal seperti saya. Iya, tahu campur itu sejujurnya tak seenak itu.
Perang rasa yang membuat lidah bingung
Alasan utama kenapa tahu campur Lamongan menjadi kuliner yang sangat segmental adalah karena ia menawarkan sensasi rasa yang terlalu mengejutkan, kalau tidak mau dibilang membingungkan, bagi sebagian orang.
Bayangkan saja, Anda menghadapi piring berisi kuah kaldu sapi yang gurih dan beraroma smokey karena dimasak lama. Tapi di saat yang sama, lidah Anda harus bertabrakan dengan rasa manis dari gula merah dan rasa pekat dari petis udang yang dioles di dasar piring.
Bagi orang yang seleranya lurus-lurus saja, kombinasi gurih-manis-amis petis dalam tahu campur Lamongan ini rasanya seperti sebuah anomali.
Belum lagi kalau kita bicara soal teksturnya. Isian dagingnya menggunakan sandung lamur dan otot yang kenyal dan penuh lemak. Bagi sebagian orang, tekstur kenyal berlemak yang berenang di dalam kuah manis-gurih berpetis itu justru memberikan sensasi enek (mual) setelah tiga kali suapan.
Ditambah lagi ada perkedel singkong yang kalau kelamaan terendam kuah bakal hancur dan membuat kuahnya menjadi makin kental dan pekat. Maka jangan heran kalau banyak orang, termasuk saya, yang menganggap makan tahu campur itu butuh usaha ekstra untuk menghabiskannya.
Ia tidak seperti soto yang sekali seruput langsung bikin segar. Tahu campur Lamongan adalah jenis makanan yang membuat lidah kita kebingungan mengidentifikasi macam-macam rasa yang ada. Dan perpaduannya pun menurut saya pribadi juga kurang pas.
Tapi, tolong tetap coba tahu campur Lamongan ini sekali seumur hidup
Meski saya pribadi kurang cocok dan menganggap rasanya tak seenak soto, saya tetap akan menyarankan Anda untuk mencoba tahu campur jika sedang berkunjung ke Lamongan atau menemukan gerainya di kota Anda. Jangan cuma beli soto saja terus-menerus.
Kenapa? Sebab tahu campur adalah bagian dari identitas kultural pesisir yang otentik. Mencobanya adalah sebuah pengalaman antropologi kuliner yang penting. Lagipula, selera makanan itu kan misterius. Siapa tahu, rasa mengejutkan itu malah menjadi kombinasi magis yang selama ini dicari oleh lidah Anda.
Yah, sekali lagi, tahu campur Lamongan memang kuliner yang bernasib sedikit sial karena kalah tenar dari soto, dan juga bernasib rumit karena punya rasa yang tidak ramah untuk semua orang. Tapi ia tetap sebuah mahakarya yang menuntut kelapangan dada untuk diapresiasi.
Jadi, silahkan cari kedai tahu campur terdekat. Pesan satu porsi, rasakan sensasi kenyalnya otot sapi dan pekatnya kuah petis udang itu di dalam mulut Anda. Kalau setelah mencobanya Anda mendadak jatuh cinta, berarti Anda beruntung.
Tapi kalau setelah suapan kelima Anda mulai merasa enek dan pengin ganti pesan soto saja, tenang! Anda tidak sendirian. saya sebagai warga lokal Lamongan yang gagal mengagumi kulinernya sendiri. Yah, namanya juga selera orang. Pun setidaknya Anda sudah mendapat pengalaman visual untuk diceritakan.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Kuliner Lamongan Sedap tapi Kalah Pamor dari Pecel Lele Lamongan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













