Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

MK Telah Memutuskan, Lalu Kita Mau Apa Setelah Ini?

Novy Eko Permono oleh Novy Eko Permono
28 Juni 2019
A A
putusan sidang mk

putusan sidang mk

Share on FacebookShare on Twitter

Gimana lur, sudah menyimak hasil putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang sengketa hasil pemilihan umum presiden semalam? Sudah lega? Atau hasil putusan itu seperti cintamu yang tak kunjung sesuai harapan. eh

Obrolan tentang politik sebenarnya bukan lagi menjadi barang mewah milik segilitir orang—sebut saja kaum elite Partai Politik (Parpol). Setidaknya sejak menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden tahun 2014 hingga kini. Obrolan politik kian masif bahkan sudah masuk ke ruang publik hingga kedai-kedai kopi wong cilik dengan didukung perkembangan internet dan menjamurnya media sosial.

Tapi sayangnya ruang publik—media sosial—kian hari sulit diatur. Bayangkan obrolan sebut saja diskusi tentang politik didalamnya tidak hanya berisi argumen berbasis data tetapi juga bercampurnya sentimen dan ujaran kebencian.

Media sosial telah berevolusi dari sarana penghubung menjadi sarana penghancur, menebarkan ketakutan, dan mengganggu kenyamanan kita. Bermula dari fitur share—membagikan—di akun media sosial itulah, rasa takut merasuk hingga ke dunia nyata.

Takut kalah karena kalau kalah akan menderita. Takut kalah karena kalau kalah akan sengsara. Takut kalah karena kalau kalah tidak bisa leluasa menjalankan ibadah, dan seterusnya.

Paranoid inilah yang pada level tertentu kemudian membuat otak kita gagal mengolah informasi. Kita kemudian mencari rasa aman, rasa nyaman meski terkadang harus percaya pada sebuah kebohongan. Melahap apa saja yang penting merasa menang. Fanatik, akhirnya kubu yang berseberangan pasti salah—titik.

Polarisasi semakin tak terbendung. Kalo dia tidak A pasti B. Semuanya menginginkan sebuah kemenangan. Padahal yang mereka inginkan hanyalah menang sendiri.

Kini mereka memasuki dunia yang berbeda penuh konflik, konsensus, dan ambisius. Dunia yang sebenarnya masing asing bagi wong cilik. Bukan anggota partai, bukan pengurus partai, bukan relawan partai. Hanya sekelas simpatisan tetapi masuk persaingan para elite politik kita.

Baca Juga:

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru

Yang sejak dulu kita tahu, elite politik itu bermuka dua. Mulai dari bermain di dua kaki, itu hal biasa. Pindah kubu politik karena tidak terpilih di jajaran pengurus partai, itu hal biasa. Mendadak jadi ulama, itu hal biasa. Bahkan dulunya oposisi kini jadi koalisi. Ah, itu praktik lama sodara.

Makanya, konsumsi infomasi secara berimbang. Tonton semua saluran televisi. Banyak baca berita dan artikel dari media daring maupun cetak. Sekedar mengingatkan: Jangan mau diperdaya serta dibohongi oleh para elite politik!

Nikmati saja drama mereka. Santai dengan segelas kopi dan tempe mendoan. Lagian kita bukan siapa-siapa, kalau mereka menang kita jadi arang, kalau kalah persaudaraan yang jadi taruhannya.

Makanya tak jarang mereka juga berkongsi dengan salah satu media massa—semoga Mojok tidak—untuk memainkan emosi kita. Padahal tugas media massa adalah menjadi jembatan agar wong cilik bisa lebih cepat memahami mahkluk yang namanya elite politik itu beserta borok-boroknya. Media partisan hanya akan menciderai demokrasi.

Menjadi pemilih dan pendukung Jokowi atau Prabowo sebenarnya hanya perkara makan ayam geprek dengan cabai dua atau tiga. Sederhana saja, hanya urusan selera. Tidak lebih. Maka tidak perlu menyebarkan isu makan ayam geprek cabai dua sebagai pro komunis. Atau, makan ayam geprek cabai tiga sebagai pro islamis. Blas, ramashoook~

Kini sidang sengketa hasil Pilpres telah diputuskan oleh MK. Majelis Hakim menolak seluruh permohonan kubu Prabowo-Sandiaga. MK menilai bukti-bukti maupun dalil yang diajukan oleh tim kuasa hukum Prabowo-Sandiaga tidak kuat. Mungkin masih ada yang kecewa tapi semua harus legowo menerimanya. Tak perlu diperpanjang lagi kubu-kubuannya.

Proses pemilihan presiden dan wakil presiden yang telah berjalan selama 10 bulan terakhir ini menjadi proses pendewasaan bagi bangsa Indonesia dalam berdemokrasi. Seluruh tahapan telah dijalankan secara terbuka, transparan, dan konstitusional.

Lalu setelah ini apa? Mari kita bergandeng tangan. Mengawal kebijakan Pemerintah dalam memenuhi janji-janji kampanyenya. Terutama penghapusan upah murah tenaga kerja buruh oleh para kapitalis-borjuis. Buruh pabrik, buruh tani yang seringkali tidak berdaya di lingkungan kerja mereka sendiri karena dieksploitasi perusahaan multinasional.

Jangan sampai kita terpedaya oleh janji-janji manis saja. Seperti Gubernur sebelah alih-alih menolak proyek reklamasi, tapi mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) secara sembunyi-sembunyi. Ibaratnya bilang cinta, eh diam-diam kok mendua—itu namanya dusta.
Tapi emangnya cinta sejati masih ada?

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2022 oleh

Tags: bpnJokowijokowi menangMahkamah InternasionalSidang MK hari ini
Novy Eko Permono

Novy Eko Permono

Penggemar mendoan garis keras. Saat ini tinggal di Wonogiri sambil menikmati peran sebagai Bapak dan pendidik.

ArtikelTerkait

Jokowi kaget, Yang Jokowi Maksud dengan “Memerintah Tanpa Beban”

Yang Jokowi Maksud dengan “Memerintah Tanpa Beban”

30 November 2019
puan maharani dpr Pak RT mojok

Puan Maharani atau Tidak Sama Sekali: Kegalauan PDIP yang Rasional

10 Oktober 2022
Rekomendasi Relawan dan Influencer yang Pantas Dapat Jatah Jabatan terminal mojok.co

Rekomendasi Relawan dan Influencer yang Pantas Dapat Jatah Jabatan

6 November 2020
Jadi Fans JRX yang Percaya Covid-19 Lebih Mudah Daripada Jadi Fans Jokowi terminal mojok

Jadi Fans JRX yang Percaya Covid-19 Lebih Mudah Daripada Jadi Fans Jokowi

28 Juni 2021
plot twist

Jika Politik Bisa Ada Plot Twistnya, Apakah Cinta Juga Bisa Demikian?

23 Oktober 2019
alasan jokowi tunjuk prabowo jadi pemimpin proyek food estate pulang pisau kalimantan tengah mojok.co

Prabowo Ditunjuk Urusi Food Estate: Memahami Kebijakan Jokowi yang Kerap Tak Tertebak 

24 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.