Kebumen itu kota yang unik. Lokasinya strategis di jalur Pantura, punya pantai selatan yang keren, dan makanannya enak-enak. Tapi entah kenapa, setiap kali ada orang luar yang mau berkunjung ke Kebumen, mereka selalu bertanya hal aneh yang bikin saya sebagai orang Kebumen mikir, “Kok bisa sampai percaya gitu?”
Ternyata ada beberapa mitos tentang Kebumen yang beredar luas dan bikin orang luar berpikir dua kali sebelum berkunjung ke sini. Padahal kalau dipikir-pikir mitos-mitos ini cuma sebatas urban legend yang entah datang dari mana. Apa saja mitos yang dimaksud? Ini dia.
#1 Orang Kebumen pakai bahasa Jawa tingkat tinggi yang bikin orang luar daerah nggak ngerti sama sekali
Ini adalah mitos paling populer. Konon katanya, bahasa Jawa Kebumen itu begitu halus dan rumit sampai orang Jogja dan Solo saja bingung. Ada yang bilang kalau belum belajar bahasa Jawa tingkat tinggi, jangan coba-coba ke Kebumen karena kamu bakal dianggap nggak sopan atau malah nggak akan diladeni sama sekali.
Kenyataannya? Ya ampun, santai banget lah.
Memang benar orang Kebumen umumnya memakai bahasa Jawa krama (halus), tapi bukan berarti kami nggak bisa bahasa Indonesia atau ngoko (kasar). Justru kami itu sangat adaptif. Kalau ketemu orang luar yang nggak mengerti bahasa Jawa, kami langsung switch ke bahasa Indonesia, kok.
Yang bikin mitos ini bertahan karena memang ada orang tua yang konsisten menggunakan bahasa krama inggil (halus banget), terutama di acara formal. Tapi kalau kamu cuma mau beli soto atau tanya jalan, bahasa Indonesia standar saja sudah lebih dari cukup untuk berkomunikasi dengan kami.
Nggak usah takut disangka nggak sopan. Wong yang jualan juga kadang malah langsung pakai bahasa Indonesia duluan biar kamu nggak bingung. Jadi, nggak usah takut bingung, orang Kebumen itu ramah, nggak segalak mitos yang beredar.
#2 Daerah angker, banyak tempat mistis yang nggak boleh didatangi sembarangan!
Kalau kamu googling “Kebumen” dan “mistis” dalam satu kalimat, pasti bakal ketemu ratusan artikel tentang tempat-tempat angker di Kebumen. Mulai dari Goa Jatijajar yang katanya rumahnya Roro Mendut, Pantai Karangbolong yang sering ada penampakan, sampai persimpangan-persimpangan tertentu yang katanya sering ada “penunggu”.
Mitos ini bikin banyak orang luar yang mau ke Kebumen jadi parno. Ada yang sampai bawa-bawa air putih seteko, tumblr berisi daun-daun aneh, atau bahkan rajah dari paranormal langganan. Padahal ya… Kebumen kota biasa saja.
Iya, ada beberapa tempat yang punya cerita mistis. Tapi coba tunjukkan satu kota di Jawa yang nggak punya cerita mistis? Semua punya. Bahkan Jakarta yang super modern aja masih ada cerita pocong di fly over atau kuntilanak di mall. Jadi, Kebumen nggak spesial-spesial amat dalam urusan mistis ini.
Goa Jatijajar yang katanya angker? Itu sekarang tempat wisata yang ramai dikunjungi keluarga. Pantai Karangbolong? Ramai banget pas weekend, penuh anak muda selfie. Yang angker paling cuma harganya kalau lagi musim liburan bisa naik dua kali lipat.
Jadi, kamunggak perlu bawa jimat atau tumbler air aneh-aneh. Cukup bawa uang cash karena banyak tempat di Kebumen yang belum support QRIS.
#3 Makanan Kebumen pedasnya sadis, siap-siap minta ampun
Ini mitos yang cukup banyak dipercaya, terutama setelah viral beberapa video orang luar yang kepedesan makan sate ambal atau soto Pak Nardi. Mereka sampai keringetan, mukanya merah, dan ujung-ujungnya minum es teh sampai lima gelas.
Dari situ mulailah beredar cerita bahwa makanan Kebumen itu pedasnya level maksimal. Ada yang bilang, cabai Kebumen itu dibiakkan khusus biar lebih pedes. Ada juga yang bilang, orang Kebumen itu lidahnya udah kebal pedas sejak kecil.
Faktanya? Kebumen memang punya makanan pedas, tapi nggak semua makanan di sini pedas banget.
Sate ambal boleh pedas, tapi kamu bisa kok minta nggak pake sambel atau pake sambel dikit. Soto ayam Pak Karso yang legendaris itu malah nggak pedas sama sekali malah gurih dan hangat pas buat sarapan. Soto daging Pak Nardi emang pedas, tapi itu karena banyak orang yang suka minta level “pedas mampus” buat eksistensi. Kalau minta level normal, ya biasa aja.
Intinya komunikasi adalah kunci. Bilang saja dari awal, “jangan pakai sambal” atau “sambal sedikit aja”. Dijamin aman.
#4 Jalanannya sepi dan nggak ada hiburan, cocoknya buat pensiun aja
Mitos ini sering banget diucapkan sama orang Jakarta atau Surabaya yang terbiasa dengan kemacetan dan hiruk pikuk kota besar. Mereka pikir Kebumen itu kota kecil yang jalannya sepi, nggak ada mall, nggak ada bioskop, dan satu-satunya hiburan cuma duduk di teras rumah sambil melihat ayam tetangga lewat. Padahal Kebumen nggak sesepi itu.
Kebumen memang nggak punya kemacetan kayak Jakarta. Tapi bukan berarti sepi total. Jalanan utama kayak Jalan Arungbinang atau Jalan Pahlawan itu ramai banget, terutama sore dan weekend. Ada alun-alun yang selalu penuh anak muda nongkrong, ada Rita Mall (walaupun kecil tapi lumayan), ada bioskop di sana, dan ada puluhan kafe yang Instagramable buat anak-anak hits.
Kebumen juga punya pantai yang bagus-bagus seperti Pantai Logending, Menganti, Petanahan, Karangbolong. Ada Waduk Wadaslintang buat yang suka pemandangan danau. Ada Goa Petruk, Goa Jatijajar, dan masih banyak lagi tempat wisata lain yang bahkan orang Jakarta pun belum tentu punya.
Jadi, jangan berpikir Kebumen itu kampung terpencil yang cuma cocok buat pensiun. Kota ini punya segala-galanya dalam porsi yang pas nggak terlalu ramai sampai bikin stres, tapi juga nggak sepi sampai bikin bosen.
#5 Orang Kebumen kolot dan susah menerima hal baru
Mitos terakhir ini agak sensitif, tapi sering banget diucapkan sama orang luar. Konon, orang Kebumen itu kolot, tertutup, dan susah menerima hal-hal baru. Katanya kami kekeuh sama tradisi lama dan curiga sama orang luar yang bawa ide-ide modern. Padahal ini salah besar.
Orang Kebumen justru sangat terbuka dan adaptif. Buktinya? Sekarang banyak banget kafe kekinian di Kebumen yang konsepnya nggak kalah sama kafe-kafe di Jogja atau Bandung. Ada co-working space, ada kedai kopi specialty, ada toko baju thrift yang hits. Startup lokal juga mulai bermunculan, terutama di bidang kuliner dan fashion.
Anak muda Kebumen sekarang juga aktif banget di media sosial. Ada yag bikin konten TikTok, jualan online, bahkan ada yang jadi influencer lokal dengan puluhan ribu followers. Pokoknya nggak kalah update dari anak muda kota besar.
Yang bikin mitos ini muncul mungkin karena memang ada generasi tua yang masih pegang teguh tradisi. Tapi itu kan wajar? Di kota manapun juga ada generasi tua yang seperti itu. Bukan berarti seluruh Kebumen kolot.
Jadi, kalau kamu orang luar yang ragu mau ke Kebumen gara-gara mitos-mitos di atas, buang jauh-jauh keraguan itu. Kebumen adalah kota yang ramah, nyaman, dan punya banyak hal menarik untuk dieksplorasi.
Datang aja dengan pikiran terbuka dan tanpa prasangka. Dijamin, kamu bakal pulang dengan kenangan indah dan mungkin satu dus sate ambal buat oleh-oleh.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA 7 Aturan Tak Tertulis ketika Menetap di Kebumen yang Harus Kamu Tahu Biar Nggak Kaget.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















