Dampak pembangunan tol Solo Jogja
Orang membayangkan tol Solo Jogja akan mengurangi macet. Belum tentu. Yang sering terjadi justru kendaraan bertambah lebih cepat daripada kapasitas wilayah menampungnya.
Jalan besar memancing pusat ekonomi baru, lalu pusat ekonomi baru memancing kendaraan baru lagi. Akhirnya, kemacetan tidak hilang, hanya pindah lokasi.
Belum lagi perubahan wajah sosialnya. Saya membayangkan beberapa tahun lagi Gamping bisa kehilangan salah satu hal yang membuatnya hidup, yaitu rasa kampung. Warung kecil berubah jadi franchise. Kos mahasiswa berubah jadi apartemen mikro. Rumah warga berubah jadi penginapan transit. Orang datang dan pergi semakin cepat. Relasi sosial menjadi anonim.
Dan mungkin itu memang konsekuensi tol Solo Jogja. Tapi tetap saja ada yang terasa menyedihkan ketika sebuah wilayah berubah terlalu cepat hingga tidak sempat mengenali dirinya sendiri.
Yang lebih ironis, perubahan seperti ini biasanya baru disadari setelah terlambat. Nanti, orang akan bilang, “Jogja sekarang panas, padat, mahal, dan tidak manusiawi.” Padahal semua gejalanya sudah terlihat dari sekarang.
Menjaga ruang hidup warga
Saya kadang merasa Pemda Sleman terlalu percaya bahwa pasar akan mengatur semuanya dengan sendirinya setelah tol Solo Jogja jadi. Seolah selama investasi masuk, berarti pembangunan sukses. Padahal, pembangunan wilayah tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi.
Harus ada keberanian menjaga ruang hidup warga. Apakah nanti akan ada regulasi serius soal alih fungsi lahan? Sudahkah Pemda menyiapkan rencana matang dan transparan supaya transportasi publik tidak tenggelam oleh kendaraan pribadi? Ada perlindungan untuk warga lokal agar tidak sepenuhnya tersingkir oleh harga tanah? Atau jangan-jangan, semuanya kembali diserahkan kepada logika “siapa kuat dia bertahan”?
Karena kalau itu yang terjadi, tol Solo Jogja ini memang akan membuat Sleman maju, tetapi hanya maju sebagai pasar. Dan saya rasa itu berbeda.
Berkembang untuk siapa?
Kemajuan tanpa kontrol biasanya melahirkan kota yang cepat kaya sekaligus cepat kehilangan wajah. Kota tumbuh, tetapi manusianya semakin lelah hidup di dalamnya.
Saya melihat sendiri bagaimana proyek tol Solo Jogja di sekitar Kronggahan berdiri seperti simbol zaman baru. Ada rasa kagum, tentu saja. Infrastruktur sebesar itu pasti mengubah banyak hal. Tetapi, bersamaan dengan itu, ada juga kecemasan kecil yang sulit saya jelaskan.
Kecemasan bahwa beberapa tahun lagi saya mungkin masih tinggal di tempat yang sama, tetapi tidak lagi mengenali suasananya. Karena begitulah kota berubah. Tidak sekaligus. Tidak dramatis. Pelan-pelan saja.
Sawah hilang satu bidang. Warung tutup satu per satu. Tetangga lama pindah. Lalu tiba-tiba kita sadar bahwa kampung yang kita kenal tinggal nama administratifnya saja.
Tol Solo Jogja mungkin memang keniscayaan. Perubahan juga tidak bisa ditolak selamanya. Tetapi, pertanyaan paling pentingnya bukan apakah Sleman akan berkembang atau tidak. Melainkan berkembang untuk siapa?
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Kisah Makam Keramat yang Tergusur Tol Jogja Solo: Ada di Sleman, Kulon Progo, hingga Boyolali
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












