Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Milenials, Jangan Sampai Kita menjadi Generasi yang Krisis Etika Berkomentar

Ulfa Setyaningtyas oleh Ulfa Setyaningtyas
17 Juni 2019
A A
etika berkomentar

etika berkomentar

Share on FacebookShare on Twitter

Bersuara dan menulis adalah modal latihan mental yang menantang. Pasalnya, keberanian berbagi pandangan tidak semudah mengetik artikel lalu mengirimkannya ke redaktur bagi sebagian orang. Bahkan, sekedar untuk berbagi pandangan di media sosial sekali pun memiliki tantangan yang sama. Bukan masalah tentang apakah pandangan kita akan diterima oleh pembaca atau tidak, namun apakah tulisan kita dapat bernilai untuk orang lain.

Salah satu ketakutan terbesar dari orang-orang yang tidak memiliki keberanian mengungkapkan pendapatnya adalah berasal dari bagaimana orang lain akan merespon pandangan mereka. Dulu, saya merasa tidak cukup percaya diri untuk mengulik suatu isu atau fenomena tertentu untuk dijadikan sebagai sebuah bahan tulisan, bahkan di media sosial sekalipun. Pesimistis saya terhadap pandangan atau tulisan saya sendiri menjadi momok yang sangat sulit saya taklukkan.

Saya selalu mengkhawatirkan masalah bagaimana orang lain akan menafsirkan pandangan saya, bagaimana pembaca akan merespon tulisan saya, apakah pada akhirnya tulisan saya menjadi tidak bernilai di mata orang lain, atau apakah saya sebenarnya pantas untuk menulis atau beropini terkait isu yang saya angkat. Saya pikir, banyak sekali orang di luar sana yang sangat jauh lebih cerdas dari saya dan memiliki pengetahuan yang bahkan lebih dari pengetahuan saya.

Bagaimana jika ternyata saya malah menawarkan diri masuk ke lubang buaya sekaligus kandang macan? Berlebihan? Memang. Tapi, begitulah adanya. Saya yakin, banyak orang yang masih terkungkung dalam ketakutan semacam ini dan lebih memilih untuk mencari aman sebagai silent monsters (diam-diam tapi menghanyutkan). Mereka tidak bersuara tetapi memiliki pemahaman dan cara berpikir yang luar biasa. Menurut saya, pesimistis sangat mungkin terbangun dari skeptisme orang lain terhadap diri kita.

Bicara soal tulisan opini, namanya juga opini ya pasti berasal dari pemikiran kita didukung dengan data atau fakta yang kredibel dan sejalan dengan garis besar pandangan benar dalam versi si penulis. Sekali kita bersuara, kita tidak akan luput dari namanya pertentangan atau perbedaan pendapat, bahkan hal itu sebenarnya lebih baik daripada tidak didengar sama sekali.

Beberapa waktu lalu, saya menulis di sebuah platform kepenulisan salah satu media online ternama di Indonesia. Menurut saya, media ini cenderung jauh dari kata satir, malah konten-konten yang disajikan cenderung mengangkat isu-isu dan opini yang serius. Tentu saya berekspektasi bahwa media yang satu ini juga pasti berisi komentator yang ‘berkelas’, dan berpikiran terbuka serta menjunjung tinggi etos dan etika dalam berbagi pandangan, berpendapat, atau pun berkomentar.

Tiba-tiba Tom datang kepada saya dan bilang, “Oh ho, tidak semudah itu, Ferguso”.

“Benarkah begitu, Alguero?”, celetuk Jerry.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Dan memang, sekarang ini gaya berkomentar menjadi semakin tak terkendali, terutama di media sosial. Barangkali sebab penerapan prinsip kebebasan berpendapat yang dipersepsikan dengan bebas sebebas-bebasnya, netizen pun tak ragu mencecar dan berkomentar tanpa celah dan tanpa dosa.

Beberapa komentar yang pernah saya baca di media  misalnya seperti Youtube, Facebook, Instagram, Line dan platform jejaring sosial lainnya, hingga media-media online penyaji berita maupun informasi ringan, apalagi media sejenis Mojok sendiri juga tak luput dari bombardir komentar-komentar netizen yang agaknya kurang beretika dalam menanggapi sindiran nakal tapi banyak akal ala Mojok-gimana akun-akun gossip ya? Yang jelas lebih menyedihkan sejak negara api menyerang.

Penting dicatat bahwa dalam berkomentar pun ada etikanya, terlepas dari apakah kita sependapat atau tidak dengan tulisan atau konten terkait dan apakah informasi yang disampaikan dirasa kurang tepat. Apakah ini juga bagian dari skeptisme gerakan Anti Hoax-Hoax Club sampai kita lupa bahwa berkomentar pun sebenarnya memiliki kode etik? jiahh kode etik~

Mengapa kita perlu beretika dalam berkomentar?

Pertama, dunia ini bukan milik perseorangan-barangkali di antara kamu ada yang merasa bumi ini semacam warisan saham simbahmu. Kita semua adalah makhluk sosial, punya hati dan perasaan-ehem menolak baper T_T. Menggunakan kata-kata frontal yang tidak pantas hingga memberikan penghakiman yang sekonyong-konyongnya kepada orang lain hanya karena kita menganggap pandangannya ngawur, tidak masuk akal, melenceng, berpikiran sempit, kurang pengetahuan atau bodoh, apalagi disertai caci dan maki. Ada juga yang bersembunyi dibalik Anonim. Ingin rasanya memberi tepuk tangan dan tropi penghargaan pada Anonim yang maha benar tapi bagaimana ya jika kita saja tidak tahu identitasnya?

Kita bisa loh meluruskan jika memang ada yang kurang tepat atau berbagi pandangan jika memang kita merasa memiliki pandangan yang berbeda dengan tetap mengedepankan sopan santun dan perilaku saling menghargai tentunya.

Kedua, membuat konten dan memberanikan diri untuk bersuara bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Banyak loh orang yang bahkan perlu berpikir sangat keras untuk membuat konten atau tulisan agar lebih bernilai dan dapat diterima publik, artinya banyak pula orang yang mampu berpikir kritis namun belum berani bersuara.

Saya masih ingat, salah seorang dosen saya saat mengisi kuliah pernah bertanya kepada kami-sebut saja Pak Bambang (sebenarnya nama asli): ” Menurut kalian, politik itu apa, sih?”. Beberapa orang termasuk saya mengacungkan tangan dan menjawab dengan versi kami masing-masing tak peduli benar atau salah.

Lalu dosen saya melanjutkan, “Coba begini, posisinya kita tidak tahu apa-apa soal gajah. Ketika kalian ditanya gajah itu seperti apa, kalau kalian lihat dari depan, kalian akan bilang gajah itu memiliki belalai panjang, dua mata, dua kaki depan, dan telinga lebar. Coba kalau kita lihat dari belakang. Kalian akan bilang gajah itu punyanya ekor sama dua kaki. Bener apa salah? Ya, tetep bener kan. Memang itu yang kalian lihat. Jadi, nggak ada yang salah. Sama seperti pendapat kalian, nggak ada yang salah, semua tergantung dari sisi mana kalian melihat. Tapi, ada yang jawaban yang lebih tepat, kalau kita lihat keseluruhan bentuk gajah dari berbagai sisi “.

Perumpamaan sang dosen seketika membuat saya berpikir, pandangan para ahli saja bisa berbeda-beda walaupun hakikatnya tetap sama. Kenapa kita harus mengecap pendapat orang lain salah sesuka kita? Apakah kita yakin bahwa kita benar-benar telah melihat dari semua sisi? Jadi, lebih berhati-hatilah dalam mengecap orang lain ‘tampak bodoh’ secara sepihak hanya karena kita merasa mereka kurang memahami apa yang menurut kita tepat.

Tiga, perbedaan paham maupun kesalahan dalam konten bukan alasan kita untuk melupakan etika.

“Namanya berani bersuara berarti berani dikritik, dong. Kalo nggak berani di kritik ya udah nggak usah bersuara dong, ngeliatin g****knya “. Komentar pembelaan netizen setelah mencaci maki seperti ini pernah saya temukan menjadi ornament pelengkap sebuah opini dalam unggahan seorang kawan yang kebetulan menjadi unggahan viral di Line. Padahal, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rumitnya arti kalimat sesederhana itu bagi si penulis-semoga kita semua tetap istiqomah ya my lov~

Meskipun mendengar pernyataan itu membuat kita tiba-tiba menginginkan senjata Infinity Gauntlet milik Thanos, tapi ya memang bener kok soal berani bersuara berarti harus berani dikritik, nggak salah. Akan tetapi, apakah karena istilah itu tadi berarti juga membenarkan kita berperilaku tanpa berlandaskan etika sopan santun dan tetap menghargai? Enggak, dong.

Kritis sih boleh saja kritis-malah dianjurkan-tidak setuju boleh saja tidak setuju, tapi perlu digaris bawahi bahwa itu sama sekali bukan alasan yang dapat membenarkan kita menyudutkan dan mencemooh orang lain serta membekali mereka dengan cap-cap miring yang mempermalukan mereka dan tentu saja karyanya.

Kan bisa mendebat dengan cara yang lebih berkelas, menulis di Mojok salah satunya. Ahshiapp~

Nggak capek pakai cara ngegas? Blong ya rem-nya? Sini, Kendall Jenner bantu seleding. Biar jayus yang penting makyuss.

Jikalau kita mengingikan konten atau tulisan yang berkualitas, mulailah dari menghargai mereka dengan menjadi penikmat yang berkelas. Daripada saling mencemooh dan saling menjatuhkan, apalagi diwarnai dengan kata-kata yang dirasa kurang pantas, alangkah lebih baik jika kolom komentar menjadi tempat berbagi ilmu dan berbagi pandangan. Be smart netizen. Bukankah begitu, my lov~?

Nih ya, kalau kata lagunya Pakdhe Rhoma Irama yang berjudul “Stop”, begini:

… Mari kita saling asih, mari kita saling asuh

Hargai pendapat orang bila terdapat beda pandangan

Sejauh tidak ada yang dirugikan

Stop perdebatan, stop pertengkaran

Stop permusuhan, stop pertikaian

Trang-tang-tang-tang dung-dung-dung dang-dang-dang- dung tak dung

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: BerkomentarEtikaMedia SosialMilenial
Ulfa Setyaningtyas

Ulfa Setyaningtyas

ArtikelTerkait

Kebahagiaan dan Merasa Eksis di Media Sosial Saat Mention Dibalas oleh Tokoh Idola

Kebahagiaan dan Merasa Eksis di Media Sosial Saat Mention Dibalas oleh Tokoh Idola

4 Desember 2019
3 Program Selain Podcast di YouTube Deddy Corbuzier yang Sebenarnya Nggak Laku-laku Amat terminal mojok.co

Deddy Corbuzier Pernah Bikin Program yang Nggak Laku-laku Amat di Kanal YouTubenya

4 September 2020
Tips agar Media Sosial Organisasimu Nggak Norak! Terminal mojok

Tips agar Media Sosial Organisasimu Nggak Norak!

2 Februari 2021
Menyuruh Orang untuk Cari Kerja Biar Nggak Protes Melulu Itu Aneh nyi roro kidul kritis skeptis netizen indocomment war facebook mojok.co

Menyuruh Orang untuk Cari Kerja biar Nggak Protes Melulu Itu Aneh

20 September 2020
facebook media sosial kenangan nostalgia fitur mojok

Memangnya Kenapa kalau Nggak Main Media Sosial?

13 Desember 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial?

12 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”
  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.