Mie Gacoan Bangkalan Madura bisa tutup kalau 3 hal ini tidak diperbaiki

Review Mie Gacoan Bangkalan Madura, Cabang yang Anomali karena Tidak Perlu Antre Mojok.co

Review Mie Gacoan Bangkalan, Cabang yang Anomali karena Tidak Perlu Antre (unsplash.com)

Dari sekian produk mi pedas di Bangkalan Madura, agaknya Mie Gacoan sudah jadi primadona di hati warganya. Buktinya, gedungnya paling besar, konsumennya paling ramai, bahkan mungkin banyak yang langganan ke sana saat makan siang. Saya pun tiap makan di restoran mi pedas ini pasti bertemu teman yang kebetulan juga mampir ke Gacoan.

Entah karena tidak ada pesaingnya, atau memang jadi favorit masyarakat, intinya Mie Gacoan saat ini sedang hits di Bangkalan Madura.

Namun, tidakkah kalian merasa bahwa Mie Gacoan di Bangkalan Madura ini punya perbedaan yang mencolok dengan Mie Gacoan di kabupaten lain. Perbedaan yang saya maksud ini tak salah juga rasanya jika disebut sebagai anomali, sebab tak pernah sepertinya saya temukan di cabang Mie Gacoan lain. Bagi kalian yang belum merasakannya, berikut saya jelaskan!

#1 Stok tisu di Mie Gacoan lebih sering kosong

Yang namanya restoran dengan menu utama pedas, tentu saja saat mengonsumsinya para pelanggan akan dibuat berkeringat. Tak ragu pula, ingus yang ngalir dari lubang hidung akan sulit dibendung. Nah, maka dari itu, ketersediaan tisu seharusnya jadi persyaratan mutlak di Mie Gacoan. Tapi, untuk kasus di Bangkalan, saya heran kok tidak demikian.

Sudah beberapa kali saya ke Mie Gacoan Bangkalan, tisunya selalu kosong. Ketika saya tanya teman saya, dia bilang di sana memang tidak menyediakan. Entah, saya kurang tahu benar tidaknya. Tapi ternyata, keluhan saya ini juga saya temukan di review pelanggan di Google Maps. Berarti memang bukan saya saja yang merasa demikian.

Saya sendiri belum bisa menyimpulkan, apa betul tisunya memang selalu kosong atau memang tidak menyediakan?

#2 Pelanggan Mie Gacoan cewek dan cowok punya jadwal sendiri 

Mungkin ini nggak bisa dibilang kekurangan. Cuma, kayaknya tetep harus saya tulis karena ini bikin saya heran.

Anomali berikutnya yang cukup kentara yakni adanya aturan tidak tertulis mengenai jam pelayanan cowok dan cewek. Ini sesuai pembacaan saya ya. Jadi, kalau kalian berkunjung ke Mie Gacoan Bangkalan di siang hari, maka meja di sana akan didominasi oleh konsumen perempuan. Mungkin ada yang laki-laki, tapi jauh lebih ramai perempuan. Iya

Nah, itu berbeda jika kalian ke sananya pas malam-malam. Di Mie Gacoan Bangkalan, semakin malam, pelanggannya akan semakin didominasi laki-laki. Mereka pun datangnya secara bergerombol, dan tentunya sarungan. Saya yakin itu adalah fenomena yang nggak kalian temukan di Mie Gacoan lain selain di Bangkalan Madura.

Ya, sebagai orang Madura, saya tak heran sih dengan hal ini. Mungkin karena di sini perempuan disarankan jangan keluar malam-malam, makanya makin larut malam, laki-laki makin mendominasi Mie Gacoan.

#3 Aturan dilarang merokok hilang

Akibat anomali kedua yang telah saya jelaskan itu, muncul anomali lain yang bagi saya cukup kelewat batas. Anomali tersebut yakni hilangnya aturan dilarang merokok di Mie Gacoan saat malam. Maksud saya bukan benar-benar dihapus ya, tetapi akhirnya tidak ada yang memedulikan aturan tersebut. Konsumennya seperti bebas merokok di mana saja.

Ya, tentu saja ini adalah hal yang tidak baik. Sebab, sebetulnya Mie Gacoan sudah menyediakan ruang terbuka bagi yang ingin merokok. Mungkin hal ini dianggap tidak apa-apa karena pas malam pengunjung perempuan lebih sedikit daripada saat siang hari. Tapi, bagi saya tetap saja itu tidak bijak jika kita membiarkannya.

Gini loh maksudku, bukankah korupsi itu tetap perbuatan dosa meski mayoritas pejabat kita melakukannya. Begitu pun merokok, itu tetap dilarang meskipun mayoritasnya merokok.

Lalu, Gaes, yang tidak kalah membuat saya heran dan geram, kadang ada pula perokok yang makin bertindak seenaknya. Misal kemarin, tiba-tiba ada yang membuang puntung rokoknya ke lantai sambil berjalan di samping saya. Pertama, ini bukan rastoran nenek moyangnya. Kedua, tempat sampahnya sangat jelas ada di depan mata. Haduh, parah!

#4 Meja berminyak meski sudah dilap

Anomali berikutnya yang cukup mengganggu kenyamanan saya sebagai pelanggan yakni terkait kebersihan. Beberapa kali saya kesana, saya sulit sekali mendapat meja yang bersih. Kadang ada meja yang masih menyisakan bekas makanan pelanggan sebelumnya atau mejanya masih terasa berminyak. Padahal sudah dibersihkan.

Ya, karena sudah tidak ada lagi akhirnya saya sering pula terpaksa mengambil meja seadanya. 

Tapi anehnya, masalah seperti ini bukan di siang hari saja. Kalau malam pun, pas antrian lagi sepi-sepinya, mejanya juga terasa berminyak. Saya sampai heran, apa iya ada pembersih yang memang bikin meja terasa berminyak. Entah lah, saya bingung.

Demikian sejauh pengalaman saya berkunjung ke Mie Gacoan Bangkalan. Ya, saya akui sih, untuk sekarang belum ada merek mi pedas yang mampu menyaingi Mie Gacoan di kabupaten ini. Makanya, anomali-anomali ini tidak jadi masalah.

Tapi, jika anomali yang saya jelaskan di atas terus menerus dibiarkan, jangan kaget ya kalau suatu saat banyak pelanggan yang pindah tempat.

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version