Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Microsoft Word Adalah Mimpi Buruk Pegawai Kelurahan: Digitalisasi Nyatanya Masih Sebatas Imajinasi

Rahul Diva Laksana Putra oleh Rahul Diva Laksana Putra
16 April 2025
A A
Microsoft Word Adalah Mimpi Buruk Pegawai Kelurahan: Digitalisasi Nyatanya Masih Sebatas Imajinasi

Microsoft Word Adalah Mimpi Buruk Pegawai Kelurahan: Digitalisasi Nyatanya Masih Sebatas Imajinasi

Share on FacebookShare on Twitter

Pegawai kantor kelurahan dan Microsoft Word hingga kini masih jadi seteru abadi. Padahal, logikanya, nggak mungkin hal tersebut terjadi. Tapi, realitasnya seperti itu, sayangnya

Di tengah kemajuan teknologi yang makin pesat, di mana bocah SD sudah bisa bikin presentasi PowerPoint dengan efek transisi yang bikin silau, dan nenek-nenek mulai belajar pakai WhatsApp untuk arisan keluarga, masih ada satu tempat yang seperti tak tersentuh zaman: kantor kelurahan.

Kantor kelurahan, tempat suci di mana masyarakat kecil menggantungkan harapan administratif, seperti bikin surat domisili, pengantar nikah, surat tidak mampu, hingga surat keterangan belum menikah (yang kadang menyakitkan, tapi ya penting). Tapi, alih-alih mendapat pelayanan cepat dan efisien seperti yang diimpikan, banyak warga justru harus menguji kesabaran mereka.

Bukan karena antrean panjang, bukan pula karena jaringan internet yang lemot, tapi karena satu hal yang amat mendasar: pegawai kelurahan yang kurang terampil menggunakan Microsoft Word.
Iya, sesederhana itu.

Kegagapan pada Microsoft Word itu tak mengagetkan

Indonesia bukan negara yang miskin teknologi. Dari desa sampai kota, pemerintah menggaungkan program “digitalisasi pelayanan publik”. Banner tentang “Kelurahan Ramah Digital” terpajang gagah di dinding luar kantor. Tapi begitu masuk, warganya justru disambut oleh pegawai yang masih membuka file Word dengan raut wajah waswas, seolah-olah takut dokumen itu akan meledak.

Fenomena ini bukan hal baru. Banyak pegawai kantor kelurahan yang memang tidak pernah mendapat pelatihan komputer yang layak. Kalaupun ada, pelatihannya kadang hanya formalitas belaka—absen, makan siang, tanda tangan, lalu pulang bawa sertifikat. Microsoft Word? Paling banter diajarkan bikin tulisan “Selamat Datang” di ukuran font 72 dan dicetak warna-warni. Bikin surat resmi dengan template rapi dan tanda tangan digital? Maaf, itu masih jadi ilmu langit.

Akhirnya, tiap kali ada warga datang minta surat pengantar, prosesnya berubah jadi semacam pertunjukan drama: kursor hilang, paragraf loncat-loncat, huruf mendadak miring, atau tulisan yang tiba-tiba jadi huruf Arab entah kenapa.

Surat pengantar yang tak kunjung tiba

Pengalaman Fajar—seorang warga biasa yang hanya ingin mengurus surat pengantar domisili untuk pindah kerja—jadi contoh nyata betapa pelayanan dasar bisa begitu menyiksa. Dia datang pagi-pagi dengan harapan surat bisa selesai sebelum makan siang. Tapi kenyataannya?

Baca Juga:

Birokrasi Kampus Membuat Saya Kesal Setengah Mampus: Bilangnya Digitalisasi, Nyatanya Bikin Emosi

10 Fitur Microsoft Word yang Perlu Dikuasai Mahasiswa yang Sedang Skripsi

“Sebentar, Mas. Komputernya ngehang.”

“Ini font-nya kok kecil semua, ya?”

“Eh, ini marginnya ke mana?”

Tiga puluh menit berlalu, pegawai vs Microsoft Word masih berlangsung. Printer baru menyala setelah diminta lima kali. Surat pun akhirnya tercetak, tapi posisi kepala surat melenceng ke kanan, dan nama Fajar tertulis “Fajjar” dengan dua J. Si ibu pegawai tertawa kecil, “Wah, maaf ya, Pak. Ulang lagi ya.” Dan dimulailah siklus yang sama.

Kita, sebagai rakyat biasa, tentu bingung. Di mana letak digitalisasinya kalau pegawai masih salah klik tombol “Bold” dengan “Insert Picture”? Bukannya ingin menuntut kesempurnaan, tapi ya masa iya urusan administratif sesederhana ini jadi sepelik skripsi mahasiswa abadi?

Pegawai kelurahan vs Microsoft Word: antara tak punya waktu dan tak diberi kesempatan belajar

Mari kita luruskan satu hal: kegagapan terhadap Microsoft Word ini bukan semata-mata salah pegawai kelurahan. Banyak dari mereka dulunya bukan lulusan komputer atau administrasi modern. Mereka belajar sistem secara manual, tulis tangan, atau ketik pakai mesin tik. Lalu, tiba-tiba sistem berubah—semua jadi digital, semua harus online, semua harus cepat. Tapi pemerintah lupa: keterampilan tidak tumbuh dalam semalam.

Apalagi keterampilan Microsoft Word, makin tidak mungkin tumbuh dalam semalam, setahun, bahkan beberapa tahun.

Banyak pegawai yang sebenarnya ingin belajar, tapi tak punya akses. Komputer kantor hanya satu, dipakai bergantian. Kursus komputer mahal dan waktu kerja tak fleksibel. Ada juga yang takut salah, karena tiap kesalahan dianggap “tidak profesional”. Padahal ya, manusia wajar kalau masih salah pencet tombol.

Ironisnya, kadang mereka justru lebih fasih main TikTok dan kodok Zuma daripada bikin table di Word. Tapi ya gimana, TikTok lebih ramah pengguna. Microsoft Word? Nggak bisa ngedit font langsung dari filter.

Baca halaman selanjutnya

Jangan asal digitalisasi

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 18 April 2025 oleh

Tags: digitalisasikantor kelurahanMicrosoft Wordpegawai kelurahan'
Rahul Diva Laksana Putra

Rahul Diva Laksana Putra

Penulis jalanan sekaligus mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Peduli dengan berbagai keluh kesah publik ataupun isu sosial-politik.

ArtikelTerkait

Pelayan Adminduk Kelurahan, Pekerjaannya Sederhana yang Berisiko Tinggi Mojok.co

Pelayan Adminduk Kelurahan, Pekerjaan Sederhana yang Berisiko Tinggi

3 Desember 2023
Birokrasi Kampus Membuat Saya Kesal Setengah Mampus: Bilangnya Digitalisasi, Nyatanya Bikin Emosi

Birokrasi Kampus Membuat Saya Kesal Setengah Mampus: Bilangnya Digitalisasi, Nyatanya Bikin Emosi

9 April 2025
26 Shortcut Microsoft Word dari A sampai Z yang Wajib Dikuasai Mahasiswa dan Pekerja Kantoran

26 Shortcut Microsoft Word dari A sampai Z yang Wajib Dikuasai Mahasiswa dan Pekerja Kantoran

6 Januari 2024
6 Pekerjaan yang Terancam Punah padahal Dahulu Mudah Sekali Dijumpai Mojok.co

6 Pekerjaan yang Terancam Punah, padahal Dahulu Mudah Sekali Dijumpai

22 Februari 2024
10 Fitur Microsoft Word yang Perlu Dikuasai Mahasiswa yang Sedang Skripsi

10 Fitur Microsoft Word yang Perlu Dikuasai Mahasiswa yang Sedang Skripsi

25 Agustus 2024
Kasta Font di Microsoft Word dari yang Tersohor hingga Terpinggirkan

Kasta Font di Microsoft Word dari yang Tersohor hingga Terpinggirkan

30 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

Karimun Wagon R, Rekomendasi Cerdas Mobil Pertama untuk Kaum Mendang-mending yang Belajar Punya Mobil

15 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026
Jogja Langganan Banjir: Saatnya Berhenti Berakting Kaget dan Mulai Benahi Tata Kota yang Serampangan

Jogja Langganan Banjir: Saatnya Berhenti Pura-pura Kaget dan Mulai Benahi Tata Kota yang Serampangan!

11 April 2026
5 Varian Es Teh Paling Aneh, Baunya Aneh dan Bikin Sakit Perut (Unsplash)

5 Varian Es Teh Paling Aneh, Eksperimen Rasa yang Mending Tak Pernah Ada karena Baunya Jadi Aneh dan Bikin Sakit Perut

12 April 2026
4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Wikimedia Commons)

4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Kecewa dan Nggak Nafsu Makan

11 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI
  • Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu
  • Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan
  • Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan
  • Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil
  • Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.