Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Meskipun Nggak Pernah Pacaran Saya Ogah Ikut Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran

Firdaus Al Faqi oleh Firdaus Al Faqi
4 Mei 2020
A A
Meskipun Nggak Pernah Pacaran Saya Ogah Ikut Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Begini-begini. Kalau tidak salah beberapa hari lalu saya lihat tagar Indonesia Tanpa Pacaran ini jadi trending. Ngomong-ngomong soal gerakan ini ya narasinya tak jauh-jauh dari perihal nikah muda, jualan aksesoris, dan niat mulia untuk menghindarkan diri dari perilaku zina. Saya pernah baca-baca artikel yang katanya, saat gerakan ini mengadakan seminar, audiensnya ada yang bilang kalau akan memutuskan pacarnya dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Wah, kalau saya ketemu, bakal langsung standing applause lima jam nonstop karena berani bikin pacarnya sakit hati. Aww~

Berhubung ini bertema tak jauh-jauh dari pacaran, saya jadi ingat status dan pengalaman sendiri yang belum pernah merasakan entah nikmat, sengsara, atau nano-nano perasaan saat pacaran. Bukan tanpa alasan. Dari dulu ketika SD sampai SMA kelas dua, tubuh saya gempal mirip donat yang kebanyakan ragi dan tampang saya memang teramat sangat pas-pasan. Dan hingga saat ini, walaupun sudah berhasil diet, saya tetap saja tidak laku dan selalu gugur sebelum pendekatan. Walaupun begini, saya tidak pernah kepikiran untuk ikut gerakan Indonesia Tanpa Pacaran.

Alasannya ya sederhana, kalau memang tidak laku dan masih belum ada yang mau, ya lebih baik bersyukur saja dulu. Terima dulu keadaan dan cukup yakin, bahwa suatu hari nanti, secara sengaja atau tidak, saya bakalan dipertemukan. Bukan malah langsung gaspol grusa-grusu untuk menikah.

Selain itu, karena tak pernah pacaran ini, saya jadi punya waktu banyak untuk meng-upgrade kemampuan diri, memperbaiki sikap, sifat maupun karakter, sering-sering berbenah, evaluasi setelah bilas muka dan gosok gigi, dan upaya-upaya lain untuk–meminjam twit penyair Usman Arrumy—memantaskan diri untuk dicintai. Pokoknya fokus sama diri dulu sebelum bisa istilahnya ngemong orang lain. Kalau pacaran, kan, kurang lebih gitu ya?

Lagipula—walaupun saya tak pernah mengalaminya–bagi saya tidak ada salahnya untuk pacaran. Asalkan, niat awalnya mengenal lebih jauh, mengerti karakter satu sama lain, mengerti kelebihan dan kekurangan satu sama lain, mempertimbangkan kecocokan, dan upaya mendapat pertimbangan matang lainnya untuk lanjut ke jenjang pernikahan, kan, tidak masalah? Memang, sih, kecenderungan mainstream bikin pacaran jadi berlebihan. Belum ada hubungan sah secara agama, budaya, dan negara, udah langsung gaspol melampiaskan begitu saja.

Ini memang zina. Tapi, permasalahan zina itu, kan, bukan pada perilakunya. Melainkan dasar yang mendorong perilaku tersebut, yaitu nafsu. Nafsu ya setahu saya itu dorongan-dorongan internal negatif yang diwujudkan dalam perilaku kurang baik. Jadi permasalahannya bukan pada perilaku, tapi pada apa yang mendorongnya itu.

Nah, untuk mengurangi nafsu ini, sebatas pengetahuan saya tidak hanya dengan menikah. Masih banyak cara-cara lain. Kalau kata salah satu tulisan terminal sini, caranya dengan puasa. Kalau mau rada ekstrim lagi, ada. Bertapa, uzlah, atau bisa juga mengasingkan diri. Mirip si Majnun itu yang ke gunung-gunung dan hanya makan daun-daunan. Itu juga bisa untuk meminimalkan nafsu. Atau sekalian pakai cara jawa yang puasa mutih, patigeni, atau ngrowot.

Selain itu, bukannya memang ada anjuran untuk menaklukkan nafsu sendiri dulu ya? Istilahnya berperang dengan diri sendiri dulu. Hasilnya ya bakalan berbuat baik sama orang lain. Nah, terkait dengan latihan menghilangkan nafsu ini, kan, bagus kalau dilakukan dulu sebelum menikah atau juga sebelum pacaran. Ibaratnya latihan dulu sebelum turun ke medan perang. Agar ketika perang nanti, kita tak jadi kelabakan dan kalah dalam menghadapi berbagai jenis musuh yang datang.

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

Sederhananya, ya kita kendalikan nafsu dulu, baru pacaran atau nikah. Permasalahan ketika sudah nikah, kan, katanya lebih susah daripada ketika pacaran. Nah, biar nanti tak sering ‘kepeleset’ saat sudah nikah, pacaran bisa jadi kawan candradimuka untuk menempa diri biar nanti tahu gimana penyelesaian masalah yang bakal dihadapi ketika nikah.

Salah satu narasi di gerakan Indonesia Tanpa Pacaran juga, kan, nikah muda. Nah, saya  yang awam dan hanya tahu sedikit hal ini punya pertimbangan sendiri. Sebatas pengetahuan saya, Kanjeng Nabi itu menikah, kan, setelah berdagangnya ketika masih muda itu sudah mencapai taraf internasional.

Selain itu, sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, kan, beliau sudah terkenal dengan akhlak mulianya. Sebutan-sebutan mulia seperti Al-Amin dan lainnya bahkan telah disematkan kepada beliau sebelum diparingi wahyu. Jadi jelas, tho, pertimbangan awalnya bagaimana? Perbaiki dulu diri. Jika sudah mantab kepribadiannya, fisiknya, jiwa, mental, dan kalau bisa sekaligus finansialnya, barulah ke jenjang pernikahan.

Dan akhirnya, walaupun sampai sekarang saya tidak pernah pacaran, saya tak akan ikut gerakan ITP ini. Selain karena punya alasan sendiri, gerakan ini juga hanya punya dasar mendirikan gerakannya karena curahan hati dari remaja yang mengakui masa depannya rusak karena berpacaran. Dan juga saya tak mau, menjadikan agama sebagai alat untuk meraup harta, tahta, dan wanitahahaha.

BACA JUGA Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2021 oleh

Tags: Indonesia tanpa pacaranmenikahPacaran
Firdaus Al Faqi

Firdaus Al Faqi

Sejak lahir belum pernah pacaran~

ArtikelTerkait

Pacaran Wajib Sleep Call Itu Logikanya di Mana deh? Tidur Aja "Diawasi", kayak Lagi Dipenjara Aja

Pacaran Wajib Sleep Call Itu Logikanya di Mana deh? Tidur Aja “Diawasi”, kayak Lagi Dipenjara Aja

14 Juli 2023
candi prambanan

Jangan Bawa Pacarmu ke Prambanan: Nanti Putus!

16 Agustus 2019
lelaki turki

Sebelum Pesona Lelaki Turki Merebak, Segera Ajak Doi ke KUA

27 Juli 2019
Rekomendasi Foto Prewedding Antimainstream Selain yang 'Nggak Muka Banget' terminal mojok.co

Rekomendasi Foto Prewedding Antimainstream Selain yang ‘Nggak Muka Banget’

9 April 2021
5 Tempat Pacaran di Purwokerto kalau Sedang Bokek, Suasana Romantis dan Murah Meriah Mojok.co

5 Tempat Pacaran di Purwokerto kalau Sedang Bokek, Suasana Romantis dan Murah Meriah

19 Mei 2024
ldr

Nggak Maksud Ngomporin yang LDR, Tapi Yakin Nih Pacarmu Itu Nggak Bohongin Kamu?

12 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.