Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Merayakan Idul Adha sebagai Minoritas di Jepang

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
17 Juli 2021
A A
Merayakan Idul Adha sebagai Minoritas di Jepang terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sudah mulai banyak pedagang kambing yang berjualan di pinggir jalan itu menandakan bahwa Idul Adha sebentar lagi. Meski nggak beli, saya suka memperhatikan kambing yang gemuk-gemuk itu. Ada yang kambing Jawa (warna hitam atau cokelat), ada yang gembel (warna putih). Kambing-kambing baik, sebentar lagi mereka jadi uang buat peternaknya.

Banyak yang protes keputusan pemerintah yang menyuruh kita beribadah dan merayakan Idul Adha di rumah saja. Tahun lalu saja kita sudah terpaksa nggak salat hari raya di masjid atau lapangan karena pandemi. Tahun ini kali kedua. Sepertinya PPKM darurat yang katanya akan diperpanjang juga akan melarang umat muslim berkerumun salat hari raya. Apa boleh buat? Untung salat Idul Fitri kemarin masih boleh ya, setidaknya bisa mengurangi rindu berhari raya seperti biasa yang kita lakukan sebelum pandemi.

Sebenarnya beribadah hari raya di rumah itu sudah biasa bagi para minoritas muslim di negeri rantau. Hari raya tak berarti spesial. Sebagai orang yang pernah merantau ke negeri minoritas muslim, saya akan bercerita tentang beberapa pengalaman saya di Jepang.

Hari raya bukan hari libur

Di Jepang, nggak ada hari libur nasional yang berhubungan dengan agama. Nggak ada hari libur Natal, Idul Fitri, atau hari raya agama lainnya. Kalau kebetulan hari raya jatuh pada hari kerja, itu berarti beraktivitas seperti biasanya. Kerja ya kerja, kuliah ya kuliah. Sesederhana itu. Paling mentok ya salat sendiri atau bersama keluarga di kos/asrama. Kalau ada teman, ya bisa bareng-bareng.

Kalau bisa izin/ cuti perusahaan untuk salat hari raya, ya izin. Kalau nggak bisa, ya sudah kerja biasa. Kalau anak kuliah sih masih mending bisa pakai jatah bolosnya untuk bisa ikut berhari raya.

Di negeri minoritas muslim seperti Jepang—terlebih di kota kecil—mana ada masjid atau perkumpulan yang bisa berjamaah. Mana bisa bersukacita merayakan hari raya bersama yang lain seperti di kampung halaman Indonesia.

Untuk bisa salat Jumat di masjid saja, setiap minggu kami harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam dan harus ganti kereta. Kami juga mengeluarkan biaya transportasi sekitar 2500 yen (325 ribu rupiah). Coba bisa digowes, kami juga mau. Sayangnya terlalu jauh.

Jamaahnya pun bukan dari Indonesia saja, tetapi ada yang dari Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Mesir, dll. Biasa kami saling memanggil brother atau sister.

Baca Juga:

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang

Beda kalau di Tokyo, Indonesia sudah membangun masjidnya sendiri. Lumayan bisa mengobati kerinduan dengan berjamaah di sana.

Di wilayah Kansai, biasanya KJRI (perwakilan Pemerintah Indonesia) mengadakan salat hari raya Idul Fitri. Hanya Idul Fitri ya, Idul Adha nggak. Di masjid? Bukan, di sebuah gedung yang disewa khusus. Biasanya dengan aturan yang sangat ketat. Nggak boleh gaduh. Disarankan sudah wudu sebelum berangkat. Pembuangan sampahnya juga disesuaikan dengan aturan Jepang. Cukup ribet, tapi setidaknya mengobati kerinduan berkumpul sesama diaspora di sana. Setelah salat, biasanya ada ceramah ustaz dan pembagian kotak makan masakan Indonesia gratis.

Itu terjadi sebelum pandemi, sih. Saya yakin sekarang pasti nggak diperbolehkan seperti itu.

Merasakan hidup sebagai minoritas

Selain soal salat hari raya, hal yang paling agak mustahil dilakukan adalah penyembelihan hewan kurban. Di Jepang, penyembelihan hewan (seperti ayam, sapi, babi) itu wajib dilakukan di tempat jagal hewan. Di rumah sendiri saja nggak bisa, lho. Jadi, nggak bisa sembarangan menyembelih hewan di dekat masjid dengan alasan agama sekalipun.

Berarti nggak mungkin ada? Ya ada. Pernah ada jamaah yang meminta izin untuk menyembelih tetapi prosedurnya sangat rumit, termasuk minta izin ke pemerintah daerah jauh-jauh hari sebelumnya. Saat penyembelihan saja dijaga polisi. Pembuangan sampahnya juga harus benar-benar diperhatikan. Ribet banget.

Meski sebenarnya bisa-bisa saja dilakukan, mungkin penyembelihan ini lebih baik nggak dilakukan saja, sih. Bagaimanapun juga image sebagai minoritas muslim juga harus dijaga demi keselamatan bersama. Stereotip sebagai orang asing sudah cukup membuat tertekan, apalagi kalau ada stereotip miring lagi soal Islam. Sekiranya nanti ada tempat jagal hewan milik muslim, mungkin bisa lah menyembelih di sana sesuai aturan pemerintah.

Selain soal penyembelihan, azan dan takbir juga nggak boleh dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. Bisa menyebabkan polusi suara. Memang benar sih, kalau nggak kepepet banget, menyalakan klakson mobil saja sangat jarang terjadi di Jepang. Benar-benar menjaga kenyamanan bersama.

Makanya kemarin pas heboh Zaskia mengomentari soal takbiran dengan pengeras masjid, saya teringat zaman rantau dulu. Itulah hebatnya mayoritas, apa-apa semacam boleh dilakukan. Menjadi mayoritas itu terkadang memang jadi seenak sendiri, padahal ada minoritas yang sama-sama punya hak.

Rendang

Kalau pengin makan rendang saat Idul Adha atau Idul Fitri tiba gimana, dong?

Ya, telepon Ibu biar dikirimin. Fotonya doang tapi, hehehe. Bisa bikin sendiri kok sebenarnya. Daging sapi halalnya bisa beli di toko Asia yang banyak jual daging halal dan bumbunya pakai bumbu instan. Rasanya memang gak se-asoy bikinan Ibu, tapi mau bagaimana lagi. Masih mending sekarang banyak toko online yang menjual makanan, daging, dan bumbu halal. Dulu harus pergi ke masjid dulu, baru bisa belanja.

Hah, masjid? Iya, biasanya di dekat masjid ada toko halal. Di dekat masjid Kobe memang ada toko yang menjual berbagai makanan halal. Harganya kalau dibilang murah, ya nggak, kalau dibilang mahal, yaaa mau bagaimana lagi. Tempe saja 1000 yen (130 ribu rupiah) hanya dapat 3 biji. Per bijinya sama besarnya dengan tempe yang dijual 3000-an di warung sayur dekat rumah. Mi instan juga 100-an yen (13 ribu rupiah). Itu belum yang lain, ya. Cuma mau bikin sambal tempe dan mendoan saja harus merogoh kocek dalam. Duh.

Kalau susah mencari makanan halal, mau nggak mau harus memasak sendiri. Tapi, sekarang juga bermunculan restoran Indonesia, kok. Restoran dengan konsep warteg dan angkringan juga sudah ada, lho, di Jepang. Jadi, untuk urusan rendang, opor, dan masakan Indonesia lainnya masih bisa diusahakan.

Saya yakin di negara minoritas Islam lainnya, para muslim juga merasakan apa yang saya rasakan. Mau di Eropa, Amerika Selatan, Asia Timur, bahkan mungkin di Afrika, minoritas muslim harus bisa beradaptasi menjadi orang yang bisa tetap menjalankan perintah agama sekaligus menjaga hubungan baik dengan warga sekitarnya. Sepinya hari raya, beratnya puasa dan tarawih karena sendiri dan perbedaan waktu yang kadang cukup wow, dan mencari makanan halal adalah perjuangan tersendiri. Tapi di situlah kita belajar bahwa menjadi minoritas itu adalah salah satu bentuk keahlian yang harus diasah agar kita menjadi manusia yang lebih manusiawi. Eh.

BACA JUGA 5 Kelompok Warga dan Tugas Mereka Saat Penyembelihan Hewan Kurban dan tulisan Primasari N Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Gaya Hidup TerminalHari Rayaidul adhajepangminoritas
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

ibadah kurban

Ibadah Kurban dan Solidaritas Kemanusiaan

11 Agustus 2019
Perfect Blue

Perfect Blue: Film tentang Gelapnya Industri Hiburan yang Wajib Kalian Tonton

28 September 2021
Hutan Aokigahara dan Mitos Ubasuteyama di Jepang

Hutan Aokigahara dan Mitos Ubasuteyama di Jepang

24 Februari 2022
Panduan yang Harus Dipahami sebelum Memutuskan Kerja di Jepang

Panduan Singkat Sebelum Memutuskan Kerja di Jepang

19 Oktober 2021
9 Hal Menarik tentang Ninja di Jepang Terminal Mojok

9 Hal Menarik tentang Ninja di Jepang

7 Maret 2022
vape 6.1 lv dbd nyamuk mojok

Review Vape 6.1 LV Liquid, Obat Nyamuk Elektrik Liquid Paling Ampuh

10 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.