Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia

Ismalinar oleh Ismalinar
26 Oktober 2022
A A
Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia (Unsplash)

Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Rasa malu yang membuat saya kehilangan kepercayaan diri

Rupanya kejadian ini memengaruhi saya. Misalnya, saya jadi sangat ragu ketika hendak bertanya kepada dosen. Saya harus susah payah menyusun kalimat di dalam hati sebelum melontarkannya. Rasa takut mengucapkan /e/ itu bikin saya tertekan. Alhasil, saya jadi pendiam. Rasa percaya diri menguap. 

Saat itu, saya jadi mempertanyakan keputusan kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia. Kalau saja saya memutuskan kuliah di UNAND Padang, teman-teman saya pasti tidak akan mempermasalahkan mengucapkan /e/ taling. Maklum, di tanah Minang, kami memang tidak mengenal bunyi /e/pepet.

Sedih rasanya kalau membayangkan rasa malu kala itu. Selain itu, betapa dialek orang daerah, yang seharusnya menjadi kekayaan Bahasa Indonesia, malah jadi bahan tertawaan. Begitu sedihnya, saya jadi sering menyendiri di sebuah pojokan kampus.

Bapak Djoko Kencono menyelamatkan saya

Suatu kali, Bapak Djoko Kencono, dosen Fonologi, melihat saya duduk sendirian di pojokan. Beliau mendekati saya dan bertanya mengapa wajah saya terlihat bersedih. Awalnya, saya enggan berterus terang. Namun, karena beliau terus bertanya, saya terpancing untuk bercerita tentang rasa sesal belajar Bahasa Indonesia dan dipermalukan karena dialek.

Di akhir cerita saya, beliau tersenyum dan berkata.

“Jika tidak bisa menghilangkan dialek Minang ya itu wajar. Namanya juga sudah bertahun-tahun hidup di daerah. Kalau lafalnya tidak membedakan arti, masih boleh kok, tapi pelan-pelan dipelajari, terutama yang membedakan arti. Misalnya, mempelajari bunyi /e/ dalam kata “serang” (menyerang) dan kata “Serang” sebagai kota. Pada dua kata itu, lafal /e/ berbeda makna.” 

Beliau menambahkan. 

“Jangan malu! Logat Jawa saya dan Pak Sapardi juga masih kental, kok! Padahal kami dosen. Bukan salah bunda mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita di mana.” 

Baca Juga:

Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Kenapa Mahasiswa Jurusan Sastra Justru Jarang Jadi Penulis?

Beliau memotivasi saya dengan suara lembutnya, serta mengakhirinya dengan bercanda dan tersenyum. Saya pun ikut-ikutan tersenyum karena membayangkan selama kuliah dengan Pak Djoko dan Pak Sapardi, dua dosen istimewa di Universitas Indonesia, saya tidak bisa membedakan bunyi /d/ dan /t/ beliau berdua karena bunyi letupannya di telinga saya sama. Entah di kuping orang lain.

Memacu diri untuk belajar

Mendengar motivasi dari Pak Djoko, saya jadi terpacu untuk berlatih mengucapkan bunyi /e/ pepet. Saya tidak boleh menyerah belajar Bahasa Indonesia. Dialek memang kekayaan sebuah bahasa, tapi jangan sampai jadi penghambat.

Saat itu, saya dibantu oleh kawan-kawan yang tinggal di “Wisma Melati” di Jalan Pemuda III. Sebuah rumah kontrak yang kami bayar secara patungan. Saya mengontrak bersama Ceu Ros, Neni, Hida, Ayin, dan Mbak Nina. Mereka dari Cirebon, Tegal, dan Karawang. Dua orang lagi yang dari Kuningan saya lupa namanya. 

Pelatih saya adalah teman sekamar. Namanya Hidayati, kuliah Jurusan Tata Busana di IKIP Rawamangun, bukan Universitas Indonesia. Hida, nama panggilannya, adalah orang Rangkasbitung. Dia tidak menyebut istilah /e/ pepet, tapi /e/ orang Sunda.

“Kalau bisa mengucapkan kata “peuyeum” dengan benar, pasti bisa mengucapkan e-nya orang Sunda,” kata Hida penuh semangat. 

Makanya, dia meminta saya berulang-ulang mengucapkan kata “peuyeum” di depan cermin. Saya mau saja lagi. Sementara Ceu Ros, Neni, Hida, Ayin, dan Mbak Nina memperhatikan. Setelah Hida merasa saya mampu mengucapkan /e/ pepet, dia meminta saya mengucapkan kata emas, Maret, bandeng, dan lain-lain dengan lafal /e/ pepet.

Ilmu yang saya dapat

Karena memperhatikan wajah saya di kaca ketika mengucapkan kata “peuyeum”, saya merasa mendapat ilmu baru dan menyimpulkan sesuatu. Ternyata, mengucapkan bunyi /e/pepet itu bibir ditarik ke samping hingga kita seperti orang tersenyum. 

“Pantas saja orang Sunda cantik-cantik karena terlatih tersenyum,” kata saya ngomong sendiri di depan cermin. Orang Sunda seolah-olah tersenyum ketika mengucapkan kata-kata berlafal /e/ pepet, terutama dalam kata “peuyeum”. Diam-diam saya berpikir demikian.

“Ayo Is, latihan lagi. Pengucapan /e/ Sunda-nya sudah benar, tapi belum pas,” Hida mengagetkan saya yang baru saja merumuskan sebuah teori mengapa orang Sunda cantik. Belum menanggapi Hida, tiba-tiba perut saya sakit. Saya pun bangun hendak ke toilet. “Mau ngapain Is?” tanya Hida.

“Brak,” jawab saya spontan. Tanpa sadar, saya mengganti bunyi /e/ taling dalam kata “berak” dengan bunyi /e/ pepet. Sontak, teman saya sekontrakan yang berada di dekat saya tertawa terbahak-bahak.

Terima kasih kawan-kawan Wisma Melati

Kawan-kawan satu kontrakan itu berjasa besar. Saya ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada mereka lewat tulisan ini. Berkat latihan-latihan yang penuh canda dan tawa itu, hari-hari saya belajar Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia jadi tidak lagi menyiksa. Penyesalan itu berubah menjadi rasa syukur.

Penulis: Ismalinar

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kenapa Ejaan yang Benar Menurut Badan Bahasa Malah Bikin Bahasa Indonesia Jadi Aneh, Asing, dan Lucu?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2022 oleh

Tags: bahasa indonesiaBahasa Sundabelajar bahasaSastra IndonesiaUIUniversitas Indonesia
Ismalinar

Ismalinar

Lahir dan besar di Sumatera Barat. Kini tinggal di Tangerang.

ArtikelTerkait

Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-hal Ajaibnya Mojok.co

Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-Hal Ajaibnya

28 Januari 2024
Gang Kober Depok, Wilayah Strategis Dekat UI tapi Menyiksa Pejalan Kaki

Gang Kober Depok, Wilayah Strategis Dekat UI tapi Menyiksa Pejalan Kaki

17 Oktober 2023
bahasa daerah mata pelajaran bahasa indonesia adalah pelajaran paling sulit mojok.co

Bahasa Indonesia Adalah Mata Pelajaran Paling Sulit

23 September 2020
Semua Skripsi di Indonesia Salah, Prakata kok Jadi Kata Pengantar! Terminal Mojok

Semua Skripsi di Indonesia Salah, Prakata kok Jadi Kata Pengantar!

1 Februari 2021
Kosakata Bahasa Tegal yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Kosakata Bahasa Tegal yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

9 Oktober 2023
Sejarah ‘Ayang-ayang Gung’, Lagu Anak Sunda tentang Bangsawan yang Haus Kekuasaan terminal mojok

Sejarah ‘Ayang-ayang Gung’, Lagu Anak Sunda tentang Bangsawan yang Haus Kekuasaan

7 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok  Mojok.co

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

18 Januari 2026
Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026
Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

19 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Mahasiswa UT Lulus Bukan untuk Pamer, tapi untuk Bertahan Hidup

Mahasiswa UT Lulus Bukan untuk Pamer, tapi untuk Bertahan Hidup

20 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.