3 Kata Keterangan Waktu dalam Bahasa Indonesia yang Kalah Tenar – Terminal Mojok

3 Kata Keterangan Waktu dalam Bahasa Indonesia yang Kalah Tenar

ArtikelFeatured

Avatar

Suatu pagi saya mengawali hari dengan scrolling WhatsApp story karena nggak ada kerjaan, eh tiba-tiba disuguhi kata keterangan waktu dalam bahasa Indonesia yang aneh bin langka. Gimana nggak aneh bin langka? Bisa-bisanya saya, yang sejak dalam kandungan sampai sekian detik sebelum melihat unggahan WhatsApp story teman secara utuh dan menyeluruh, nggak tahu kalau ada kata keterangan waktu selain kemarin, besok, dan lusa. Parahnya lagi, selama hidup, saya belum pernah menggunakan kata-kata keterangan waktu tersebut saat berdialog dengan keluarga, guru, teman, atau apalah yang bisa bicara dan diajak ngobrol.

Atau mungkin jika dikaji dari sudut husnuzan, mengapa kata-kata keterangan waktu tersebut kalah tenar dibanding kata keterangan waktu lainnya atau kalah tenar dengan kata yang mirip padahal memiliki makna berbeda? Yaaa, mungkin saja biar orang yang diajak bicara nggak bingung alias mudah paham dan nyambung. Coba bayangkan, kalau kalian menggunakan kata keterangan waktu yang nggak familier, lawan bicara kalian butuh loading sekian detik untuk memahami apa yang kalian sampaikan. Ini kan bisa bikin waktu rebahan kalian habis, Cuy. Parahnya lagi, coba bayangkan kalau orang yang kalian ajak ngomong lewat chat malah bilang,”Kalau nulis yang bener, typo mulu wkwk” Laaah… Kalian saja yang kebanyakan nonton drakor makanya nggak tahu~

#1 Selumbari vs Sanubari

Istilah satu ini cukup langka dan bersejarah, dan mungkin bagi yang pertama kali mendengar kata “selumbari” akan menangkapnya dengan kata “sanubari”. Jadi teringat penggalan lirik “namamu akan selalu hidup dalam sanubariku” dari lagu “Hymne Guru”, ya. Wajar saja, “sanubari” kedengaran lebih artistik dan mengenang. Gimana nggak gitu, kata “sanubari” dalam lirik lagu “Hymne Guru” sudah mendarah daging di kepala orang Indonesia.

Kembali ke menu utama kita, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang beredar sekarang, kata “selumbari” berarti kemarin dulu, lebih mudahnya dua hari yang lalu. Jadi, jika sekarang hari Rabu, maka selumbari menunjuk pada hari Senin. Ingat!!! Ada selumbari yang menunjukkan hari dan ada sanubari yang menunjukkan hati. Jadi, jangan sampai salah, ya.

Baca Juga:  Di Kampung Saya, Bahasa Indonesia Masih Dianggap Milik Orang Kota

#2 Tulat vs Telat & Ulat

Kata keterangan waktu yang lebih aneh bin unik selanjutnya adalah “tulat”. Awal mendengar kata “tulat”, ada dua hal yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Pertama, kata “telat”. Sudah jadi hal wajar jika kata “telat” lebih diterima otak lantaran cocok dengan perilaku dan kebiasaan orang Indonesia yang suka molor dan nggak on time dengan dalil andalannya “jam Indonesia” sambil senyum-senyum kayak nggak ada dosa. Kedua, kata “ulat”. Yaaa, “tulat” memang kedengaran kalah tenar dengan “ulat” lantaran “ulat” jadi primadona sebuah kehidupan. Ketika masih menjadi ulat, sebagian orang awam akan jijik melihatnya. Namun, jika dilihat oleh orang berilmu, maka ulat adalah kupu-kupu (keindahan) yang tertunda. Akhirnya orang bijak akan berkata, “Ulat mengajarkan kita untuk tidak melihat sesuatu hanya sebatas penampilan, melainkan secara keseluruhan” Puji semesta dengan segala yang kau ucapkan~

Kembali ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, “tulat” berarti hari ketiga sesudah hari ini atau simpelnya hari sesudah lusa. Jadi, jika hari ini adalah hari Senin, maka “tulat” adalah hari Kamis. Namun, realita yang terjadi malah begini, “Tulat ngumpulin tugas praktikum, yuk” yang dipahami temanmu, “Telat saja ngumpulin tugas praktikumnya.” Hingga akhirnya tugas temanmu belum siap dan kamu jadi korban sontekannya.

#3 Tubin vs Turbin & Ubin

Kemudian disusul oleh turbin, eh “tubin”, yaaa! Pertama kali mendengar kata tersebut, tentu kalian lebih familier dengan dua kata lainnya. Pertama, “turbin” jadi kata yang lebih mudah diingat otak daripada “tubin” lantaran sering disebut dalam istilah permesinan. Apalagi jika sudah menyangkut mesin-mesin berskala besar, “turbin” akan jadi bahan pertimbangan dan pertanyaan. Kedua, kata “ubin”. Tentu ini bukan serial anak terkenal Ubin dan Ipin, ya. Eh, itu mah Upin dan Ipin. Huehehe. Yaaa, “ubin” dikenal masyarakat luas sebagai alas lantai, dinding, bahkan atap. Jadi, wajar jika “ubin” lebih diingat oleh otak dibanding dengan “tubin”. Oh ya, bagi yang belum tahu bentuk dan bahan pembuatan ubin seperti apa, ubin sendiri berbentuk persegi atau persegi panjang dan terbuat dari campuran pasir, batu, kaca, semen, dan cari di Wikipedia yang konon jadi sumber referensi. Tapi, jika alas lantai atau dinding rumah kalian hanya berbahan semen, itu bukan ubin, melainkan cor-coran!

Baca Juga:  Takut Mengajarkan Bahasa Daerah kepada Anak karena Takut Bicara Kasar Itu Alasan yang Bodoh

Kembali ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, “tubin” memiliki arti hari keempat dari sekarang atau biar makin ribetnya dua hari setelah lusa. Jadi, jika sekarang hari Rabu, maka tubin adalah hari Minggu.

Agar lebih mudah dipahami oleh jamaah mojokiyah sekalian, kata keterangan waktu yang saya tuliskan di atas bisa diurutkan mulai dari selumbari, kemarin, hari ini, besok, lusa, tulat, dan tubin. Terus setelah tubin apalagi, Kak? Jawab saya, “Diamalkan dulu yang sudah ada, jangan muluk-muluk!”

BACA JUGA Memahami Beda Disinformasi, Malinformasi, dan Misinformasi Biar Nggak Keder.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
23


Komentar

Comments are closed.