Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Menyadari Fiksi Kenyataan Hidup Melalui Novel Pedro Páramo

Khatmil Iman oleh Khatmil Iman
25 Mei 2019
A A
membaca fiksi

membaca fiksi

Share on FacebookShare on Twitter

Mari membaca fiksi. Barangkali begitu kalimat pertama yang saya musti tulis yakni sebuah kalimat ajakan. Tidak sembarangan, meskipun tidak terlalu serius, kalian perlu hiraukan. Sebab jika saya diizinkan beragumen, maka argumen saya tulis demikian: kehidupan nyata kita akhir-akhir ini—terutama di Jakarta—tidak lebih fiksi daripada fiksi itu sendiri.

Sedangkan, novel sebagai sebuah karya tulis, sudah jadi stereotip massal bahwa ia merupakan fiktif belaka. Fiksi sebagai kata dasar, menurut KBBI, adalah cerita rekaan atau secara gamblang bisa disebut tidak nyata. Sekadar selingan, saya beberapa kali menulis fiksi sehingga diketahui bahkan oleh salah seorang sahabat bapak saya. “Ngapain kamu hidup di dunia angan-angan?” kata dia, membantah saya agar saya kembali ke jalan hidup nyata sebagai calon Sarjana Teknik. Saya diam belaka.

Padahal kalau saya ambil contoh novel Pedro Páramo, di mana Juan Rulfo sang penulis, berani menarasikan ‘aku’ sebagai sudut pandang pertama di permulaan cerita yang mengunjungi kota mati. Berkat wasiat ibunya, Juan Preciado berkelana ke Media Luna dan desa Comala secara khusus, tanah kelahiran ibu sekaligus tinggal bapak Juan Preciado sebelum mereka berpisah. “Buat dia membayar, Nak. Untuk tahun-tahun ketika dia melupakan kita,” gumam Dolorita, ibu Juan Preciado sebelum sekarat.

Ketika tiba di Comala, Juan dibimbing seorang pengembara ke rumah Doña Eduviges, yang kemudian wanita itu bercerita kalau dia teman kecil ibunya. Kemudian Juan sedikit heran ketika Eduviges menyatakan sudah tahu kalau Juan akan datang. Bahkan—menurut pembacaan saya—mungkin Juan tak sadar kalau Eduviges telah lama mati, begitu pun pengembara yang mengantarkan dia sebelumnya.

Comala dan Media Luna benar-benar mati. Meski dengan segala kepolosan saya, saat pertama kali membaca, tidak membau kematian hakiki kota sekaligus para penduduknya.

Belum lagi di tengah-tengah cerita, saya dibikin pusing oleh narator yang berganti-ganti jadi orang ketiga serba tahu. Apalagi orang ketiga serba tahunya tidak hanya satu. Meskipun begitu, saya cukup menikmati novel ini. Saya terhanyut di dalam kerumitan sudut pandang narator. Yang mana—in my arrogant opinion—di dalam diri Juan Rulfo terbagi aku berjumlah banyak. Semacam alter ego, lalu dia mainkan secara ciamik ke dalam tokoh-tokoh yang dia reka sehingga dia puas dengan itu. Maka, di dalam kepuasan itu Juan Ruflo cukup menerbitkan dua buku untuk jadi mahakarya dan membuat dia dikenang.

Bahkan, di dalam kata pengantar, Gabriel Garcia Marquez mengaku jika sepuluh tahun sebelum membaca novel ini dia tak pernah merasa begitu tergugah. Saya membayangkan Marquez sekian lama merasa hampa, bahwa hidup ini tidak menyediakan apapun kecuali duka, lalu sekita dia merasa bergairah sampai ereksi. Dan gairah itu mencuat dari cerita rekaan kematian.

Padahal kematian, yang kemudian Juan Preciado mengalaminya dan tetap jadi narator dari dalam kubur, ditulis oleh Juan Rulfo seakan bukan perubahan yang menakutkan. Kematian sebenarnya bukanlah cerita spesial amat, dan hanyalah keniscayaan.

Baca Juga:

Kegemaran Membaca Warga Jawa Tengah Juara Dua Se-Indonesia, Warga Demak Jelas (Bukan) Salah Satunya

Cara Saya Berdamai dengan Antrean Peminjam Buku iPusnas yang Tidak Masuk Akal

Saya ulangi, kematian hanyalah keniscayaan. Seperti yang telah dialami penduduk kota; termasuk Pedro Páramo: penguasa Media Luna yang membayar warisan utang keluarga dengan cara menikahi anak perempuan pemberi hutang; termasuk Bapa Rantería: yang menyesal seumur hidup karena mengampuni dosa saat Miguel Páramo(anak Pedro Páramo yang lain) yang memperkosa keponakan atau yang membunuh saudaranya dengan imbalan uang; termasuk Donis: yang semasa hidup mencintai saudarinya sendiri; termasuk banyak tokoh lain yang semua telah mati.

Kematian-kematian itu, saya yakin, ditulis dan direka ulang oleh Juan Rulfo berdasar kehidupan nyata saat itu, atau setidaknya kalau bukan saat itu menurut cerita-cerita sejarah maupun turun-temurun yang pernah dia dengar. Sebab bagaimanapun, Juan Ruflo tidak mungkin terlahir seketika menjadi penulis. Dia melewati proses kehidupan, dengan otomatis mengamati dunia nyata untuk kemudian dia olah dan tulis. Semua cerita fiksi bermula dari kisah nyata.

Kemudian, yang menentukan fiksi itu jadi ‘nyata’ menurut saya ada dua. Pertama, kemampuan menulis penulis itu sendiri; seperti yang telah dilakukan Juan Rulfo dengan labirin super rumitnya.

Kedua, kesenjangan batas makna kenyataan hidup dengan ‘nyata’ itu sendiri. Dan untuk alasan kedua, saya kalau esok diberi kesempatan, saya akan sampaikan sesuatu kepada sahabat bapak saya. Barangkali begini: “Pak, kemarin lihat TV?” kemungkinan besar dia menjawab iya, sebab semua pensiunan PNS menonton TV bahkan YouTube.

“Bagaimana kita menyebut kejadian 22 Mei 2019 itu, kalau bukan fiksi?” dia mungkin kaget karena aku tiba-tiba tanya begitu. Tapi saya tetap melanjutkan tanpa peduli. “Bagaimana dua kelompok bisa bentrok, hanya karena pihak yang satu untuk mempertahankan, yang pihak kedua untuk berebut kekuasaan yang menjijikkan?”

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Aksi 22 MeiFiksiMembacaPilpres 2019Politik Indonesia
Khatmil Iman

Khatmil Iman

ArtikelTerkait

Album Baru Band Itu Pasti Mengecewakan, Nggak Usah Terlalu Berharap Makanya terminal mojok.co

“Konser Untuk Republik” Itu Solusi Omong Kosong

2 Oktober 2019
pak prabowo Menteri Kabinet Indonesia Maju

Pak Prabowo Foto Tanpa Pasangan: Ya Memangnya Kenapa?

25 Oktober 2019
indonesia timur

Curhatan Seorang Timur yang Menyesal Iri pada Jawa

28 Mei 2019
pedoman menilai produk hukum baik atau buruk politik negara hukum indonesia

Kupas Politik Indonesia Hari ini: People Power 22 Mei

23 Mei 2019
bermaafan di idulfitri

Ajaibnya Kaum Muslim di Hari Raya Idulfitri

7 Juni 2019
perdamaian politik

Kebersamaan Keluarga Pak SBY dan Ibu Mega dan Pentingnya Perdamaian Dalam Politik

9 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.