Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Menjadikan ODGJ sebagai Konten YouTube Itu Bermasalah secara Etika

Bahruddin Hasan oleh Bahruddin Hasan
15 September 2021
A A
Menjadikan ODGJ sebagai Konten YouTube Itu Bermasalah secara Etika terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Membantu ODGJ memang sebuah hal mulia, tapi kenapa mereka harus dijadikan konten YouTube dan ditonton banyak orang?

Saya geleng-geleng kepala melihat seorang YouTuber mengajak beberapa ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) membuat parodi podcast. Di channel RianTV, para ODGJ disuruh wawancara dengan sesama ODGJ layaknya podcast pada umumnya. Percakapan mereka yang ngelantur dan absurd itu menjadi sebuah adegan komedi yang lucu sekaligus miris. Bagaimana tidak, orang-orang yang notabene sedang sakit jiwa justru dijadikan bahan guyonan hanya demi subscriber dan viewer, yang mana ujung-ujungnya adalah AdSense atau uang.

ADVERTISEMENT

RianTV hanyalah salah satu dari sekian banyak channel YouTube yang akhir-akhir ini marak menjadikan ODGJ sebagai konten utamanya. Contohnya ada lagi channel yang menamakan dirinya Pemburu ODGJ. Ya, dari namanya saja sudah bikin saya mengernyitkan dahi. Kok rasanya gimana, ya? Memangnya tidak bisa memilih diksi lain yang lebih manusiawi alias berkonotasi positif?

Selaras dengan namanya, di channel ini, YouTuber dan timnya mencari para penderita gangguan jiwa di jalanan. Di jalanan itulah para ODGJ dipotong rambutnya, dimandikan, dan diganti pakaiannya. Drama saat bagaimana mereka berontak ketika dipaksa untuk dibersihkan, teriakan kesakitan saat dilakukan upaya penanganan adalah tayangan yang cukup sering disajikan. Lagi-lagi kondisi menyedihkan yang diderita para ODGJ dijadikan bahan pertunjukan.

Tak berhenti di situ, ada lagi channel Purnomo Belajar Baik misalnya. Dalam beberapa videonya, kerap dipertontonkan bagaimana ODGJ—baik pria maupun wanita—dibawa paksa, bahkan dimandikan di depan umum, sehingga sedikit banyak memperlihatkan bagian tubuh yang tidak seharusnya jadi konsumsi publik. Sebuah keadaan pahit yang saya yakin tidak satu pun yang mengalaminya rela jika harus dijadikan tontonan banyak orang, apalagi ditayangkan di YouTube dengan ratusan ribu bahkan jutaan pemirsa. Ironis, tapi demikian kenyataannya.

Dan masih seabrek channel YouTube lain dengan tema dan konten sejenis. Bahkan semakin ke sini kian ramai bermunculan channel-channel baru yang mengikuti jejak keberhasilan para pendahulunya.

Terlepas dari pesan sosial yang mungkin ingin disampaikan, sebenarnya ada etika yang cacat di dalam proses pembuatan konten-konten ODGJ tersebut. Bahwa secara umum kita mengetahui jika seorang YouTuber tidak bisa serta merta semaunya sendiri dalam mengunggah video. Ada aturan atau etika-etika yang harus dipatuhi. Apalagi saat ini menjadi YouTuber bukan sekadar hiburan atau hobi, melainkan sebuah kegiatan komersil bahkan pekerjaan dengan potensi penghasilan yang cukup menjanjikan.

Walaupun sudah ada kebijakan atau pedoman komunitas untuk para pembuat konten, misal konten yang menyinggung SARA, vandalisme, pornografi, judi online, dan lain sebagainya, yang mana hal ini sudah diatur oleh pemerintah di dalam UU ITE. Terlepas dari itu ada juga peraturan tidak tertulis atau etika yang jika diabaikan juga berpotensi menimbulkan masalah yang tidak sederhana. Salah satunya adalah perihal izin atau consent dalam sebuah tayangan.

Baca Juga:

Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

Konten “5 Ribu di Tangan Istri yang Tepat” Adalah Bentuk Pembodohan

Yes, kita sama-sama mafhum bahwa seorang YouTuber atau kreator konten harus meminta izin terlebih dahulu kepada seseorang yang ada di ada di dalam videonya sebelum video tersebut diunggah. Apalagi jika video tersebut berpotensi menimbulkan perspektif yang kurang baik terhadap pihak yang terlibat, misalkan memalukan atau berpotensi merendahkan martabat seseorang.

Contoh serupa dalam hal ini misalnya adalah konten prank atau aksi menjahili seseorang untuk lucu-lucuan di YouTube, maka YouTuber harus meminta persetujuan terlebih dahulu kepada mereka yang menjadi objek atau korban sebelum video ditayangkan. Jika tidak diizinkan dan tetap menayangkannya, maka bisa menimbulkan masalah di kemudian hari, bahkan YouTuber tersebut bisa dituntut secara hukum oleh korban.

Nah, sekarang kembali pada konten-konten ODGJ. Bagaimana mungkin seorang YouTuber minta izin atau consent pada ODGJ yang dijadikan kontennya. Terlebih sebagaimana yang saya ceritakan di awal bahwa kebanyakan yang ditampilkan adalah hal-hal memalukan atau  penderitaan dari seseorang yang sedang sakit jiwa. Dari mana kita bisa mengetahui mereka rela atau tidak jika kondisi sakitnya tersebut dijadikan bahan tontonan bahkan diperdagangkan? Dan jelas itu perkara yang mustahil dilakukan.

Sehingga di sinilah akar masalahnya, Kisanak. Jika minta persetujuan kepada ODGJ tidak mungkin terjadi, maka menayangkan atau menjual hal tersebut bukankah sebuah pencurian? Apa bedanya dengan seseorang yang menjual sesuatu barang dan mendapatkan keuntungan dari sana, tetapi belum memperoleh izin dari pemiliknya? Tidak ada bedanya.

Bandingkan dengan mengunggah video yang memuat karya orang lain, itu sudah gamblang diatur dalam Undang-undang Hak Cipta. Bahkan pihak YouTube juga sudah memiliki sistem tersendiri untuk menangkal kejahatan semacam ini. Kalau pun belum maksimal itu soal lain, tapi jelas telah ada perlindungan hukum untuk menekannya.

Atau misalkan juga dalam penayangan video prank. Seorang YouTuber yang merekam dan mengunggah video prank tanpa seizin korban bisa diadukan dan dijerat dengan pidana sebagai penghinaan atau pencemaran nama baik.

Lantas, bagaimana dengan konten ODGJ? Sialnya hal ini belum menjadi perhatian masyarakat kita bahkan pemerintah. Sebuah upaya menghadirkan perlindungan hukum bagi teman-teman ODGJ masih tidak tersentuh. Ironisnya, aktivitas komodifikasi ODGJ malah digandrungi dan dihujani tepuk tangan simpati.

Kita memang bisa bersepakat jika kegiatan sosial membantu ODGJ adalah perilaku mulia yang jarang orang mau, akan tetapi membantu itu soal lain dan perihal consent untuk tayang di YouTube itu lain lagi.

Gini saja, deh, Mylov. Coba bertukar posisi, seandainya kita yang jadi ODGJ, kira-kira mau ndak divideo saat dalam kondisi yang memprihatinkan itu kemudian dijadikan tayangan yang ditonton jutaan manusia? Belum tentu, kan?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 September 2021 oleh

Tags: kontenkreator kontenodgjYoutube
Bahruddin Hasan

Bahruddin Hasan

Lulusan psikologi yang suka menggambar.

ArtikelTerkait

5 Pelajaran Hidup yang Saya Sadari Setelah Main Gim The Sims terminal mojok.co

Menanggapi Abad Milenial Melalui Pembukaan Prodi Khusus YouTuber, Gamer, dan Animator di Perguruan Tinggi

16 Juni 2019
10 Resep Makanan Terbaik dari Devina Hermawan, Chef Kesayangan Kita Semua Terminal Mojok

10 Resep Makanan Terbaik dari Devina Hermawan, Chef Kesayangan Kita Semua

10 September 2022
Nggak Pentingnya Ngasih Komen Menit-Menit Spesial di Kolom Komentar YouTube

Nggak Pentingnya Ngasih Komen Menit-Menit Spesial di Kolom Komentar YouTube

30 Oktober 2019
Tes Usia Mental: Ketika Hidup Membuat Mental Kita Cepat Tua ODGJ

Ketika ODGJ Harus Merawat Orang Sakit: Berusaha Tetap Tegar meski Diri Benar-benar Ambyar

7 September 2023
4 Cara Mudah Download Video YouTube Menjadi Mp3 Terminal Mojok

4 Cara Mudah Download Video YouTube Menjadi Mp3

22 Juni 2022
Fitur Gift TikTok Harusnya Juga Dihapus seperti TikTok Shop

Fitur Gift TikTok Harusnya Juga Dihapus seperti TikTok Shop

20 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trauma menginap di hotel murah Cikarang yang lebih cocok jadi tempat uji nyali daripada tempat bermalam Mojok.co

Trauma menginap di hotel murah Cikarang yang lebih cocok jadi tempat uji nyali daripada tempat bermalam

30 Juli 2026
Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik Mojok.co

Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik

28 Juli 2026
Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental Mojok.co

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

29 Juli 2026
Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya Mojok.co

Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya

31 Juli 2026
Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura Mojok.co

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura

3 Agustus 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.