Menghitung Penghasilan Bang Ojak Tukang Ojek Pengkolan Selama Pandemi Corona – Terminal Mojok

Menghitung Penghasilan Bang Ojak Tukang Ojek Pengkolan Selama Pandemi Corona

Artikel

Gusti Aditya

Memang betul apa yang dikatakan oleh Rojak, tokoh utama sinetron Tukang Ojek Pengkolan. Menurut tukang ojek yang biasa disapa Bang Ojak ini, pekerjaan apa saja harus disikat selama itu halal. Musim rambutan, ya jual rambutan. Musim ternak lele, nggak ada salahnya coba. Dan inovasi dalam ojek juga harus ditegaskan, menerima jasa titip dan langganan contohnya.

Pola pikir Bang Ojak emang berubah sejak punya momongan. Beban sudah bertambah. Anaknya sekarang perlu susu dan perlengkapan bayi, tanggung jawab ke Mbak Denok juga makin besar. Tapi apakah penghasilan Bang Ojak cukup menutup kebutuhan hidup sekarang? Apalagi ini kan lagi pandemi.

Inilah pertanyaan yang bikin saya penasaran. Untuk menjawabnya, saya susun analisis asal-asalan ini.

Menghitung penghasilan Bang Ojak Tukang Ojek Pengkolan selama pandemi

Pertama, usaha ojek konvensional masih berjalan seperti biasanya. Kita ketahui bahwa mengantar pengguna jasa di sekitaran Rawa Bebek, dari Rawa Bebek 1 sampai 10, tarifnya sepuluh ribu rupiah. Sedangkan Rawa Bebek belasan, sebelas dan seterusnya, biasanya mereka di angka lima belas ribu.

Kemudian, tiga tukang ojek, Kang Tisna (sebelum balik ke Bandung), Purnomo, dan Bang Ojak selama ini menggunakan sistem gantian. Biasanya, ketika ditanya rekan ojeknya sebelum jam makan siang, Bang Ojak menjawab begini, “Baru dapet lima penumpang, Pur!”

Jadi, sebelum pandemi, Bang Ojak biasa mendapat minimal lima puluh ribu dalam setengah hari. Kalau diasumsikan ia bekerja sampai jam 5 sore terus dapat penumpang 10, artinya bisa bawa pulang duit seratus ribu.

Selama pandemi, Bang Ojak sering ngeluh begini, “Aduh, hari ini sepi banget, yak, cuma dapet setengah” atau “Dari pagi belum dapet penumpang”. Kita dapat petunjuk, setengah dan belum dapet. Dari omongan Bang Ojak kita tahu pendapatannya selama pandemi adalah 0-Rp50 ribu sehari.

Kedua, faktor yang membuat sepi selain pandemi. Kini pangkalan ojek sudah pindah ke cakruk dalam desa. Jelas cakruk ini bukan tempat yang cocok untuk mendapatkan penumpang. Berbeda dengan pangkalan ojek di pinggir jalan raya, di mana orang singgah dan pergi secara rutin. Turun dari angkutan umum atau sebaliknya.

Saya nggak tahu bagaimana denah Rawa Bebek. Namun, dalam beberapa episode, cakruk yang kini digunakan sebagai pangkalan ojek, beberapa kali digunakan sebagai tempat mengawasi CCTV kampung. Itu berarti letak cakruk ini di tengah desa, penumpang yang menggunakan jasa Bang Ojak dan kawan-kawannya, dapat ditarik kesimpulan adalah warga Rawa Bebek saja.

Ketiga, usaha jastip atau jasa titip. Usaha ini dikembangkan oleh pemikiran istrinya Mas Pur, yakni Mbak Rinjani. Dan Bang Ojak bergerak cepat untuk mempromosikan usahanya ke berbagai tempat, seperti es buah Abi-Umi, katering Mpok Uyuy, kafe milik Mak Mae, dan warung nasi Pelipurlapar. Hasilnya pun lumayan, semua pelanggan berdatangan.

Bang Ojak mengambil tarif dua ribu sampai lima ribu dalam usaha jastip miliknya. Dari pagi hingga siang, jika melihat kesibukannya, Bang Ojak bisa menerima sepuluh sampai lima belas jastip. Kita ambil kemungkinan terbesar, 15 kali jastip dikali Rp5 ribu, maka sampai siang Bang Ojak bisa mendapatkan Rp75 ribu.

Namun, sangat disayangkan usaha ini menjadi sunyi senyap karena ketangkasan motor tua Bang Ojak yang tidak bisa diajak berpacu dengan banyaknya permintaan jastip. Ya, mau bagaimana lagi, kenangan Bang Ojak lebih diutamakan ketimbang anak istrinya di rumah.

Keempat, kartu AS mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Pertanyaan mulai muncul, dari mana Bang Ojak mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan Boy dan Mbak Denok. Jawabannya sederhana, dari kekayaan mertuanya, yakni Bapak dan Ibu Danang.

Walau cerita sinetron ini kini menjadi sedikit membosankan, namun Tukang Ojek Pengkolan menampilkan sedikit kenyataan mengenai apa yang terjadi di kehidupan kita. Melihat Bang Ojak, saya juga melihat realita di lapangan bahwa banyak tukang ojek pangkalan di sekitar Terminal Giwangan, Yogyakarta, menampilkan kesulitan yang sama. Mati surinya industri transportasi lintas provinsi, menjadikan tukang ojek harus memutar otak untuk mengisi kepulan asap di dapur mereka.

Selain Bang Ojak dan tukang ojek di sekitar Terminal Giwangan, masih banyak lagi kelumit tukang ojek di tempat lain mengeluhkan hal yang sama. Namun, bedanya, tukang ojek lain tidak selalu memiliki tokoh seperti Bapak dan Ibu Danang yang menyelamatkan kebutuhan dapur mereka.

Tetap semangat untuk seluruh Bang Ojak-Bang Ojak lain di bumi Indonesia yang kini mengalami paceklik berkepanjangan selama pandemi. Semoga jalan selalu ada dan kita semua diberi nalar waras agar pandemi lekas usai.

BACA JUGA Menghitung Penghasilan Majelis Lucu Indonesia dari Youtube dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Pedoman Sederhana untuk Menilai Suatu Produk Hukum Baik atau Buruk

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.