Menghitung Kerugian Finansial Mas Jatmiko di Film 'Sobat Ambyar' Netflix – Terminal Mojok

Menghitung Kerugian Finansial Mas Jatmiko di Film ‘Sobat Ambyar’ Netflix

Artikel

Gusti Aditya

“Saras cen bajingan!” begitu batin saya setelah menonton film Sobat Ambyar yang tersedia pada platform Netflix. Setahu saya semua Saras di muka bumi ini baik-baik saja, apalagi saras 008, eh ndilalah ada Saras tipe yang nggatheli pengin tak hiiih.

Sebagai orang yang pernah di posisi Mas Jatmiko, saya paham betul betapa ambyarnya blio ketika Saras memperlihatkan tajinya sebagai fakgurl kenamaan. Mulai dari gerak-gerik, tindak-tanduk, hingga akhirnya kala ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Jatmiko. Hesss ra karuan.

Para laki-laki yang silih berganti datang ke kedai kopi Jatmiko untuk menemui Saras, seharusnya sudah menjadi peringatan tersendiri. Tetapi, ya namanya dunia, serba wolak-walik dan gothak-gathuk. Awalnya ada di posisi atas, mak mblaaar Jatmiko gantian berada di posisi yang sama dengan para pria yang menangisi kepergian Saras.

Dari semua perjalanan Mas Jat dengan Dek Saras di film Sobat Ambyar Netflix, terdapat hal memilukan selain kata-kata, “Kowe ngekon aku jaga kesehatan, tapi kowe dewe le ngelarani aku, Ras….” Modyar, remok Mas Jat, remoook. Tapi, ya itu tadi, kesaktian Jatmiko mengelola hati bukan satu-satunya faktor, ada lagi satu faktor yang patut diacungi jempol.

Ya, betul sekali, bagaimana Jatmiko mengelola finansial di tengah masa membayar waralaba kedai kopi yang baru ia buat, pun adiknya yang akan lulus SMA dan masuk kuliah. Saras datang di tengah-tengah gejolak ekonomi Jatmiko, membuyarkan semua yang sejatinya sudah buyar. Kebacut tresno, ora ngiro saikine cidro.

Kalau saya jadi Jatmiko, ah, mbuh nggak paham lagi kudu ngapain. Namun, sebagai alumni ambyar, saya mencoba meringkas kerugian finansial Jatmiko selama meladeni Saras “tegone kowe ngapusi”. Begini, Lur.

Pertama, Rp20 ribu untuk nyogok tukang nasi goreng supaya nggak berisik. Biar apa? Biar Saras nggak terganggu dari tidurnya. Segitunya, ya. Tapi, begitulah orang saat kasmaran, kondisi apa saja trabas.

Kedua, kalung emas sing ono gulumu, eh, gulune Saras. Entah belinya di area Pasar Klewer atau di toko barang antik pada umumnya, yang jelas kalung emas itu adalah wujud betapa tulusnya perasaan Jatmiko kepada Saras.

Kalau hasil bertanya kepada kawan saya di Solo, kalung modelan begitu di toko oleh-oleh berada di angka Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Tergantung ornamennya, bukan karatnya. Sebab kata kawan saya, itu bukan emas murni. Nggak tahu kalau Emas Jatmiko.

Kata kawan saya yang seorang bakul oleh-oleh itu, bisa saja harganya lebih mahal ketika barang tersebut sudah masuk kategori antik. Katanya, bisa berada di atas angka Rp2 juta. Jadi biar nggak berspekulasi terlalu liar lantaran lokasi Jatmiko membeli kalung itu ada di toko barang antik, maka harga kalung itu ada di kisaran angka Rp2,5 juta.

Kenapa saya bisa yakin itu termasuk kategori barang antik? Sebab ketika wisuda, Saras memakai kalung itu. Bayangkan saja, wisuda itu saat yang sakral, jadi apa pun yang digunakan oleh Saras, anggap saja “ada harganya”.

Ketiga, bensin dari Solo Raya menuju Kebun Teh Kemuning, Karanganyar. Ketika dua insan ini sedang bungah, Jatmiko mengajak Saras untuk jalan-jalan. Mereka pergi ke Kebun Teh Kemuning yang bertempat di Ngargoyoso, Karanganyar. Kata kawan saya yang tinggal di sana, main ke tempat itu dari Solo Raya cukup siapkan dana Rp200 ribu .

Melihat kondisi serba pelik seperti ini, mbok yakin Mas Jat yang bayarin Dek Sar. Dalam kondisi hujan-hujanan, jajan pentol alias bakso adalah sisi melankolis tersendiri. Ya apalagi di tempat ini pula Jatmiko mencium Saras.

Keempat, tiket travel Solo–Surabaya dan tiket bus AKAP Surabaya–Solo. Ketika Saras ke Surabaya guna pulang kampung pasca lulus sidang, Jatmiko menyusul Saras. Nggak diketahui bagaimana cara Jatmiko berangkat ke Surabaya, di film Sobat Ambyar ini nggak begitu dijelaskan. Namun, saya memperkirakan blio naik travel karena kondisi keuangannya masih bisa dikatakan baik-baik saja.

Pulangnya, dalam kondisi ambyar, Jatmiko dipukuli oleh beberapa preman dan ada yang ngambil uang di dompet Jatmiko karena blio nabrak tukang sayur. Dengan kondisi uang yang kempat-kemput, Jatmiko memutuskan naik bus AKAP.

Berapa habisnya? Pengalaman pribadi saya, namun nggak dalam kondisi ambyar macam Jatmiko, begini rinciannya. 

Travel Solo–Surabaya Rp250 ribu, ongkos Gojek ke rumah Saras Rp30 ribu sudah ditambah tips, duit Jatmiko yang diambil bakul sayur ya bisa di angka Rp100 ribu, terus bus AKAP Surabaya–Solo semisal Eka di angka Rp115 ribu.

Totalnya jadi Rp495 ribu dengan catatan Jatmiko nggak makan. Edan po ambyar direwangi makan?

Kelima, keperluan ulang tahun Saras. Ke Surabaya, Jatmiko bawa kue ulang tahun yang ditaksir harganya Rp100 ribu. Pun dengan boneka ukuran dua meteran dengan harga pasaran Rp500 ribu. Dengan uang Rp1,5 juta, Jatmiko membelah Solo ke Surabaya dengan perasaan paling hampa sepanjang sejarah sobat ambyar.

Tapi, semua itu nggak berlaku manakala ada yang lebih ambyar dan bikin sakit hati dan kepala, yakni waktu. Ya, waktu yang dibuang oleh Jatmiko dalam mengumpulkan pundi-pundi uang untuk tokonya, adiknya, dan kehidupannya. Panjang umur Mas Jatmiko. Lha iyo pancen, Mas, remok ati iki yen eling janjine. Ora ngiro jebulmu lamis wae.

Sumber gambar: Intagram Sobat Ambyar

BACA JUGA Ketika Sobat Ambyar Semakin Banyak dan Menyebalkan dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Ketika Sobat Ambyar Semakin Banyak dan Menyebalkan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.