Menghisab Dosa Sosial Indonesia dari Petuah Mahatma Gandhi

Ada tujuh dosa sosial menurut Mahatma Gandhi, sepertinya Indonesia ini sudah melakukan semua dosa-dosa yang disebutkan tersebut.

Featured

Nuraini Dewi

Ada petuah dari Mahatma Gandhi yang cukup terkenal. Tujuh Dosa Sosial yang bisa menyebabkan kemerosotan kualitas kehidupan dalam bernegara. Ketujuh dosa sosial menurut Mahatma gandhi, di antaranya ialah, politik tanpa prinsip; kekayaan tanpa kerja keras; perniagaan tanpa moralitas; kenikmatan tanpa nurani; pendidikan tanpa karakter; ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan; dan peribadatan tanpa pengorbanan. Kalau ditelisik lebih jauh lagi, sepertinya Indonesia ini sudah melakukan semua dosa-dosa yang disebutkan oleh Mahatma Gandhi, coba kita bedah satu per satu.

gandhi-social-sins.jpg

 

Pertama, politik tanpa prinsip. Politik tanpa prinsip ini merupakan politik yang banyak berisi pelintiran kata-kata serta transaksional kekuasaan. Ini sih sudah jelas bagaimana para politisi di negeri ini tidak memiliki integritas, pun tidak ada batas yang jelas diantara ideologi partai politik. Kesimpangsiuran seakan dibiarkan oleh para politisi untuk mengaburkan persepsi masyarakat.

Bisa kita lihat dengan jelas bagaimana dua kubu yang tadinya saling menyerang seakan tanpa ampun menjadi bersatu dengan begitu mudahnya. Kalau salah satu prinsip Gandhi sih, ahimsa, yang berarti anti kekerasan. Tapi kalau kita lihat bagaimana politisi di negeri ini menghadapi masyarakatnya, tanpa perlu penjelasan panjang lebar kali tinggi, kita semua sudah mengetahui jawabannya bahwa ahimsa jelas bukan prinsip politik negara kita~

Dosa kedua adalah kekayaan tanpa kerja keras. Ingin mendapatkan sesuatu secara instan, itulah mental sebagian bangsa Indonesia. Akibatnya, demi memenuhi semua keinginan dengan cepat dan mudah, seseorang akan menghalalkan segala cara. Dapat kita saksikan bagaimana praktik korupsi terjadi di Indonesia. Tidak hanya korupsi yang dilakukan oleh para elit politik saja, tapi juga praktik korupsi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kasus yang mencerminkan mental ‘instan’ itu juga sering kita jumpai. Kalau masih ada yang ingat mengenai kasus penggandaan uang Dimas Kanjeng, nah itu salah satu bukti konkret mengenai mental ‘instan’ masyarakat Indonesia.

Ketiga adalah perniagaan tanpa moralitas. Banyaknya penggelapan pajak dan kasus suap kepada para elit negara untuk melancarkan bisnis merupakan salah satu contoh perniagaan tanpa moralitas yang akan berimbas pada banyak hal, terutama pada ekonomi negara. Padahal, aspek ekonomi merupakan salah satu hal utama untuk membangun negara dan mensejahterakan rakyatnya.

Selama ekonomi negara dikuasai oleh para elit tanpa moral, maka selama itu pula rakyat akan sengsara. Orang yang kaya akan semakin sejahtera dan yang miskin akan semakin melarat. Kesenjangan semakin melebar. Hak-hak pekerja pun sering kali tidak diperhatikan oleh para penguasa, baik penguasa perusahaan alias pemilik modal, maupun penguasa negara. Empati dan simpati para penguasa sudah kandas digilas kenyamanan serta kemapanan. Mereka sibuk memupuk kekayaan setiap saat tanpa memikirkan mereka yang melarat.

Baca Juga:  Di Mana Kemanusiaan, Kalau Banjir Saja Sempat-sempatnya Dipolitisasi?

Perilaku yang menjadi dosa sosial keempat yakni kenikmatan tanpa nurani. Mental apatis, tidak mau tahu kesulitan orang lain, yang penting dirinya senang. Hal semacam itu yang disebut Gandhi sebagai kesenangan tanpa nurani. Tidak memikirkan orang lain, hanya memikirkan keuntungan dan kesenangannya sendiri meskipun yang dilakukannya jelas-jelas merugikan orang lain. Misalnya, para koruptor yang menikmati uang hasil korupsinya tanpa memikirkan rakyat miskin yang tertindas. Bagi mereka sih, nggak penting mikirin masyarakat miskin. Ngapain? mending juga rapat sambil bobo di gedung ber-AC, kantong tetap tebal pula~

Lalu, dosa sosial kelima adalah pengetahuan tanpa karakter. Hal itu tentu saja berkaitan erat dengan pendidikan di Indonesia yang sangat sulit untuk merata. Pendidikan karakter paling berhasil di negeri ini adalah karakter menjadi pragmatis nan oportunis. Pendidikan di Indonesia juga lekat dengan perisakan dan kekerasan. Di sekolah, kita jarang sekali mendapat pengajaran mengenai berbagai hal yang bersifat kemanusiaan ataupun toleransi. Sebaliknya, sekolah justru menjadi ajang untuk para siswa melampiaskan ego mereka. Sekolah juga sering kali hanya mengajar target angka, tapi rincihan proses untuk mencapai angka itu sendiri kurang diperhatikan, apalagi dihargai.

Bukan sesuatu yang mengherankan jika berbagai praktik korup sudah terjadi sejak berada di bangku sekolah. Banyak yang mengatakan, di Indonesia ini tidak kekurangan orang pintar dan cerdas, hanya saja kekurangan orang yang jujur serta bermoral.

Walhasil, banyak dari mereka yang pandai dan menguasai sebuah ilmu pengetahuan, tapi menggadaikan ilmu pengetahuannya demi uang dan kekuasaan. Seperti ahli agama yang menjual pengetahuan agamanya demi pundi-pundi rupiah dan kekuasaan. Begitu pula dengan para ahli hukum yang ujung-ujungnya menipu keadilan. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira pendidikan karakter seburuk apa ya, yang ditanamkan kepada para politisi dan elit negeri sehingga bisa sekejam itu kepada rakyat sendiri? hmm~

Pengetahuan tanpa karakter berhubungan dengan dosa sosial keenam yakni ilmu tanpa kemanusiaan. Ketika ilmu pengetahuan telah meninggalkan jiwa kemanusiaannya, maka bencana yang akan menjadi gantinya. Banyak manusia yang mempelajari suatu ilmu pengetahuan tanpa memperdulikan aspek kemanusiaan. Mereka mengeruk keuntungan dari ilmu yang dimilikinya hanya demi diri sendiri, tanpa memperdulikan orang lain.

Baca Juga:  Halo Kak Seto, Ide Anak Sekolah Cukup Tiga Hari itu Sungguh Ramashook

Seperti perusahaan tambang yang merusak lingkungan sekitarnya dan kemudian merugikan penduduk lokal. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia, juga tidak terlepas dari adanya praktik ilmu tanpa kemanusiaan yang disebutkan oleh Gandhi. Berbagai kasus kemanusiaan yang menimpa Indonesia seperti penculikan atau penghilangan aktivis dan kasus Novel Baswedan misalnya, yang sering kali disebut ada aktor intelektual di belakangnya, juga merupakan cerminan bagaimana jika kecerdasan dan ilmu pengetahuan berjalan tanpa didampingi oleh kemanusiaan.

Kemudian yang dosa sosial ketujuh adalah peribadatan tanpa pengorbanan. Indonesia terkenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya taat dalam beragama. Dapat dilihat dari bagaimana semua hal selalu dikaitkan dengan agama. Namun, pada realitasnya, kekejian yang mengatasnamakan agama kerap kali terjadi di negeri ini. Mulai dari terorisme, hingga diskriminasi oleh satu agama kepada agama lain sangat sering kita saksikan.

Bahkan, dari pihak negarapun seakan ikut memperkeruh keadaan ini, seperti dengan mempersulit izin untuk mendirikan rumah ibadah. Kekerasan terhadap kaum-kaum tertentu juga kerap kali terjadi dan selalu mengatasnamakan agama. Perselisihan atas nama agama seakan tiada habisnya. Padahal, agama manapun pasti mengajarkan perdamaian, bukan sebaliknya.

Nah, kan, lengkap sekali dosa sosial Indonesia ini. Tidak ada satu dosa pun yang terlewati. Apa yang disebutkan oleh Gandhi ada betulnya, tujuh dosa sosial itu menyebabkan kemerosotan kualitas kehidupan dalam bernegara. Namun, bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Indonesia bisa dibenahi dengan kerja sama dari semua lapisan negara, mulai dari rakyat biasa hingga para pejabat negara. Dari yang melarat, hingga konglomerat. Karena tanpa adanya keinginan dan upaya perubahan dari semua lapisan, segala dosa yang disebutkan oleh Gandhi akan terus terjadi dan semakin sulit untuk diampuni~

BACA JUGA Melihat Dunia dari Isi Kepala Mahatma Gandhi atau tulisan Nuraini Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
7


Komentar

Comments are closed.