Mengenal 3 Macam Tipe Pelanggan Digital Printing – Terminal Mojok

Mengenal 3 Macam Tipe Pelanggan Digital Printing

Artikel

Muhammad Ikhsan Firdaus

Digital printing merupakan sebuah bisnis penting yang mengurus banyak hajat manusia. Pelanggan dari digital printing pun rasanya cukup beragam, mulai dari pegawai kantoran, pengusaha UMKM, bahkan mahasiswa.

Kepentingan setiap pelanggannya tentu berbeda-beda. Ada yang ke digital printing cuma untuk nge-print hitam putih beberapa lembar, ada juga yang mencetak poster tugas kuliahnya, hingga banyak juga yang mau mencetak X-banner untuk kebutuhan promosi usahanya, selain itu ada juga yang mau mencetak gambar di mug, pin, dan media kaca lainnya.

Beragamnya pelanggan yang mengunjungi digital printing, sehingga mereka memiliki ciri khas-nya masing-masing. Nah, berikut ini mari kita mengenal berbagai jenis pelanggan yang bisa ditemukan di sebuah digital printing, khususnya yang berada di Jakarta.

#1 Mahasiswa organisasi atau kepanitiaan

Tipe ini merupakan tipe yang umum ditemukan di beberapa digital printing. Kadang-kadang tipe ini datang ke suatu digital printing, belum tentu menjadi pelanggan dari digital printing tersebut. Loh, udah datang ke tempat digital printing, tapi kok belum jadi pelanggan?

Sederhana, karena kemungkinan mereka baru sebatas bertanya doang, bisa dikatakan belum tentu melakukan transaksi. Biasanya, sebelum melakukan transaksi, orang dengan tipe ini cenderung membanding-bandingkan harga di setiap digital printing. Tidak heran jika mahasiswa organisasi, atau mahasiswa kepanitiaan akan lebih memilih mengunjungi digital printing yang jauh, karena yang terpenting adalah harga murah.

Lantaran saya sendiri pernah menjadi panitia suatu event kemahasiswaan, maka saya sangat mengerti akan tipe ini. Karena memang banyak mahasiswa di suatu organisasi atau kepanitiaan yang ingin membuat banyak barang yang nggak penting-penting amat, seperti kaos, X-banner, lanyard, kartu anggota, tapi masalahnya, dananya dikit banget.

Biasanya orang dengan tipe ini juga akan merekomendasikan digital printing kesukaannya, pada junior mereka di kampus. Digital printing yang sudah bertransaksi dengan tipe ini, kemungkinan akan didatangi lagi, dan lagi.

#2 Pelanggan yang senang datang dini hari

Saya menghabiskan masa anak-anak, dan remaja saya di Samarinda. Di Samarinda, digital printing saat itu hanya buka dari pagi, sekitar pukul 8 dan tutup sekitar pukul 10 malam. Bahkan, ada juga yang buka sama dengan jam kantor, yaitu buka pukul 8 pagi, dan tutup pukul 5 sore. Saat kembali ke Jakarta, saya cukup kaget ketika menyadari bahwa digital printing di Jakarta, sanggup buka hingga 24 jam. Bahkan, saya menunjukkan kekagetan saya pada bapak saya.

“Tuh digital printing, buka 24 jam. Emang, pukul 2, 3, atau 4 dini hari, ada orang yang mau nge-print ya?” tanya saya kepada bapak.

“Kalau mereka berani buka 24 jam, ya berarti ada aja pelanggannya.” kata bapak saya.

“Iya juga, ya,” saya menjawabnya dalam hati.

Saat sedang mencetak beberapa tugas kuliah di digital printing, saya pernah iseng bertanya kepada desainer grafis, mengenai pelanggan yang mengunjungi digital printing saat dini hari. Saya sangat penasaran, apakah memang benar, ada pelanggan yang datang saat dini hari.

Kurang lebih, desainer grafis tersebut menjelaskan, saat dini hari pelanggan mereka memang tak sebanyak saat siang, sore, atau senja. Tapi, ya tetap ada. Saat dini hari, pelanggannya juga masih beragam, ada yang teridentifikasi sebagai mahasiswa, ada juga yang terlihat seperti pekerja kantoran.

#3 Pelanggan yang nggak terlalu paham dengan printilan digital printing

Saat SMK dulu, saya pernah melaksanakan program Praktek Kerja Industri (Prakerin). Lantaran saya mengambil jurusan Multimedia, maka saya melakukan Prakerin di sebuah digital printing. Saat sedang bekerja, saya sering menerima pelanggan dengan tipe ini.

“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya saya kepada salah satu pelanggan.

“Mau bikin daftar menu makanan, Mas,” jawab si bapak.

“Desainnya sudah ada, Pak?”

“Sudah.”

“Oh, baik. Ukuran kertasnya, mau yang bagaimana, Pak?”

“Waduh, biasanya berapa, ya?”

“Macam-macam, Pak. Bisa A3, bisa juga A4. Ukuran A4 itu 20cm kali 29cm, kertas yang biasa untuk fotocopy gitu, Pak. Kalau A3, lebih besar dari itu.”

“Ya sudah, A4 saja.”

“Untuk kertasnya, mau kertas yang seperti apa, Pak?”

“Terserah Mas saja, yang penting agak tebal dan awet.”

“Bisa pakai, art carton 310 gsm, nanti bisa dilaminasi, juga, Pak.”

Singkat cerita saya langsung mengatur file desain daftar menu makanan tersebut, dalam waktu yang lumayan singkat. Sampai dengan saat ini, rasanya masih sangat mudah menemukan pelanggan dengan tipe ini.

Memang harus diakui, dunia digital printing itu banyak sekali perintilannya. Jadi wajar saja, jika banyak pelanggan yang memang tidak tahu menahu akan beberapa material cetaknya. Saya pun mulai banyak mengetahui, jenis kertas, dan jenis servis di digital printing karena melakukan program Prakerin. Jika saya tidak melakukan program Prakerin, kemungkinan besar saya juga adalah pelanggan dengan tipe ini.

BACA JUGA Punya Cartridge Canon Tipe 810 dan Tipe 811 Bekas Original? Jangan Dibuang! dan tulisan Muhammad Ikhsan Firdaus lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Tipe Ibu-ibu yang Beli Jajan di Lapak Jajan Tradisional
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
6


Komentar

Comments are closed.