Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Menertawakan Propaganda Malaysia yang Disampaikan Ketua KPI

Nurfathi Robi oleh Nurfathi Robi
14 September 2021
A A
propaganda malaysia nasi kandar FAM Malaysia PSSI sepak bola Mojok

FAM Malaysia PSSI sepak bola Mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Jika Eka Kurniawan memenangi nobel sastra, tiga orang pertama yang memberikan ucapan selamat adalah panitia Nobel, rombongan yang mengantarnya ke Swedia, dan pejabat dari Dinas Pariwisata Indonesia.

Saya masih memegang keyakinan itu ketika menonton podcast Deddy Corbuzier dengan Agung Suprio. Dan saya semakin yakin bahwa pendapat saya adalah benar adanya.

Agung Suprio mengatakan bahwa serial kartun Upin & Ipin adalah propaganda Malaysia. Begitu juga dengan drama Korea dan anime Jepang. Singkatnya, keberadaan karya asing tersebut seolah membawa pesan terselubung, “Seperti ini negara saya. Bagus bukan? Jadi lupakan budaya negara anda dan datanglah kemari.” Meski bilang bahwa propaganda yang disampaikan Upin & Ipin adalah propaganda yang baik, tetap saja hal ini aneh untuk disampaikan.

Apakah tiap karya itu selalu diciptakan untuk propaganda? Jawabnya sih tidak. Ini sudah 2021, kita nggak perlu paranoid kepada semua hal.

Sering kali hal-hal asing dicitrakan datang untuk merongrong budaya kita. Upin & Ipin datang untuk membolak-balik PUEBI, oppa-oppa Korea menjadikan wayang kulit sebagai target latihan menembak, dan Mikasa Ackerman diutus dai nippon untuk beradu paras dengan Roro Jonggrang dan Ratu Kidul. Kapten Levi sedang menjalani misi rahasia: menggunakan 3D-maneuver-gear nya untuk memenggal kepala arca di Candi Borobudur.

Untung saja, para pejabat tersebut belum merasa perlu untuk merancang program yang mendorong kreativitas pocong, kuntilanak, mural, dan komunis. Sebab, saya dengar mulai tahun ini manusia serigala dan zombie juga ikut bersaing menjadi “Hantu Paling Berpengaruh di Indonesia dalam Satu Dekade.” Namun, selama kita masih enggan melihat spion di jalan sepi pukul tiga pagi, status quo hantu-hantu lokal tidak perlu dikhawatirkan sama sekali.

Kalau sudah ngomongin budaya, pasti menuding Barat—atau negara lain—sebagai pelaku dari merosotnya minat terhadap kebudayaan asli di negara ini. Kadang nggak ngaca aja kalau aslinya malas dalam melestarikan. Pun, nggak semua hal yang impor itu buruk.

Saya baru menyelesaikan gim Sekiro: Shadow Die Twice. Apakah saya langsung ingin pergi ke Jepang dan jadi ninja? Tentu saja tidak. Siapa pula yang mau hidup di zaman yang perang bisa pecah kapan pun dan masyarakat menggunakan takhayul untuk menyelesaikan setiap masalah?

Baca Juga:

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

3 Hal di Malaysia Ini Membuat Saya Ingin Jadi The Next Susanti!

Dalam karya entah itu sastra, musik, film, dan video gim, apakah si seniman punya maksud dan tujuan terselubung itu tidak pernah penting. Menafsirkan pesan adalah tugas dari si penikmat karya tersebut. Jadi, Mas Agung, propaganda Malaysia yang Anda maksud muncul dari cara berpikir Anda sendiri.

Cara berpikir yang demikian sebenarnya justru menghambat kreativitas anak bangsa. Untuk bersaing dengan budaya asing, seniman kita dituntut membuat garis yang sama, bentuk yang sama, tekstur yang sama, titik yang sama, warna yang sama, pesan yang sama, bahkan karya yang sama. Tinggal tambahkan batik, gamelan, genderuwo dan voila! Jadilah sebuah karya “asli” anak bangsa yang jadi mengusung kepentingan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Nah, ini sebenarnya maksud dari paragraf pertama. Bahwa pada dasarnya, tidak ada yang peduli-peduli amat pada kelestarian kebudayaan, terutama pemerintah. Pemerintah atau orang-orang menyerahkan semuanya pada Kementerian Pariwisata dan Kemendikbud Ristek. Akhirnya, yang terjadi adalah yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya. Budaya diitung dari hasil, bukan dari proses dan pemaknaan.

Saya kira, tidak perlu membebani anak bangsa dengan tanggung jawab Dinas Pariwisata. Tidak perlu juga melanggengkan delusi bahwa kita sedang diserbu secara budaya dari berbagai sisi. Di zaman sekarang, orang bisa menyanyikan lagu Jepang sambil menggunakan kebaya atau menyanyikan campur sari sambil cosplay jadi Mai Shiranui.

Yang perlu menjadi kekhawatiran bersama adalah penggiat budaya jadi-jadian yang dikit-dikit lapor polisi jika ada karya dalam negeri yang tidak sesuai dengan standarnya. Yang perlu menjadi kekhawatiran adalah nasionalisme buta masyarakat yang gumun lihat orang Korea berpuasa. Yang perlu menjadi dikhawatirkan adalah tergerusnya nilai-nilai budaya oleh kepentingan pariwisata.

Karya-karya dalam negeri kalah saing dengan karya luar ya karena karya luar ditangani dengan baik, sesimpel itu. Birokrasinya tidak ribet. Seniman bebas mengambil referensi dari berbagai belahan dunia tanpa harus menyelipkan kearifan lokal yang tidak relevan

dengan visi si seniman.

Propaganda Malaysia yang Anda tuduhkan tak lebih dari sebuah usaha mencari kambing hitam, atau pada titik ekstrem, pengalihan isu. KPI punya masalah kan? Alih-alih menyelesaikan masalah kalian, malah mengurusi apa yang sebaiknya kalian tidak urusi. Moral, misalnya. Eh, kalian kan moral compass negara ini ya, pantes.

Toh, barang yang rusak kebanyakan disebabkan oleh kelalaian sang pemilik. Maka ketika nilai-nilai budaya semakin lama semakin merosot, apakah kita bisa menyalahkan Upin & Ipin?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2021 oleh

Tags: kpiMalaysiapropaganda
Nurfathi Robi

Nurfathi Robi

Bergabung dengan DNA E-Sports sejak 2019. Berperan sebagai analis dan samsak tinju. Bergulat di lane atas Land of Dawn.

ArtikelTerkait

5 Episode Upin dan Ipin Paling Mengharukan, Bikin Hati Terenyuh dan Banjir Air Mata Mojok.co

5 Episode Upin dan Ipin Paling Mengharukan, Bikin Hati Terenyuh dan Banjir Air Mata

26 April 2024
Sumber gambar Pixabay

Pelaku Pelecehan Seksual dan para Petinju Andal

9 September 2021
3 Episode di Kartun Upin & Ipin yang Paling Berkesan terminal mojok.co

3 Episode di Kartun Upin & Ipin yang Paling Berkesan

12 Januari 2022
Malaysia Hampir Lepas dari Middle-Income Trap, Indonesia Masih Muter di Situ-Situ Aja

Malaysia Hampir Lepas dari Middle Income Trap, Indonesia Masih Muter di Situ-Situ Aja

22 September 2024
Episode Upin Ipin yang Sebaiknya Tidak Tayang di Indonesia Mojok.co

Episode Upin Ipin yang Sebaiknya Tidak Tayang di Indonesia

2 April 2025
Wacana PNS Naik Gaji Jadi Rp9 Juta: Saran yang Perlu Dipertimbangkan agar Tepat Sasaran kenaikan gaji asn single salary ASN

Wacana PNS Naik Gaji Jadi Rp9 Juta: Saran yang Perlu Dipertimbangkan agar Tepat Sasaran

21 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan Terminal

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

15 Juli 2026
4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau Jaklingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu Mojok.co

3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu

11 Juli 2026
Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Lika-liku kurir saat mengantar paket COD ke desa, kadang jadi pahlawan, seringnya jadi pesakitan

16 Juli 2026
Menikmati hari Minggu di Sewon Alternatif wisata underrated Jogja (Unsplash)

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

12 Juli 2026
Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial yang kerap terlewatkan Terminal

Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial, tapi kerap terlewatkan

12 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.