Menebak Karakter Orang dari Komplek yang Pertama Dibeli pas Main Monopoli – Terminal Mojok

Menebak Karakter Orang dari Komplek yang Pertama Dibeli pas Main Monopoli

Featured

Ada satu permainan, unik sekali. Di dalamnya ada empat orang yang kerjaannya lompat-lompat, ngesot, atau terbang. Kalau lagi diam ada yang berdiri, duduk, tiduran, bahkan sampai kayang. Setiap orang dalam gim ini bisa melompat sampai tiga puluh lima kali untuk satu putaran! Kalau tiga puluh enam kali lompat otomatis masuk penjara. Permainan apakah itu? Yak betul… monopoli internasional saudara-saudara!!!

Monopoli sangat cocok dimainkan saat bulan puasa karena mainnya juga santai, nggak perlu lari-larian. Alur permainannya juga lambat terus aturannya juga bisa diubah-ubah sesuai kemauan pemainnya. Pokoknya ampuh buat ngusir lapar, jadi nggak kepikiran buka di siang hari.

Selain itu, monopoli juga mengajarkan saya gimana caranya dapat cuan yang besar. Biar saya kasih tau rahasianya ya. Dalam gim papan yang satu ini, pemainnya harus membeli komplek sebanyak mungkin. Jadi sangat penting buat belajar menentukan komplek apa yang mau dibeli pertama kali.

Jangan salah loh, keliru membeli komplek bisa berujung pada hutang yang menumpuk atau kebangkrutan. Kalau sudah begitu ya siap-siap saja ngahuleng, liatin orang lain main sambil nungguin keluar pemenangnya.

Setelah bergumul dalam dunia jual-beli tanah di monopoli selama saya SD, ternyata sedikit banyak saya jadi tahu karakter setiap pemain berdasarkan komplek yang mereka beli pertama kali.

Pertama ada pemain yang senang beli komplek H. Emang, sih, Afrika dan Australia bisa bikin pemain jadi juragan. Soalnya, setiap pemain yang nginep di hotelmu harus bayar 150 ribu atau 200 ribu dolar monopoli. Dan ini adalah jumlah 9-10 kali gaji setiap pemain.

Makanya golongan pertama ini terdiri dari orang-orang yang pengen cepet kaya, dapet kesuksesan dengan sedikit perjuangan. Selain itu mereka juga percaya kalau mau untung besar harus ngeluarin modal yang banyak.

Biasanya dua atau tiga orang sudah mengincar komplek H sejak awal permainan, bisa dibilang golongan pertama juga punya keberuntungan yang besar. 

Mereka adalah orang yang gigih dan pantang menyerah. Kadang, jadi yang terakhir punya hotel pun nggak masalah buat mereka. Selama Afrika dan Australia bisa didapatkan, semua itu cuma dianggap hambatan doang. 

Kedua, ada orang-orang yang jatuh cinta sama Inggris, Perancis dan Belanda.  Mereka adalah golongan manusia yang selo-selo, nggak terlalu ambis buat dapet untung. 

Soalnya satu kali nginep di komplek F harus bayar sekitar 120.000 atau enam kali gaji. Persentase kunjungannya juga kecil, artinya jarang dapet pemasukan dong. 

Golongan kedua juga bisa dibilang idealis. Apalagi jika melihat fakta jarang ada pemain yang datang ke komplek F. Kadang, ada yang sampai bangkrut karena nggak ada pemain singgah di hotelnya. 

Ketiga, ada komunitas yang suka memanfaatkan kesempatan buat merebut rezeki orang lain, yaitu para pembeli komplek D (Korea, India dan Jepang) dan E (Italia, RRC dan New Zealand).

Dalam monopoli internasional ada satu petak sakti yang jika pemain bisa berhenti di situ, maka dia bebas pindah ke mana saja, namanya parkir bebas. Nah posisinya ada di antara Komplek D dan E. Artinya setiap pemain yang gagal mendapatkan parkir bebas harus ikhlas bayar sewa hotel di komplek D dan E.

Selain itu, komplek D dan E juga letaknya setelah penjara. Jadi makin banyak orang yang masuk penjara, kesempatan dapet duit pun makin bertambah.

Dengan kata lain, orang-orang dalam komunitas ini pandai melihat peluang. Meskipun penghasilannya paling besar cuma lima kali gaji, tapi kalau banyak yang bayar, untungnya bisa lebih besar dari komplek H. 

Keempat, ada paguyuban manusia pandai berhemat, penabung ulung, sabar, juga percaya bahwa modal yang sedikit bisa menghasilkan untung yang besar selama konsisten mendapatkan keuntungan. Mereka adalah pemain yang hobi beli komplek A (Indonesia dan Malaysia).

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang harga belinya murah–cuma di bawah 10.000–serta biaya buat bangun hotel cuma 25.000. Kalau ditotal paling banyak modal yang dikeluarkan cuma 35.000 saja.

Bayarannya juga nggak gede-gede amat, paling banyak cuma tiga kali gaji. Tapi persentase kunjungannya sangat tinggi, soalnya pemain lain juga menghindari komplek H kan. Lagipula mending bayar 60.000 daripada 200.000

Padahal kalau dalam satu putaran tiga pemain nginep di hotelnya, ya untungnya sudah 210.000. 

Terakhir, ada golongan yang menganggap dirinya spesial, anti mainstream die hard fans, yaitu pemain yang membeli pelabuhan serta stasiun kereta api—bahkan sampai perusahaan listrik dan airnya sekalian.

Mereka adalah manusia penuh dengan gengsi. Urusan duit bisa dipikir belakangan, yang penting gelar “berbeda” sudah mereka dapatkan. Ya walaupun ujungnya harus bangkrut, tapi nggak jadi masalah.  

Nah begitulah karakter pemain monopoli yang bisa saya jelaskan kali ini. Sekarang mumpung masih bulan puasa, siapa yang mau main monopoli bareng sama saya?

BACA JUGA Belajar Sekaligus Mengatur Keuangan dengan Permainan Monopoli dan tulisan Gilang Oktaviana Putra lainnya.

Baca Juga:  Jangan Sombong, Jangan Sok Suci, Kita Hanya Beda Jalan dalam Memilih Dosa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.