Mencari Falsafah Hidup dari Film Anime

Meskipun tidak sampai pada tingkatan Wibu atau Otaku, tapi saya adalah anime lovers yang setia. Sejak SD hingga sekarang. Tanpa kenal zaman.

Artikel

Avatar

Sejak kecil saya adalah penggemar film-film anime. Menurut saya, film ini keren. Sebagian besar filmnya punya tema khusus serta alur cerita yang terarah jelas—nggak seperti sinetron. Meskipun tidak sampai pada tingkatan Wibu atau Otaku, tapi saya adalah anime lovers yang setia. Sejak SD hingga sekarang. Tanpa kenal zaman.

Bagi saya, anime punya dampak yang positif. Apalagi dari cerita dengan genre olahraga ataupun yang menampilkan sisi perjuangan meraih mimpi. Seperti anime yang berjudul Naruto yang ceritanya tidak hanya familiar bagi anime lovers, tapi juga bagi para manusia awam. Semua pasti tahu dan kenal dengan ninja ini.
Naruto adalah salah satu anime favorit sepanjang masa—hingga next generation-nya yang bercerita tentang anakanya Naruto, Boruto. Di sana, Naruto yang sejak kecil sudah yatim piatu, harus melewati masa-masa sulit di sekolah. Ia dibully, dikucilkan dan tidak punya teman akrab saat kecil. Kasian banget, kan?
Tapi, Naruto tidak pernah menyerah. Ia berusaha sekuat tenaga agar orang-orang mengakui kemampuannya. Ia juga bercita-cita menjadi Hokage—dalam bahasa kita mungkin semacam Presiden kali, ya? Naruto terus berjuang, melatih kemampuan ninjanya hingga merantau bersama gurunya—Jiraya. Semua dia lakukan untuk berjuang meraih cita-citanya menjadi Hokage.

Melihat perjuangan Naruto yang gigih membuat saya juga termotivasi untuk bangkit. Sungguh. Ketika saya gagal masuk perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN, saya hampir down. Menyerah dan merasa bahwa semesta tidak pernah bekerja untuk mendukung impian saya. Ceilah. Namun, akhirnya saya berusaha kembali. Saat itu dalam pikiran saya cuma satu: Naruto saja bisa bangkit dari keterpurukan masa kecilnya, masa saya nggak? Hehe.
Anime lain yang menjadi inspirasi saya adalah Kuroko No Basuke. Mulai dari season 1 hingga season 3 yang berganti judul menjadi Kuroko No Basket. Anime tersebut bercerita tentang tokoh Kuroko, seorang remaja yang sangat mencintai olahraga basket.

Baca Juga:  Merindu Ramadan di Kampung Halaman

Rasa cinta Kuroko pada dunia basket sangat murni. Ia merasa sakit hati ketika teman-teman di SMP-nya hanya menjadikan basket sebagai ajang perlombaan untuk mendapatkan skor paling tinggi. Kuroko merasa semuanya salah. Jalan hidup yang dipilih teman-teman satu timnya keliru, jauh melenceng dari visi sebelumnya.
Ia tidak lagi melihat teman-temanya yang sering disebut sebagai Kiseki No Sedai—generasi keajaiban—tertawa bahagia saat bermain basket. Mereka hanya berambisi mengejar skor saja. Tak ada kebahagiaan.

Maka, Kuroko kemudian bertekad untuk merubah dan mengalahkan mantan teman-teman Kiseki No Sedai-nya. Ia bersama Kagami Taiga—teman baru di SMA-nya—berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan semua kompetisi. Menunjukkan bahwa basket harus dimainkan dengan rasa cinta dan perasaan bahagia. Ia menunjukkan bahwa aliran basket yang dianut oleh teman-temannya selama ini adalah aliran sesat, melenceng dari ajaran dunia basket yang sebenarnya.
Akhirnya, dengan perjuangan yang tidak mudah, bersama tim-nya yang masih unyu dan baru terbentuk, Kuroko berhasil mengalahkan mantan teman-temannya di Kiseki No Sedai. Ia bersama tim-nya bahkan mampu mengalahkan Akashi Seijhuro—ketua tim basket Kiseki No Sedai yang memiliki mata dengan kemampuan melihat masa depan. Sangat-luar-biasa-sekali.

Anime lain yang menjadi favorit saya adalah Haikyuu! Mengisahkan tentang tokoh Hinata yang sangat menyukai permainan bola voli. Hmm, padahal sebelumnya bagi saya voli adalah olahraga yang tidak menarik. Tapi berkat anime ini, saya menjadi tertarik luar biasa. Bahkan hingga rela menonton di TV saat olahraga voli tampil di Asian Games.

Hinata anak yang pendek, jauh di bawah rata-rata para pemain voli lainnya yang tingginya mencapai 180-190 cm. Namun, meskipun pendek, ia tetap bercita-cita untuk menjadi Ace. Memukul bola dan menjadi bagian dari pemain inti.

Baca Juga:  Pengalaman Berpuasa dengan Teman Nasrani

Sama seperti Naruto, Hinata juga sering kena bully dari rekan sesama tim-nya, Kageyama dan Tsukishima. Hiks. Meskipun setelah itu mereka sama-sama berjuang untuk mengembalikan kejayaan tim mereka sebagai “Gagak” yang dapat mengikuti turnamen di tingkat nasional. Terbang seperti motto tim mereka, mengalahkan jawara bertahan Ushiwaka dari SMA Shiratorizawa. Semangat Hinata! Saya menunggu season selanjutnya!

Hikmah yang dapat saya ambil dari perjuangan Kuroko, Hinata dan kawan-kawannya tersebut adalah semangat pantang menyerah. Meskipun seluruh dunia meremehkanmu, akan selalu ada kesempatan untuk orang-orang yang gigih berjuang, pantang menyerah dan semangat mengejar mimpi.

Jadi, kalau kalian menemukan orang-orang yang suka sekali sama anime, jangan buru-buru menyebutnya otaku atau wibu yang tidak berguna. Bisa jadi orang tersebut seperti saya, mencari falsafah hidup dari film anime. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
329 kali dilihat

8

Komentar

Comments are closed.