Menakar Kekuatan Tokoh Kerajaan Mataram jika Jadi Karakter Gim RPG dan MOBA – Terminal Mojok

Menakar Kekuatan Tokoh Kerajaan Mataram jika Jadi Karakter Gim RPG dan MOBA

Featured

Prabu Yudianto

Memang, Babad Tanah Jawi sering sulit diterima akal sehat. Kisah di dalamnya masih penuh nuansa supranatural. Setiap tokoh digambarkan memiliki kekuatan superhuman. Rasa-rasanya, belajar kisah leluhur Jawa hanya membuat kita terjebak dalam imajinasi yang ngadi-adi.

Kisah yang penuh kekuatan tidak logis ini memang mengaburkan sejarah. Namun bagi saya, para leluhur berkekuatan overpower ini cocok dijadikan karakter dalam gim. Baik gim berbasis Role-Playing Game (RPG) atau Multiplayer Online Battle Arena (MOBA). Kurang seru apa coba, belajar sejarah di dalam gim. Apalagi bisa membelokkan sejarah. Eh.

Sebenarnya, konsep menjadikan tokoh sejarah sebagai karakter gim bukanlah hal istimewa. Sebut saja gim Dynasty Warrior. Dari Lu Bu, Chao-Chao, dan Liu Bei adalah tokoh sejarah di Tiongkok. Belum lagi hadirnya Gatotkaca dan Nyi Roro Kidul dalam gim Mobile Legend.

Jadi, apa salahnya kita memimpikan para tokoh Kerajaan Mataram sebagai karakter gim? Saya akan mencoba menakar kekuatan mereka menurut catatan sejarah. Bagaimana mereka digambarkan baik saat damai atau perang.

#1 Panembahan Senopati

Saya buka gothak-gathuk saya dari sang proklamator Kerajaan Mataram. Panembahan Senopati tidak dikenal sebagai sosok yang tangguh di medan laga. Blio lebih dikenal hebat dalam urusan strategi dan kecerdikan.

Panembahan Senopati menaklukkan dua tokoh besar Jawa melalui muslihat. Arya Penangsang tewas karena muslihat yang membuat ususnya terputus. Ki Ageng Mangir tewas karena diinjak kepalanya setelah berhasil dilucuti.

Dari kisah ini, maka Panembahan Senopati bukan karakter gim yang tangguh. Blio bukan tank yang bisa menerima serangan tanpa masalah. Passive skill Panembahan Senopati terletak dalam luck serta analisa medan tempur. Saya yakin, karakter blio akan jarang dimainkan karena memang tidak ada asyik-asyiknya.

Skill aktif Panembahan Senopati terletak di pusaka blio, Tombak Kyai Pleret. Dengan tombak ini, Panembahan Senopati akan mampu menyerang dalam area menengah. Kemampuan ini juga ditunjang kecenderungan Kyai Pleret untuk makin berbahaya ketika menghadapi musuh yang punya kanuragan atau mana point tinggi.

#2 Arya Penangsang

Selanjutnya adalah rival Panembahan Senopati. Sang penguasa Jipang Panolan ini adalah manifestasi seorang prajurit. Arya Penangsang memanfaatkan brute force serta health point yang tinggi. Terbukti, Arya Penangsang tetap merepotkan Senopati meskipun ususnya terburai.

Arya Penangsang adalah tank dalam game MOBA. Blio bisa menahan serangan fatal memanfaatkan daya tahan tinggi. Selain itu, serangan fisik Arya Penangsang juga mengerikan. Kelemahan Arya Penangsang hanyalah urusan kelihaian. Arya Penangsang bukan karakter yang pandai mengelak serta mengecoh lawan.

Kekuatan Arya Penangsang ditunjang pusaka Keris Setan Kober. Keris ini memberi damage point di atas rata-rata karakter lain. Toh, hanya setan kober yang bisa membunuh Arya Penangsang sendiri. Immovable object dan unstoppable force adalah kombinasi dalam diri Arya Penangsang. Saya yakin, karakter ini adalah pujaan hati pemain baru yang minim strategi. Karena damage Arya Penangsang memang… nggak ngotak anjir.

#3 Ki Ageng Mangir III

Lagi-lagi rival Panembahan Senopati. Ki Ageng Mangir III digambarkan sebagai bandit sakti. Alasannya, blio sering mencegat iring-iringan upeti yang menuju Kerajaan Mataram. Kiprahnya dalam membangkang eksistensi Kerajaan Mataram membuat Senopati harus memanfaatkan putrinya untuk menggoda si bandit sakti.

Mangir bukanlah karakter sekuat Arya Penangsang. Terbukti blio tewas setelah kepalanya diinjak Senopati. Mangir memanfaatkan kanuragan alias mana point untuk menguasai pertempuran. Selain itu, Mangir punya skill untuk bersembunyi di tengah medan tempur. Mangir akan berbahaya karena serangan ambush yang mendadak.

Skill tempur Mangir dipengaruhi oleh pusaka Tombak Baruklinting. Konon, tombak ini pernah melelehkan dinding Kraton Kotagede hanya karena disandarkan serampangan. Dari pusaka ini, Mangir menggunakan serangan tipe api yang mampu merusak satu area tertentu. Damage area ini akan menjadikan Mangir ancaman bagi pasukan kelas rendah dalam jumlah besar.

#4 Sultan Hadiwijoyo/Joko Tingkir

Hanya satu kata yang mampu mewakili Joko Tingkir: flamboyan. Si pencuri kain jarik bidadari ini memang menjadi simbol lelaki penuh kharisma. Setelah jadi raja Pajang, tokoh yang bergelar Sultan Hadiwijoyo ini tetap memanfaatkan pesona sebagai kekuatan utama.

Maka, kekuatan Hadiwijoyo terletak pada charisma dan segenap skill yang menunjang kekuatan tempur sekutunya. Hadiwijoyo bukanlah tokoh tangguh seperti 3 tokoh sebelumnya. Namun, charisma point yang dimiliki bisa mengubah alur peperangan.

Hadiwijoyo tidak memiliki pusaka yang identik dengan dirinya. Jadi, Hadiwijoyo tidak memiliki serangan yang khas seperti tokoh lain. Kehebatan karakter terletak pada kemampuan sebagai support unit. Dengan passive skill yang mumpuni, kehadiran Hadiwijoyo adalah support system yang sayang untuk dilewatkan.

#5 Ki Juru Mertani

Tidak berbeda dengan Hadiwijoyo, Ki Juru Mertani adalah karakter ampas dalam pertarungan. Akan tetapi, kecerdasan blio adalah sumber utama kemenangan Senopati dari rival yang lebih digdaya. Kedua tokoh rival tadi takluk karena ide cemerlang dan licik dari penasihat raja Mataram pertama ini.

Selain licik, Mertani juga mampu memainkan psikologi musuh. Terbukti saat perang melawan Hadiwijoyo, Mertani memanfaatkan bencana alam sebagai teror kepada pasukan musuh. Berdasarkan perjalanan Mertani sebagai “pemain belakang layar”, blio punya dua fungsi sebagai karakter gim: support unit serta psychic trooper.

Dengan kekuatan psychic, Mertani dapat memanipulasi pasukan musuh. Entah untuk berubah haluan atau menimbulkan chaos. Kekuatan mengerikan ini tidak menjadikan Mertani overpower. Mertani bukanlah unit tempur, sehingga Health point Mertani sangat rendah. Hanya pemain veteran yang mampu memanfaatkan potensi maksimal Mertani.

BACA JUGA Kisah Gusti Ahmad: Ayahnya Dibunuh Selir, Takhtanya Direbut Sultan HB VI, Hidupnya Diburu Sultan HB VII dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Baca Juga:  Maurizio Sarri, Si Pencetak Rekor Buruk Juventus
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
5


Komentar

Comments are closed.