Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mempertimbangkan Ucapan Penceramah yang Bilang Pandemi Hilang Kalau Habib Rizieq Pulang

Aly Reza oleh Aly Reza
31 Maret 2020
A A
habib rizieq

Mempertimbangkan Ucapan Penceramah yang Bilang: Pandemi Hilang Kalau Habib Rizieq Pulang

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau melihat data statistik persebaran virus Corona di Indonesia, rasa-rasanya panik dan sesekali parno jadi hal yang nggak bisa dihindari. Lha bagaimana mau nggak panik, faktanya saja dari data pemerintah pusat per 30 Maret 2020 sudah ada 1.414 kasus positif. Dengan rincian 122 meninggal, 75 sembuh, dan selebihnya masih dalam penanganan. Itu pun sangat mungkin bertambah meski itu bukan hal kita kehendaki.

Belum lagi dengan kenyataan bahwa dalam dunia medis, virus ini masih belum ditemukan vaksinnya. Kalau cuma DBD atau flu burung kan bisa langsung menyasar sarang-sarang nyamuk dan kandang-kandang unggas. Nah, kalau Corona, masa mau ke kandang macan? Makanya sangat wajar kalau kita semua didera kepanikan dan kebingungan serta perasaan campur aduk yang nggak tentu.

Pemerintah pun saya yakin sekarang ini berada dalam fase paling dilematis di antara dua pilihan: lock down total atau cukup dengan menggalakkan kampanye sosial distancing. Kebingungan yang pada akhirnya membuat Pak Presiden mengeluarkan pernyataan Darurat Sipil dalam rapat terbatas bersama Tim Gugus Tugas Covid-19 dari Istana Bogor kemarin.

Belum lagi ditetapkan, pernyataan Presiden itu sudah menuai banyak kritikan dari beberapa pengamat dan pakar hukum tata negara. Dilansir dari Tempo, seorang pengamat bahkan menyebut kalau opsi ini lahir lantaran pemerintah sudah nggak tahu mau gimana lagi (berbuat apa). Lari dari tanggung jawab, kurang lebih seperti itu. Ini kata si pengamat loh, ya. Bukan saya.

Gampangnya gini, masyarakat sekarang dalam situasi digantung. Lock down nggak, tapi aktivitas sosial dibatasi dalam skala lebih besar. Ya tetep aja nggak bisa ngapa-ngapain. Katanya nggak usah lock down, tapi sisi lain kita harus stay at home. Ya sama aja lock down, sih, kalau ini.

Saya jadi keinget sama argument Bang Haris Azhar dalam #ILCSimalakamaCorona Selasa (24/03) lalu, yang kalau pakai bahasa saya kurang lebih begini, “Kenapa nggak langsung tegas buat lock down? Karena pemerintah nggak mau ruwet, pemerintah nggak siap kalau harus ngurus dan memberi tunjangan hidup bagi masyarakatnya yang nggak kerja.”

Menimpakan seolah-olah pihak yang patut disalahkan hanyalah pemerintah sepertinya kok ya nggak tepat. Meskipun ada beberapa aspek yang nunjukin kalau sedari awal pemerintah emang kelihatan banget nggak seriusnya. Tapi di sisi lain, nyatanya kesadaran sebagian masyarakat kita juga masih sangat rendah. Banyak yang masih abai. Maka, satu-satunya pihak yang sudah semestinya kita tuntut dan mintai pertanggungjawaban tidak lain tidak bukan ya si virus Coroncuk Corona ini. Siapa lagi? Ini yang paling realistis.

Kalau kata temen saya, “Misale Corona iki uwong, wis mesti tak geprek terus tak jegurke kalen kulon omah” (Misalnya Corona ini manusia, sudah pasti saya geprek terus saya jorokin  ke selokan barat rumah”

Baca Juga:

Bahagianya Warga Kota Tegal Punya Walikota sang Inspirator Pembangunan

Rakyat Jogja Wajib Memaklumi Sultan yang Inkosisten Perihal Lockdown

Terus bagaimana, nih, caranya buat ngusir makhluk Tuhan paling seksi usil ini.? Hmmm di tengah kebingungan massal, Gus Prof. Nadirsyah Hosen secara nggak sadar telah membagikan tips ampuh buat mengakhiri imperialisme Corona atas Indonesia.

Lewat akun Twitternya, Gus Prof. menyampaikan ketidakhabispikirannya terhadap video berdurasi pendek seorang penceramah yang dengan menggebu-gebu berfatwa, “Virus ini datang, musibah datang pasti ada sebabnya. Tidak lain tidak bukan karena Habib Rizieq tidak boleh pulang ke tanah air. Itu sebabnya Allah murka saudara, dan mengirimkan virus ini ke Indonesia!1!1!.”

Nah, lohhhh. Jangan nethink dulu Gus Prof, di tengah kegentingan macam sekarang ini, segala kemungkinan nggak ada salahnya buat dicoba. Dan sepertinya pemerintah juga harus mempertimbangkan ucapan si penceramah tersebut sebelum bener-bener memberlakukan Darurat Sipil.

Sudah ribuan kasus positif di negeri ini. Berbagai cara sudah ditempuh yang kelihatannya juga bakal mentok. Barangkali karena rezim ini terlalu zalim, membiarkan Habib Rizieq, Imam Besar kita (eh elu aja kali) terlunta-lunta di negeri gurun. Padahal ya, dari pada mau meng-Arab-kan Indonesia, udah mending, kan, di Arab-nya yang asli. Kok ya malah ngebet pulang. Nambah-nambahin kerjaan aja.

“Astaghfirullah, jangan gitu akhi. Sadarilah, hanya karena kehadiran blio lah wabah ini bakal berakhir dari tanah air.”

Heem, eh, yhaaa. Duh, terus gimana, dong? Mumpung jumlah positif masih belum sampai angka fantastis seperti di Italia. Mumpung masih ada cukup waktu. Pak Presiden, per hari ini harus gercep mengadakan rapat dengan para menteri. Berpikir agar secepatnya memulangkan Habib Rizieq dari pelariannya masa khalwat-nya di Saudi. Itu kalau pemerintah bener-bener mau serius menyelesaikan pandemi ini dari negara kita. Biar segalanya segara pulih dan berjalan normal.

Tapi sebelum itu, ada satu pertanyaan yang sangat mengganjal di benak saya. Pertanyaan ini juga harus dipertimbangkan pemerintah sebelum keputusan memulangkan Habib Rizieq menemui kata sepakat dan diketok palu.

Pertanyaan saya, “Indonesia kena Corona gegara nggak memulangkan Habib Rizieq yang kejebak di Arab. Terus apa jangan-jangan, Arab kena Corona justru gegara…… Ah jangan dilanjut dah. Takut dosa dan kuwalat.”

Kembali ke awal aja, deh. Kalau pemerintah mau memutus mata rantai persebaran Corona di negeri ini, lock down adalah satu-satunya yang paling mungkin, Dengan konsekuensi: bersiap menggelontorkan dana yang nggak sedikit buat menunjang hajat hidup masyarakat banyak.

Atau kalau memang nggak berani, Darurat Sipil sepertinya nggak terlalu opsional mengingat sebagian masyarakat ada yang masih harus berjibaku di luar rumah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Gak kerja gak mangan eee masalahe (Nggak kerja nggak makan eee masalahnya).

Konsekuensinya, ya kita-kita ini harus jadi masyarakat yang baik. Berbagai anjuran kesehatan jangan gitu aja kita abaikan. Atas hal-hal yang bisa dikerjain dari dalam rumah, ada baiknya juga kita lakukan dari dalam saja. Percayalah, di dalam jauh lebih nikmat ketimbang di luar~

BACA JUGA Yang Terjadi Kalau Darurat Sipil Betulan Dilakukan atau tulisan  Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Maret 2020 oleh

Tags: darurat sipilhabib rizieqlockdownvirus corona
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Pengalaman Tinggal di Jenewa, Swiss di Masa Lockdown karena Virus Corona

5 April 2020
Wahai Bapak Ibu Dosen, Kenapa Sering Sekali Mengganti Jam Kuliah Online Sih? terminal mojok.co

Bapak dan Ibu Dosen, Anjuran Kampus Itu Kuliah Online Bukan Ngasih Tugas

27 Maret 2020
Betapa Pentingnya Ilmu Komunikasi buat Pejabat Negara Kita

Betapa Pentingnya Ilmu Komunikasi buat Pejabat Negara Kita

23 Maret 2020
Pengalaman Saya Sidang Proposal Online karena Harus Sosial Distance

Pengalaman Saya Sidang Proposal Online karena Harus Sosial Distance

19 Maret 2020
pengalaman lockdown

Pengalaman Tidak Menyenangkan Selama ‘Lockdown’ di Wall Maria

1 April 2020
Yuk Sama-Sama Siaga Sebelum Virus Corona Memasuki Indonesia!

Yuk Sama-Sama Siaga Sebelum Virus Corona Memasuki Indonesia!

29 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.