Membedah Sistem Kemitraan OYO dari Sudut Pandang Pemilik Hotel – Terminal Mojok

Membedah Sistem Kemitraan OYO dari Sudut Pandang Pemilik Hotel

Artikel

Dessy Liestiyani

Beberapa waktu lalu, #oyobikinrugi sempat bikin heboh warganet. Ternyata banyak kisah yang tidak mengenakkan dialami nggak cuma dari para konsumen, namun juga mitra bahkan para pegawai OYO sendiri.

Saya jadi teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu, ketika tim OYO datang ke hotel kecil saya dan menawarkan kerjasama menjadi mitra mereka. Awalnya saya berpikir, OYO adalah salah satu Online Travel Agent (OTA) yang memiliki sistem dan cara kerja yang sama dengan OTA lainnya. Intinya, menjual kamar hotel dengan sistem komisi. Namun ternyata, OYO menawarkan sesuatu yang berbeda kepada para mitranya. Sebenarnya cukup menarik. Tapi ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya kala itu.

Pertama, OYO adalah jaringan hotel

OYO menampilkan dirinya sebagai “the world’s fastest growing hotel chain”. Kalau diterjemahin artinya “jaringan hotel dengan pertumbuhan tercepat di dunia.” Sebagai “jaringan hotel” berarti startup tersebut bukan OTA lho…OYO lebih bisa dikatakan sebagai Virtual Hotel Operator (VHO). Salah satu yang membedakannya adalah OYO melakukan rebranding di properti yang bersangkutan, seperti penempatan logo, melengkapi amenities, dan hal lainnya.

Menurut bisnis.com, properti-properti di bawah OYO akan mengadopsi model “manchise” (management and franchise), di mana kendali dan manajemen akan dipegang penuh oleh OYO. Ritesh Agarwal, sang pendiri, menceritakan niatan awalnya yang ingin membantu hotel di lingkungannya menjadi lebih baik.

Hotel yang terlihat sepi pengunjung, dijualnya secara online dengan tampilan yang menarik. Berbagai renovasi pun dilakukannya, mulai dari hal kecil seperti mengganti bohlam lampu, menambahkan figura, bantal, sampai merenovasi bangunan hotel sesuai dengan standar yang diinginkannya. Tidak heran kalau hotel kecil, penginapan kecil, sampai pemilik rumah biasa namun kosong tapi punya kamar banyak, bakalan tertarik untuk menjadi mitra.

Selain itu, dengan status sebagai jaringan hotel level internasional, pastinya strategi marketing dan promosi OYO bakalan yahud punya. Belum lagi, channel penjualan online OYO ternyata terintergrasi dengan marketplace lainnya seperti Traveloka, Pegipegi, dan marketplace lainnya. Artinya, OYO juga menjual properti mitranya melalui OTA selain dari websitenya sendiri.

Baca Juga:  Mengungsi ke Hotel saat Listrik Padam adalah Kemewahan yang Sulit Kita Lakukan

Kedua, sewa jangka panjang

Tidak hanya merenovasi, OYO juga memberikan minimum guarantee bagi pemilik properti. Pengertian sederhananya, minimum guarantee adalah uang jaminan yang diberikan OYO kepada mitranya, sebagai uang sewa properti dalam jangka panjang. Sudah direnov, masih dikasih duit pula tiap bulan. Dari sisi pemilik hotel, perjanjian kerjasama OYO yang baku seperti ini dapat menguntungkan, tapi dapat juga merugikan.

Keuntungannya adalah pemilik usaha akan tetap mendapatkan pemasukan dari penjualan kamar, walaupun saat itu sedang low season. Pengalaman saya, salah satu waktu low season yang pasti dialami oleh semua bisnis perhotelan adalah saat bulan puasa. Okupansi memang akan membaik pada saat libur lebaran. Namun pada bulan Ramadhan biasanya okupansi sangat rendah dan membuat hotel merugi. Dengan menjadi mitra OYO, pemilik hotel tidak perlu khawatir lagi dengan pendapatan saat low season tersebut.

Namun klausul ini juga memiliki beberapa kerugian. Pertama, mitra hotel kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar saat high season, karena propertinya telah disewa oleh pihak OYO dalam jangka panjang. Umumnya, dalam setahun bisnis hotel akan mengalami high season minimal dua kali, yaitu pada saat libur lebaran dan tahun baru. Belum lagi saat liburan anak sekolah, atau hari-hari libur kejepit.

Kedua, mitra hotel tidak bisa melakukan seleksi terhadap tamu. Pihak hotel tentunya memiliki peraturan dan SOP tersendiri, yang belum tentu sama dengan OYO. Belum tentu juga pihak OYO bisa menyeleksi tamu sesuai keinginan hotel. Misalnya, peraturan hotel yang hanya menerima pasutri dengan surat nikah, atau peraturan yang mengharuskan anak usia lebih dari 12 tahun menggunakan ekstrabed, dan lain-lain.

Jadi kesimpulannya, apakah hotel diuntungkan atau malah dirugikan dengan menjadi mitra?

Menurut saya, semuanya tergantung dari prioritas dan tujuan masing-masing. Dari beberapa pemilik penginapan yang saya ajak ngobrol, saya menemukan beberapa jawaban yang menarik. Ada yang bergabung dengan karena tertarik kepastikan pendapatan tetap yang bakal diterima setiap bulan, sementara biaya operasional bisa ditekan seminimal mungkin.

Baca Juga:  5 Cara Reservasi Hotel Beserta Untung-Ruginya

Ada juga yang ingin memanfaatkan kekosongan propertinya sementara sang pemilik bisa melakukan bisnis lainnya. Tidak sedikit lho orang yang saya kenal mengalokasikan duitnya untuk membangun properti khusus untuk OYO. Karena menurut perhitungan bisnisnya, menjadi mitra pasti untung.

Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi mitra. Saya tidak ingin ada pihak lain yang ikut campur dalam manajemen hotel saya. Belum tentu prinsip bisnis dan standar layanan mereka bisa sejalan dengan kebijakan perusahan saya kan.

Memang OYO akan merenovasi interior dan eksterior hotel menjadi lebih menarik. Namun dengan meningkatnya fasilitas dan kenyamanan, para mitra tidak bisa komplain bila harga kamar dijual di bawah standar harga yang seharusnya. Berbeda dengan OTA dimana pihak hotel sendiri yang memegang kendali atas penjualan kamar, baik dari jumlah dan jenis kamar, maupun harga.

Membaca beberapa kasus di #oyobikinrugi, sukses bikin ngeri saya sebagai pemilik properti hotel. Penghapusan minimun guarantee akibat wabah covid jelas bikin pihak hotel makin terpuruk. Justru perjanjian pembayaran tetap itulah yang menurut saya menjadi faktor penentu hotel mau menjadi mitra atau tidak.

Semoga seiring dengan membaiknya kondisi pandemi ini, permasalahan yang timbul di antara OYO dengan konsumen maupun mitranya juga bisa cepat terselesaikan.

BACA JUGA 6 Duo Presenter Paling Lucu Sepanjang Sejarah Pertelevisian Indonesia dan tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
9


Komentar

Comments are closed.