Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Membangun MRT di Surabaya Memang Ideal, tapi Kurang Masuk Akal

Tiara Uci oleh Tiara Uci
22 Agustus 2022
A A
Membangun MRT di Surabaya Memang Ideal, tapi Kurang Masuk Akal Terminal Mojok

Membangun MRT di Surabaya Memang Ideal, tapi Kurang Masuk Akal (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya menulis artikel ini sambil duduk di dalam Suroboyo Bus yang sepi, tenang, dan busnya berjalan pelan-pelan. Jika ingin menikmati Kota Pahlawan tanpa kegaduhan, barangkali Suroboyo Bus layak dijadikan pilihan. Kalian nggak perlu khawatir kekurangan tempat duduk apalagi berdesak-desakan lantaran busnya sepi.

Selain Suroboyo Bus, Surabaya juga punya moda transportasi publik lainnya yang diberi nama Trans Semanggi. Sayangnya, kondisinya tak jauh berbeda. Meskipun nggak bisa dibilang kosong melompong, tapi penumpangnya ya juga sepi.

Di tengah situasi tersebut, Wali Kota Surabaya mewacanakan pembangunan Mass Rapid Transportation (MRT). Mengutip berita dari Jawa Pos, Wali Kota Surabaya mengatakan jika blio sudah berdiskusi dengan pakar di beberapa universitas di Surabaya terkait kemungkinan pembangunan MRT yang sesuai dengan kebutuhan warga Surabaya. Masih menurut Wali Kota, MRT adalah pilihan ideal transportasi publik di Surabaya.

Sebagi orang yang mendambakan bisa melakukan aktivitas harian dengan transportasi publik yang terintegrasi dan ekonomis, seharusnya saya senang mendengar Wali Kota Surabaya yang menggebu-gebu akan mewujudkan MRT. Sayangnya, saya justru skeptis dengan wacana tersebut.

Sebenarnya Wali Kota Surabaya nggak keliru juga, sih. Kenyataannya, MRT memang menjadi transportasi publik paling ideal karena mampu mengangkut orang dalam jumlah yang banyak. MRT juga memiliki jalur atau rel sendiri yang memungkinkan transportasi publik model ini terbebas dari kemacetan jalanan dan efektif dari segi waktu. Masalahnya, mewacanakan MRT di saat transportasi publik yang ada di Surabaya saat ini masih semrawut sama halnya dengan berusaha menggenggam angin alias kurang masuk akal.

Ide membangun MRT karena melihat kegagalan Suroboyo Bus dan Trans Semanggi yang sepi penumpang juga terkesan nggak memahami akar masalah yang dihadapi kedua moda transportasi tersebut. Faktanya, kedua bus tersebut sepi penumpang bukan semata karena warga Surabaya malas dan nggak suka naik bus atau pengin naik kereta. Melainkan karena kedua transportasi publik tersebut belum mampu memenuhi syarat transportasi publik yang efisien dan ekonomis.

Suroboyo Bus dan Trans Semanggi rutenya masih terbatas sehingga nggak menjangkau seluruh wilayah Surabaya, waktu tempuhnya pun lama lantaran bus sering terjebak macet karena harus berbaur dengan kendaraan pribadi lainnya, dan jadwal bus nggak pasti. Jika ingin melihat lebih banyak lagi keluhan dan saran terkait kedua moda transportasi tersebut, Wali Kota Surabaya bisa sowan ke Instagram Transport for Surabaya.

Sekali lagi, bukannya saya nggak mau melihat Surabaya punya MRT, ya. Namun, wacana pembangunan MRT di Surabaya ini sebenarnya bukan ide yang baru-baru amat. Sekitar 10 tahun lalu, Bu Risma (Wali Kota Surabaya saat itu) sudah pernah menjanjikan hal serupa. Sayangnya, selama dua periode kepemimpinan, blio belum berhasil merealisasikannya. Padahal sama seperti wali kota saat ini, dulu Bu Risma juga sudah berdiskusi dengan semua pihak terkait MRT. Bahkan blio dengan tegas menolak bus dari Kemenhub dengan dalih Surabaya nggak butuh bus dan akan membangun MRT.

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Hal tersebut sekaligus menjawab pertanyaan banyak orang mengapa di saat Jakarta punya TransJakarta, Jogja punya Trans Jogja, dan Semarang punya Trans Semarang, Surabaya nggak punya Trans Surabaya. Hal ini bukan karena Kota Surabaya nggak diajak “nongkrong bereng” oleh pemerintah pusat dan kota-kota lain ya, Rek, tapi Surabaya memang nggak mau ikutan. Suroboyo gitu lho, kudu seje! Lucunya, pada akhirnya Surabaya malah membuat Suroboyo Bus dan sekarang juga punya Trans Semanggi.

Saya bukan ingin mengatakan Bu Risma nggak berjuang untuk mewujudkan MRT di Surabaya, lho, ya. Mungkin saja blio sudah mati-matian merayu pemerintah pusat dan stakeholder terkait untuk memberikan bantuan pendanaan, tapi nggak berhasil. Sebab, MRT memang butuh biaya yang nggak sedikit. Boleh dibilang pembangunan MRT memakan biaya yang paling besar dibandingkan pembangunan transportasi publik lainnya seperti BRT dan LRT. Sebagai gambaran, berikut saya lampirkan perbedaan rincian biaya per km untuk moda transportasi BRT, MRT, dan LRT yang diambil dari Jurnal Transportasi Multimoda Balitbanghub vol. 19 Tahun 2021:

Jurnal Transportasi Multimoda
Jurnal Transportasi Multimoda

Meskipun memiliki kapasitas tampung yang lebih besar, MRT juga memakan biaya pembangunan yang lebih tinggi. Ini baru masalah biaya pembangunan, belum lagi subsidi yang harus diberikan setiap tahunnya. Jika melihat pengalaman dari Jakarta, subsidi MRT mencapai sekitar Rp400 miliar per tahunnya. Memangnya Surabaya sudah siap dengan anggaran transportasi segede itu? Ini baru soal biaya, belum persoalan pembebasan lahan untuk relnya, lho.

Pertanyaan berikutnya yang tak kalah penting, jika Wali Kota Surabaya yang saat ini menjabat nggak terpilih kembali pada Pemilu mendatang, apakah upaya pembangunan MRT di Surabaya akan tetap dijalankan?

Hal-hal teknis seperti itu tentu harus dijawab sejak awal atau sebelum proyek MRT resmi dilakukan. Sebagai rakyat, kami sudah bosan dengan janji yang muluk-muluk dan tak kunjung terealisasikan. Sekadar mengingatkan, janji Pemkot terkait feeder yang akan beroperasi di awal tahun ini saja belum terlaksana, lho, padahal kalender 2022 sudah hampir mau berakhir.

Kalau boleh memberi saran, membangun BRT sebenarnya lebih masuk akal untuk Kota Surabaya, baik dari sisi biaya maupun kesiapan infrastrukturnya. Tapi dengan catatan, BRT yang sesungguhnya ya, maksud saya yang punya jalur khusus. Bukan seperti Trans Semanggi apalagi Suroboyo Bus yang saat ini beroperasi di Surabaya.

Jika merujuk pengertian dari Institute for Transportation Development Policy (ITDP), BRT adalah sistem bus canggih yang memiliki jalur sendiri di dalam kota. Jalur khusus BRT berguna agar bus tersebut tepat waktu, efisien, dan nggak ikutan mandek ketika jalanan di perkotaan macet. Artinya, semua moda transportasi di Indonesia termasuk Surabaya yang mengaku BRT tapi nggak memiliki jalur sendiri, ya bukan BRT namanya. Sebut saja mereka hanya bus kota dengan tambahan halte.

Konsekuensi dari pembangunan BRT memang akan memangkas jalur yang saat ini digunakan kendaraan pribadi. Bagi saya hal tersebut bukan masalah besar, ha wong memang tujuannya agar orang beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi publik, kan?

BRT lebih masuk akal diterapkan di Surabaya karena transportasi ini juga fleksibel, jumlah kapasitasnya bisa disesuaikan kebutuhan. Hal ini tentu saja cocok diterapkan di Surabaya mengingat warga Surabaya belum punya kebiasaan dengan transportasi umum. Takutnya kalau Surabaya langsung bangun MRT dan keluar uang banyak tapi MRT-nya sepi, rakyat lagi yang disalahin.

Namun, jika memang benar ingin membangun MRT, boleh dong sebagai rakyat jelata kami menguji keseriusan Pemkot untuk memperbaiki transportasi publik di Surabaya dengan memberikan perhatian pada empat hal ini dulu:

Pertama, Suroboyo Bus dan Trans Semanggi bisa dibuat agar terintegrasi satu sama lain.

Kedua, membangun halte dan memperbanyak rute atau koridor kedua bus tersebut.

Ketiga, menambahkan feeder (bisa bekerja sama dengan perusahaan bemo untuk upgrade bemonya agar nyaman) serta memberikan sopir bemonya gaji bulanan. Fungsi feeder (dalam hal ini bemo) untuk menjangkau area yang nggak tercover Suroboyo Bus dan Trans Semanggi.

Keempat, integrasikan angkutan darat tersebut dengan angkutan sungai yang baru-baru ini diwacanakan Pemkot Surabaya.

Jika empat hal tersebut berhasil dilaksanakan dengan baik di Surabaya, barulah mimpi membangun MRT  agak masuk akal terdengar di telinga rakyat. Setidaknya, rakyat melihat keseriusan Pemkot dalam upaya memperbaiki transportasi publik di Surabaya dari apa yang sudah ada. Jangan mak bedunduk mewacanakan MRT yang justru terkesan gimik politik menjelang Pemilu.

Akhir kata, hal paling penting yang kerap dilupakan juga oleh pejabat saat membuat program adalah nggak menjadi suri teladan bagi rakyat. Jika ingin warga Surabaya beralih ke moda transportasi publik, ada baiknya Wali Kota Surabaya beserta jajarannya—termasuk anggota DPRD—bersedia memberi contoh kepada rakyat dengan rajin menggunakan transportasi publik sejak dini. Percayalah, rakyat nantinya pasti akan ikutan juga, kok.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Transportasi Publik di Surabaya Dibuat Sekadar untuk Gimik Politik.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2022 oleh

Tags: jawa timurmrtpilihan redaksiSurabayatransportasi publik
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Teror Mistisisme Jawa Bikin Warga Jogja Selalu Narimo Ing Pandum terminal mojok.co

Teror Mistisisme Jawa Bikin Warga Jogja Selalu Narimo Ing Pandum

7 Oktober 2021
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah

9 Januari 2026
Fortuner Pajero Memang Bikin Arogan, tapi Jangan Dimusnahkan (Unsplash) jember

Surat Terbuka untuk Bupati Jember: Jember Nggak Butuh Pajero Baru, Butuhnya Perbaikan yang Menyeluruh!

16 Agustus 2023
Sisi Lain Kursi Indomaret yang Nggak Disadari Orang: Lebih Nyaman dari Kursi Pijat, Bisa untuk Menghilangkan Stres Juga

Sisi Lain Kursi Indomaret yang Nggak Disadari Orang: Lebih Nyaman dari Kursi Pijat, Bisa untuk Menghilangkan Stres Juga

16 Juni 2024
3 Dosa Pedagang Rawon di Surabaya yang Merugikan Wisatawan (Pexels)

3 Dosa Pedagang Rawon di Surabaya yang Mengecewakan dan Merugikan Wisatawan

20 Juli 2025
Jalan Raya Ngawi Solo, Jalan Paling Menyiksa Pengendara di Jawa Timur

Jalan Raya Ngawi Solo, Jalan Paling Menyiksa Pengendara di Jawa Timur

9 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan Mojok.co

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan

25 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.