Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Memanfaatkan Empati Publik, Menjadi Pengemis (Kapitalis) Gaya Baru

Aliurridha oleh Aliurridha
29 November 2019
A A
Memanfaatkan Empati Publik, Menjadi Pengemis (Kapitalis) Gaya Baru
Share on FacebookShare on Twitter

Kitabisa.com pada awalnya adalah platform yang sangat berguna untuk membangkitkan empati masyarakat untuk peduli pada sesamanya. Ia digunakan untuk menggalang dana secara online untuk kalangan masyarakat yang terkena musibah. Namun makin ke sini penyalahgunaannya semakin terlihat memunculkan pengemis jenis baru, pengemis digital.

Saat ini banyak sekali masyarakat yang mulai menggunakan kitabisa.com sebagai solusi untuk mendapatkan uang dengan cara menjual kisah sedih. Hal ini sah-sah saja jika itu memang benar terjadi. Namun ada juga oknum yang memanfaatkannya untuk memudahkan kehidupan mereka seperti biaya pernikahan, melunasi cicilan motor, atau bahkan mendapatkan keuntungan pribadi.

Dulunya saya mengira hanya selebritis yang bisa mendapatkan sumbangan biaya nikah sponsor untuk pernikahannya. Kini seiring berjalannya waktu banyak sekali yang mulai menggunakan platform digital untuk penggalangan dana. Seperti halnya pasangan yang menggunakan platform Kita Bisa untuk penggalangan dana biaya menikah.

Tidak main-main yang diminta oleh pasangan ini adalah biaya pernikahan sejumlah 200 juta rupiah. Ini sih bukan karena tidak mampu tapi hanya ingin pesta meriah tanpa harus bekerja keras untuk mewujudkannya. Rupanya mereka terinspirasi dari para selebritis yang menggalang dana menggunakan sponsor hingga ditayangi live di televisi. Tampaknya masyarakat mulai sadar dan mulai mencoba peruntungan untuk mengumpulkan dana lewat cara ini.

Ada juga yang menggunakan platform ini untuk melunasi cicilan motornya yang seketika menjadi viral. Meskipun orang mampu dan mengaku masih sehat, pria bernama Yono ini dengan isengnya menggunakan platform ini untuk meminta dana sumbangan motor. Bukannya sumbangan yang didapat namun sumpah serapah netizen +62 yang didapatkannya.

Baik Yono maupun pasangan yang menggalang dana nikah itu tidak berhasil mengumpulkan rupiah yang cukup. Mungkin Yono hanya iseng saja, tapi pasangan yang mengumpulkan dana nikah itu lebih serius. Sialnya sampai tiga bulan mereka hanya berhasil mengumpulkan 300 ribu rupiah. Mereka sebaiknya belajar dari Cak Budi yang berawal lewat kitabisa.com akhirnya berhasil mendirikan Yayasan Suisba Peduli. Tentu saja bukan untuk keuntungan pribadi.

Cak Budi yang viral di tahun 2017 itu berhasil mengumpulkan 1,2 miliyar rupiah, 560 juta masuk rekening pribadi, dan 700 juta masuk rekening kitabisa. Namun saat itu ia viral bukan karena prestasinya. Tapi, karena Cak Budi ini membeli mobil Fortuner dan iPhone 7 lewat uang hasil penggalangan dana untuk membangun rumah sanggah yang akan digunakan untuk para lansia. Ia adalah salah satu dari sekian banyak oknum yang dianggap menyalahgunakan platform ini untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Setelah diserang oleh berbagai pihak yang menganggapnya menyalahgunakan hasil sumbangan tersebut, ia kemudian mengklarifikasikan bahwa mobil Fortuner itu ia beli guna memudahkan dirinya untuk menjangkau wilayah pedalaman dan iPhone 7 ia tukar tambah dengan hanphone pribadinya untuk memudahkan ia mengambil foto dan video untuk kegiatan sosialnya. Waktu itu ia mengatakan lewat akun Instagram pribadinya @cakbudi_ bahwa duit hasil penggalangan dananya bukan disalahgunakan hanya belum disalurkan.

Baca Juga:

Live TikTok Tampilkan Adegan Orang Tua Diguyur Bukan Hiburan melainkan Penyiksaan

Menebak Motif Rakyat Indonesia Malas Bayar Pajak, tapi Rajin Donasi

Tidak lama setelah itu Cak Budi yang terus tertekan akhirnya menjual mobil fortuner itu dan menyalurkan bantuan sebesar 1,7 miliar seperti yang ia tawarkan. Saat ini Cak Budi telah terbukti sukses membantu para lansia. Lewat akun Instagram-nya @cakbudi_official dan akun Youtube-nya cakbudiofficial ia kerap membagikan kegiatannya. Namun tidak lagi viral seperti saat ia dituduh menyalahgunakan dana tersebut. Manusia memang lebih senang membicarakan keburukan orang daripada kebaikannya.

Terlepas dari apa yang Cak Budi lakukan, kemunculan platform crowdfunding telah banyak memproduksi pengemis jenis baru, pengemis digital. Karena apa yang dilakukan oleh mereka banyak yang kesal dengan platform crowdfunding  Hal ini diakibatkan platform ini mewadahi munculnya berbagai penggalangan dana yang oleh beberapa oknum dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Hal ini tentu saja membuat resah masyarakat.

Pemanfaatan empati publik untuk keuntungan tentu saja bukan hal baru. Telah banyak acara televisi berbentuk reality show yang memanfaat empati publik untuk menaikkan ratting, Sebagai contoh kontes menyanyi yang dibalut dengan kesengsaraan masyarakat miskin yang terlilit hutung menjadi salah satu acara paling digemari. Acara reality show (ini beneran nggak sih?) yang ditayangkan di stasiun televisi, telah sukses dalam menjual penderitaan masyarakat miskin.

Acara ini sukses mengumpulkan begitu banyak sponsor dengan menjual cerita sedih rakyat miskin yang terlilit hutang untuk menyanyi demi melunasi hutang mereka. Acara yang dikemas dengan memadukan kompetisi menyanyi dan kisah-kisah pilu orang-orang terlilit hutang sukses mengundang empati massa. Sebagai sarat untuk melunasi hutang para peserta diharuskan menyanyikan sebuah lagu yang akan dikomentari oleh ketiga juri. Dua juri inti dan satu juri tamu.

Sebelum tampil biasanya profil para peserta ditampilkan dalam sebuah layar di belakang panggung. Beragam masalah peserta, kerasnya hidup, hingga berbagai cerita menyayat hati ditampilkan. Ditambah dengan host yang pandai memberikan tekanan dalam kata-kata agar terkesan dramatis. Belum lagi laku fisik dan mimik wajah yang meyakinkan.

Setelah profil ditampilkan, peserta menyanyikan lagu yang akan dinilai oleh juri. Di babak ini peserta terbaik pilihan juri akan maju ke babak bonus. Dan buat peserta yang gagal akan diberikan uang sejumlah dua juta rupiah, sementara utang mereka umumnya jauh di atas itu. Hal ini semakin menarik rasa iba penonton sehingga menjadi acara dengan rating tinggi yang kemudian menarik berbagai sponsor.

Acara-acara reality show (serius ini beneran nggak sih?) seperti ini memang mahir menghubungkan sinopsis antar neuron di bagian otak yang bertanggung jawab dalam memproses empati dengan menggunakan narasi yang hebat. Seperti yang diungkapkan oleh Harari dalam bukunya 21 Lessons for 21st Century bahwa manusia tidak berfikir berdasarkan fakta, angka, ataupun persamaan seperti dalam rumus-rumus matematika namun dengan narasi. Narasi yang baik ketika diceritakan berulang-ulang kemudian dikemas dengan branding yang menarik akan berubah menjadi kebenaran.

Sebagai contoh Coca-cola yang menjadi sponsor untuk acara olahraga di mana sering sekali muncul dalam iklan acara olahraga membuatnya sering disalahtafsirkan sebagai minuman sehat. Padahal meminum Coca-cola justru akan membuat kita overweight hingga menderita diabetes. Hanya karena yang menjadi model iklan adalah atlit muda dan sehat, ganteng dan cantik maka yang tertananam dalam pikiran penonton seolah-olah Coca-cola adalah minuman sehat.

Dengan cara kerja yang sama empati yang merupakan sifat alami manusia, dimanipulasi oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan. Uang hadiah atau sumbangan yang didapat oleh orang-orang miskin atau menderita ini tidak akan pernah sebanding dengan yang diterima pemilik acara. Kemiskinan dan kisah-kisah pilu memang sangat laku sangat laku untuk meningkatkan rating acara televisi. Tidak ada dagangan yang lebih baik dari kemiskinan dan kisah-kisah pilu penderitanya.

Nilai keuntungan dari sponsor tidak akan pernah sebanding dengan khas yang masuk ke kantong para pelaku. Seorang yang menjual kemiskinan sebagai barang dagangannya tidak ada bedanya politisi yang menyembunyikan kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan rakyat.

BACA JUGA Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Masuk Akal! atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 November 2019 oleh

Tags: Cak Budikitabisapengemis digitalpengemis online
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Tahu Diri!

Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Masuk Akal!

5 November 2019
Menebak Motif Rakyat Indonesia Malas Bayar Pajak, tapi Rajin Donasi Terminal Mojok.co

Menebak Motif Rakyat Indonesia Malas Bayar Pajak, tapi Rajin Donasi

9 Maret 2022
Live TikTok Tampilkan Adegan Orang Tua Diguyur Air Bukan Hiburan melainkan Penyiksaan Terminal Mojok

Live TikTok Tampilkan Adegan Orang Tua Diguyur Bukan Hiburan melainkan Penyiksaan

6 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

12 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Polban, “Adik Kandung” ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

18 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.