Memandang Jakarta Kali Pertama

jakarta

jakarta

Siapa sih yang gak pengen ke Jakarta? Ibu kota negara cum kota paling metropolitan dengan segala kemegahan yang tak terkira. Mereka yang belum menginjakkan kaki di Jakarta, tentu punya impian memandangi ratusan gedung tinggi dan jalan layang yang saling tumpang tindih itu. Termasuk saya, yang akhirnya punya kesempatan menjejakkan langkah di Jakarta untuk kali pertama. Fully funded lagi. haha

Selasa pagi dua pekan lalu pukul sembilan waktu Jakarta, pesawat yang saya tumpangi dari Makassar bakal segera mendarat. Dari angkasa, di balik jendela kapal udara, saya hendak melihat ke bawah, meneropong luasnya kota Jakarta. Tapi, seperti yang sempat viral dibincangkan khalayak Twitter, langit Jakarta diselimuti kabut tebal polutan. Jarak pandang terbatas, deretan atap bangunan tampak samar.

Di bandara, hal yang pertama saya lakukan dengan gawai adalah mengecek kualitas udara Jakarta. Benar, aplikasi itu menunjukkan betapa tidak sehatnya udara akibat polusi di mana-mana. Bagi saya yang baru dua bulan sembuh dari penyakit paru-paru, tentu dibikin was-was. Masker jadi solusi satu-satunya. Toh mau bagaimana lagi, gak mungkin kan saya harus berhenti bernafas? Bisa mati bosque. Pilihan terakhir, serahkan sama yang di atas saja.

Kegiatan yang saya bakal ikuti selama empat hari ke depan lokasinya di Depok. Otomatis, menuju Depok ya harus lewat Jakarta. Selama di perjalanan, jiwa kampunganku menggelora. Satu per satu penunjuk jalan dan tulisan di gedung pencakar langit saya baca dengan seksama. Kata kebanyakan orang sih, mereka yang baru berkunjung di kota besar dan pandai membaca, bakal membaca keras-keras setiap nama toko atau perusahaan yang terpampang di bagian depan bangunan. Pertanda saya memang benar-benar kampungan. Duh.

Nah, namanya juga baru pertama kali, begitu gembira dan sumringahnya saya melihat gedung DPR/MPR yang selama ini hanya bisa ditonton lewat pesawat televisi. Pikirku, enak banget ya aktivis tukang demo di sini, bisa seenak udelnya orasi dan bakar ban di depan gedung para wakil rakyat. Suaranya bisa langsung terdengar, meskipun ya biasanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Apalagi kalau wakil rakyatnya lagi pakai headset sambil nonton yutub, gak bakal masuk bro.

Masih memandang kanan-kiri, dari dalam jendela Avanza yang melaju di atas tol dalam kota, lagi-lagi kabut polusi memberi kesan tersendiri bagi saya. Dari kejauhan, kabut itu membuat deretan puncak gedung pencakar langit nampak samar. Sudah pada mirip Burj Khalifa yang di Dubai sana rupanya. Kota Jakarta pun saya anggap seperti Kirigakure, Desa Kabut Tersembunyi di serial Naruto. Mudah-mudahan gak ketemu sama tujuh pendekar pedang legendaris hasil Edo Tensei si Kabuto. Amin.

Tiga hari menatap langit Depok, ternyata sama saja. Terletak di pinggiran Jakarta, kualitas udara tetap tidaklah sehat. Siang hari, langit biru berubah kelabu. Matahari bersinar dibalik kumpulan asap keabu-abuan. Malam hari, gelap menggelayut. Sinar bulan terhalangi, bintang apalagi. Saya kemudian berpikir, jadi bucin di Jakarta susah amat ya. Apalagi mereka yang lagi LDR-an.

Bikin gombalan dengan modal ilmu astronomi jadi gak memungkinkan. Misal yang kayak begini. Si cowok tinggal di Makassar, terus menggombal, “Sayang, semoga kerinduanku tersampaikan lewat sinar bulan dan bintang yang sama-sama kita pandangi malam ini”. Si cewek yang di Jabodetabek pun membalas, “Maaf sayang, rinduku dan rindumu terhalang polusi”. Nasib ya nasib. Sabar ya. Hihihi.

Satu hari terakhir di Jakarta saya habiskan dengan sedikit berkeliling menemui beberapa kawan. Keliling di Jakarta bikin saya pusing, gara-gara terlalu banyak kendaraan dan orang berlalu lalang. Apalagi dari satu tempat ke tempat lain, jalanan yang harus dilalui punya banyak percabangan.

Beruntungnya, transportasi publik lumayan bagus. Meskipun pertama kali naik busway, saya justru kesasar. Maunya ke arah Senen, malah naik bus tujuan Harmoni. Mutarnya jauh sekali, sampai saya tertidur dengan mulut menganga di dalam busway. Semoga bapak-bapak yang di samping saya waktu itu tidak sempat menjepret dan mem-viral-kan di media sosial. Kan gak enak sama keluarga di kampung. Niatnya ke Jakarta baik-baik, malah berakhir jadi trending di twitter. Hahaha. Gara-gara peristiwa kesasar itu, saya hampir saja jadi gelandangan di Jakarta. Di titik inilah, aplikasi ojek online punya andil tersendiri.

Saya juga sempat menikmati kepadatan gerbong KRL. Bagi kalian yang baru pertama kali di Jakarta dan bakal mencoba KRL, siapkan kuda-kuda terkuat. Naik di jam-jam para pekerja pulang kantor, bikin gerbang jadi sesak. Kalau tidak dapat tempat duduk, tentu harus berdiri. Apesnya, pas berdiri malah kehabisan pegangan. Mau tidak mau, mengandalkan kedua kaki agar berdirinya seimbang.

Di sinilah fungsi kuda-kuda terkuat itu. Saat kereta hendak bergerak atau berhenti, hentakannya bikin tubuh ikut bergerak. Nah, tanpa kuda-kuda, kalian bakal terdorong ke depan dan menghantam tubuh orang lain. Masalah bisa timbul kalau orang tersebut jengkel akibat terhantam badan kalian. Bisa-bisa, kalian dihantam balik pas perhentian selanjutnya. Jangan sampai terjadi acara baku hantam di KRL. Cukup di kolom komentar saja. Hahaha.

Secara keseluruhan, Jakarta masihlah yang terbaik. Dari segala sisi, belum ada kota yang bakal menandingi kemegahan kota yang dulunya bernama Batavia ini. Tentu saja, sampai ibu kota baru pengganti Jakarta usai dibangun. Saya pun masih belum berfoto di bawah Monas yang berkabut. Semoga bisa ke sana lagi, sebelum monumen nasional dan udara polutan diangkut ke Kalimantan. (*)

BACA JUGA Kenapa Nggak Ada Presiden Indonesia yang Lahir di Jakarta? atau tulisan Andi Ilham Badawi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version