Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

Arief Rahman Nur Fadhilah oleh Arief Rahman Nur Fadhilah
21 Agustus 2026
A A
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Respons pertama kawan-kawan langsung kaget ketika tahu saya yang kelahiran Surabaya ini harus merantau ke Medan. Bagaimana tidak, di media sosial berseliweran “keseruan” warga yang hidup di sana. Mulai dari konten pengendara saling maki di jalan hingga video kelakuan rayap besi yang di luar nalar. 

Setahun merantau di Medan, saya bisa mengonfirmasi gelar tadi memang layak disematkan ke Kota Para Ketua ini. Bukan karena orang-orangnya, melainkan karena institusinya. Penegakan hukum setengah-setengah dan aparatnya tidak berdaya. Sama seperti Gotham City yang pada akhirnya mengandalkan pahlawan bertopeng untuk menjadi penyelamat. Hanya bedanya, di Medan tidak ada Batman.

Walaupun saya menemukan kawan-kawan terbaik selama di sana, dengan berat hati saya harus mengakui kalau saya sangat lega dan bersyukur akhirnya pulang ke Surabaya. Kota Medan tidak pernah benar-benar serius diurus dan setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan bukti. 

Ketika pertama kali mendaratkan kaki di Medan, saya langsung disuguhi adegan laga mencekam. Dalam perjalanan menuju hotel, terdapat dua juru parkir yang saling berebut mobil untuk diparkirkan di lahan kekuasaannya. Teriakannya yang diikuti dengan makian khas Medan menggema. 

Entah setan mana yang merasuki mereka, tiba-tiba saja keduanya sudah hampir adu jotos. Beruntung pikiran mereka langsung teralihkan karena tidak lama berselang, datang mobil lain yang hendak parkir. Parkir di lahan yang bahkan bertuliskan “dilarang parkir”.

Parkir liar tumbuh subur di Medan dan Dishub membiarkannya

Ternyata selama satu tahun menghuni Kota Medan, pemandangan tadi bukan jadi yang terakhir kalinya. Lahan-lahan yang tidak seharusnya digunakan sebagai parkiran sangat mudah ditemui. 

Saking banyaknya, malah mungkin lebih mudah ditemui ketimbang Indomaret dan Alfamart. Perlu saya tegaskan, yang saya persoalkan bukan orangnya, melainkan tempatnya. Sering kali keberadaannya tidak tahu tempat. Misal, di depan RS Murni Teguh dari Jalan Veteran sampai ke Jalan Timur. 

Jalan itu cukup ramai karena menghubungkan Jalan Irian Barat dan Jalan H.M. Yamin, dan selalu macet ketika jam pulang kantor. Kondisi yang sudah parah makin dibuat ruwet dengan sejumlah parkir liar di sepanjang ruas jalan. 

Baca Juga:

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Selain bikin jalan semakin sempit, hak pejalan kaki juga kena embat lantaran trotoarnya ikut dipakai. Yah, semoga saja tidak ada ambulans yang harus lewat di jam-jam ramai.

Saya tidak yakin keberadaan parkir liar bisa segera hilang dari Bumi Medan. Karena seringkali pengendara tidak punya pilihan lain untuk parkir di tempat yang tidak seharusnya. 

ADVERTISEMENT

Mirisnya, tidak jarang saya lihat mobil Dinas Perhubungan melewati parkir-parkir liar tersebut dan tidak ada tindakan apa-apa. Bahkan, beberapa kali saya sempat melihat orang Dinas Perhubungan malah mencoba mengatur lalu lintas di jalan sempit yang terdampak tadi daripada mencoba menertibkannya. Edan.

Tunawisma di mana-mana, Dinsos entah kemana

Di antara semua kota yang pernah saya kunjungi, paling mudah menemukan tunawisma di Medan. Terlihat hampir di setiap sudut kota. Orang tua berpakaian lusuh berjalan tanpa arah, seorang ibu bersama bayinya yang duduk dengan tatapan kosong di bawah lampu merah, dan yang paling membekas, remaja sebatang kara tanpa alas kaki yang tidur di pinggiran toko. 

Setiap mengunjungi gerai ayam cepat saji di depan kos daerah Adam Malik, makan siang saya selalu ditemani seorang remaja tunawisma. Dia tidur meringkuk di sebelah mesin drive thru. Padahal jelas dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 tertulis fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. 

Awalnya saya mau berhusnuzan. Mungkin sebetulnya Dinas Sosial Kota Medan punya program untuk mengatasi masalah ini. Namun, semakin dipikir, malah semakin tak masuk akal.

Saya menetap di tengah kota dan masih melihat tunawisma sebanyak itu. Remaja tadi masih meringkuk di tempat yang sama setiap kali saya makan di sana. Jadi, beneran jalan nggak sih program mereka?

“Rayap besi” menggerogoti Kota Medan

Saya pikir maling besi di Surabaya sudah barbar. Rupanya final boss-nya ada di Medan. Videonya berseliweran di internet dan itu saja sudah cukup jadi bukti seberapa parah kondisinya. Yang masih membuat saya kagum adalah keberanian, kecepatan, dan ketepatan mereka bekerja. 

Saking seringnya mendengar cerita soal mereka, lirik lagu parodi itu kadang masih terngiang di kepala saya “di antaraku dan besi… di antaraku dan besi…”

Beberapa kali saya memergoki langsung mereka beraksi di siang bolong dan dilakukan di tempat ramai seperti jalan raya utama. Tidak tanggung-tanggung, objek curiannya di level aset negara mulai dari kursi taman, kabel listrik, sampai tiang listrik. 

ADVERTISEMENT

Mereka ini seringkali mencuri pagar dari rumah yang sedang ditinggal penghuninya. Entah darimana informasinya, pokoknya mereka selalu tepat mengetahui mana rumah sedang kosong dan mana yang tidak. Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu, pulang dari liburan, halaman depan tinggal menyisakan pintu masuk ke rumah. 

Upaya-upaya untuk membuat jera “rayap besi” seringkali tidak membuahkan hasil dan malah dibalas dengan perlawanan sengit dari para pelaku. 

Seperti yang pernah viral pada tanggal 11 Juni 2026 lalu. Kejadiannya dekat sekali dengan tempat saya ngekos, tepatnya di Jalan Gatot Subroto Kota Medan depan showroom mitsubishi. Seorang personel Gegana Brimob berusaha menghentikan dua pria yang sedang memotong kabel lampu penerangan jalan. 

Bukannya kabur, salah satu pelaku malah balik menantangnya berkelahi. Masalahnya, kedatangan polisi di lokasi bukan dari patroli rutin. Melainkan laporan dari Satpam Showroom. Pelakunya pun baru diringkus keesokan harinya setelah videonya viral. 

Pihak berwenang tidak benar-benar hadir

Kalau ditarik benang merahnya, intinya satu. Institusi yang berwenang ada, namun tidak pernah benar-benar hadir menyelesaikan masalah sampai ke akar. Julukan Gotham City rasanya tidak berlebihan. Sebetulnya semua kejadian tadi bukanlah sesuatu yang baru. Masa perlu tunggu Batman datang baru bisa teratasi? Itulah alasan kenapa saya lega akhirnya pulang kampung ke Surabaya. Saya cuma bisa berharap, semoga tulisan ini tidak lagi relevan di kemudian hari. 

Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2026 oleh

Tags: Kota MedanMedanmerantauperantauanSurabaya
Arief Rahman Nur Fadhilah

Arief Rahman Nur Fadhilah

Sedang menempuh S2 Psikologi Unair sembari merantau di Medan. Penikmat sunyi yang diam-diam takut ditinggal sendiri

ArtikelTerkait

Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

17 Oktober 2023
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026
Surabaya Kota Sukses karena Punya Outlet Mie Gacoan Paling Banyak di Indonesia

Surabaya Kota Sukses karena Punya Outlet Mie Gacoan Paling Banyak di Indonesia

24 Desember 2023
Surabaya Nggak Nyaman di Mata Arek Suroboyo Sendiri eri cahyadi

2 Problem Mendesak di Surabaya yang Perlu Ditangani Eri Cahyadi ketika Terpilih Nanti

13 November 2024
3 Warmindo di Surabaya yang Selevel Kafe Kekinian (Unsplash)

3 Warmindo di Surabaya yang Selevel Kafe Kekinian

8 Desember 2024
istilah medan yang dianggap aneh di jawa mojok.co

5 Istilah Medan yang Dianggap Nyeleneh di Jawa

26 Juni 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

14 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda Mojok.co

Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda

18 Agustus 2026
5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri, bukan di Indonesia Mojok.co

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri karena lingkungan akademis Indonesia belum siap

14 Agustus 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.