Belakangan ini, ada satu notifikasi dari PLN yang bikin emosi warga Jogja, pengumuman jadwal mati listrik. Responsnya hampir selalu sama. Ada yang mengeluh, bercanda, banyak yang langsung sibuk mengecas semua perangkat elektronik.
Awalnya saya menganggap mati listrik hanya sebatas gangguan kecil. Toh paling cuma beberapa jam.
Saya bisa rebahan, ngobrol dengan tetangga, atau keluar rumah mencari angin. Namun, setelah rumah saya sering kena mati listrik, saya sadar bahwa listrik yang mati ternyata tidak berdampak sama bagi semua orang.
Banyak orang di Jogja yang kehilangan kenyamanan sampai penghasilan. Dan dari situ saya memahami satu kenyataan bahwa menjadi orang miskin ternyata mahal sekali.
Mati listrik dan tak ada pilihan
Ketika mati listrik, orang kaya punya banyak pilihan. Mereka punya power bank berkapasitas besar, genset, sampai inverter. Ada juga mobil yang bisa dinyalakan untuk menikmati AC. Mereka bisa pindah kerja di kafe yang memiliki listrik cadangan. Minimal, bisa membeli paket data tambahan ketika WiFi mati.
Sementara itu, orang miskin tidak memiliki kemewahan bernama pilihan. Mati listrik ya sudah. Kipas angin, pompa air mati, kulkas, mati mati. Pekerjaan ikut mati. Pendapatan apalagi.
Di Jogja, kita bisa melihatnya dengan mudah. Penjual es di pinggir jalan mulai cemas ketika kulkas dan freezer tidak menyala selama berjam-jam. Pemilik laundry harus menunda pekerjaan. Tukang fotokopi kehilangan pelanggan. Penjual minuman dingin melihat es batu yang perlahan mencair bersama keuntungan yang ikut mengalir pergi.
Kerugian itu mungkin tidak besar jika melihatnya dari sudut pandang orang kaya di Jogja. Namun, bagi mereka yang hidup dari pemasukan harian, kehilangan pendapatan karena mati listrik untuk setengah hari saja bisa berarti banyak hal.
Fakta orang miskin di Jogja
Yang menarik, kita sering membicarakan kemiskinan seolah hanya soal jumlah uang. Padahal, kemiskinan juga berarti tidak memiliki cadangan ketika sesuatu berjalan tidak normal karena mati listrik. Selama semua berjalan lancar, perbedaan itu mungkin tidak terlalu terlihat.
Ketika listrik menyala, semua orang bisa menyalakan kipas angin yang sama. Atau, mengisi daya ponsel yang sama. Namun begitu mati listrik, perbedaan itu muncul dengan sangat jelas.
Ada rumah yang tetap terang dan bisa bekerja dengan tenang karena memiliki genset. Lebih banyak orang miskin di Jogja yang hanya bisa duduk termenung. Meratapi pemasukan harian melayang tanpa kompensasi dari PLN.
Mati listrik membuka tabir kemiskinan
Mati listrik membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi. Ketimpangan bukan hanya soal siapa yang memiliki lebih banyak uang, tetapi juga soal pilihan ketika masalah datang.
Iklan bahwa Jogja itu nyaman masif sekali. Namun, di balik semua citra itu, ada kenyataan yang tak terlihat. Banyak aktivitas ekonomi hari ini sangat bergantung pada mati listrik.
Warung menerima pembayaran QRIS. Pekerja mengandalkan internet. Mahasiswa mengerjakan tugas melalui laptop. Pedagang menyimpan barang dagangan di kulkas. Usaha kecil menjalankan produksi dengan mesin listrik. Artinya, ketika mati listrik, yang terganggu bukan hanya lampu rumah. Aktivitas ekonomi terganggu.
Ironisnya, mereka yang paling bergantung pada pemasukan harian adalah pihak yang paling sulit mengantisipasi mati listrik. Mereka tidak punya genset. Duit dari mana mau beli genset kalau sehari-hari saja tidak pernah cukup.
Penderitaan tak pernah sama
Makanya, saya agak tersenyum ketika mendengar anggapan bahwa mati listrik adalah penderitaan yang sama. Secara teknis memang benar. Tetapi, dampaknya tidak pernah benar-benar sama.
Sama seperti hujan yang turun ke seluruh kota, tetapi tidak semua orang memiliki atap yang sama kuat. Banyak yang menderita, ada pula yang tetap nyaman, kering, dan tidur nyenyak.
Maka, mati listrik menunjukkan kenyataan yang faktual di Jogja terkait kemiskinan. Kehidupan di Jogja ini timpang sekali. Mungkin daerah lain juga merasakan fakta yang sama.
Mati listrik akhirnya bukan hanya soal listrik. Ia menjadi pengingat bahwa masalah yang sama tidak pernah dibayar dengan harga yang sama oleh semua orang.
Bagi orang miskin, mereka hanya bisa menunggu dan meratap. Untuk orang kaya, kehidupan masih bisa terus berjalan.
Itulah pelajaran paling terang yang saya pahami. Bahwa menjadi miskin berarti harus menanggung biaya paling mahal dari masalah yang tidak kita ciptakan sendiri.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
